Tukang Sayur Nekat Masuk Asrama TNI AD, Ternyata Bukan Orang Sembarangan
Seorang penjual sayur keliling asal Sragen berani masuk ke asrama TNI di Timika, ternyata bukan orang sembarangan.
Prajurit TNI AD di Papua bertemu dengan seorang pria penjual sayur keliling yang nekat masuk asrama TNI di Timika, Papua. Pria tersebut mengendarai sebuah motor, dengan mengenakan kaos yang ditutup dengan kemeja.
Namun, kaos yang dipakai pria tersebut bukanlah kaos sembarangan. Kaos itu adalah identitas sebuah komunitas pendekar di Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Identitas kaos itu sampai membuat prajurit TNI terheran-heran. Ia bahkan mengatakan jika pria tukang sayur keliling tersebut adalah saudaranya. Simak ulasan lengkapnya sebagai berikut.
Tukang Sayur Masuk Asrama TNI
Momen itu terekam dalam sebuah video di channel Youtube AL VIGEST. Dalam video tersebut, terlihat seorang pria berbadan gempal penjual sayur keliling yang berani masuk ke asrama TNI dengan menggunakan sepeda motor.
Pria itu diketahui berasal dari Sragen, Jawa Tengah, dan bekerja menjadi tukang sayur selama 4 tahun di Papua. Di sana ia terbiasa menjual sayuran kepada warga hingga prajurit TNI di dalam asrama.
Namun, ternyata pria penjual sayur itu bukanlah orang sembarangan. Identitasnya tercermin dari kaos yang ia kenakan. Hal itu disadari oleh prajurit TNI yang mengetahui bahwa kaos yang dipakai oleh penjual sayur itu bertuliskan PSHT.
PSHT adalah singkatan dari Persaudaraan Setia Hati Terate, sebuah organisasi pencak silat yang didirikan di Madiun, Jawa Timur.
“Kaosnya itu lo, spill kaonya. Saudara saya ini. Pendekar asal Madiun ini,” ucap prajurit TNI.
4 Tahun Tidak Pulang ke Kampung
Diketahui, pria tukang sayur asal Sragen itu mengatakan baru pertama kali merantau ke Timika dan langsung memilih untuk berjualan sayur. Sebelumnya, ia belum pernah jualan sayur sama sekali.
“Belum pernah, baru ini,” ucapnya.
Ia mengaku bahwa memiliki sejarah panjang sampai akhirnya memilih Timika sebagai tempat perantauannya. Salah satunya adalah karena ada banyak saudara yang sudah merantau ke Timika.
Ia juga mengaku sudah 4 tahun tidak pulang sama sekali ke kampung halamannya. Hal itu dilakukan untuk mencari nafkah dan sesuap nasi untuk masa depan di kampungnya, Sragen.
“Diajak saudara sampai sini. Saudara pulang saya tetap di sini. (selama 4 tahun) belum pulang sama sekali,” pungkas penjual sayur.