Tanaman Asli Indonesia Ini Ternyata Disebut Dalam Al-Quran dan Sudah Dipakai Sejak Zaman Kuno
Eksplorasi tanaman kamper (Dryobalanops aromatica), yang disebut dalam Al-Quran.
Air kafur disebutkan dalam Al-Qur'an sebagai minuman untuk penghuni surga.. Apa sebenarnya air kafur tersebut? Banyak ulama meyakini bahwa air kafur merujuk pada ekstrak dari tanaman kamper atau kapur barus.
Tanaman dengan nama latin Dryobalanops aromatica ini tumbuh subur di Indonesia, khususnya di wilayah Barus, Sumatera Utara. Perdagangan kamper dari Barus telah berlangsung selama berabad-abad, menghubungkan Nusantara dengan dunia.
Aroma khas dan khasiatnya yang dipercaya mampu menyembuhkan berbagai penyakit, menjadikan kapur barus komoditas berharga yang diperdagangkan hingga ke Timur Tengah.
Dryobalanops aromatica: Harta Karun dari Nusantara
Keistimewaan air kafur juga dijelaskan dalam firman Allah di Surah Al-Insaan ayat 5-6, menegaskan keindahan dan kenikmatan yang menanti di surga.
اِنَّ الْاَبْرَارَ يَشْرَبُوْنَ مِنْ كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُوْرًاۚ عَيْنًا يَّشْرَبُ بِهَا عِبَادُ اللّٰهِ يُفَجِّرُوْنَهَا تَفْجِيْرًا
Innal-abrāra yasyrabūna min ka'sin kāna mizājuhā kāfūrā(n). 'Ainay yasyrabu bihā 'ibādullāhi yufajjirūnahā tafjīrā(n).
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan akan minum (khamar) dari gelas yang campurannya air kafur, (yaitu) mata air (dalam surga) yang diminum oleh hamba-hamba Allah dan dapat mereka pancarkan dengan mudah.
Beberapa ulama kemudian mengaitkan air kafur yang disebut dalam Al-Insaan itu dengan ekstrak tanaman kafur.
Dryobalanops aromatica atau yang lebih dikenal sebagai kapur barus, bukanlah sekadar tanaman biasa. Pohon besar ini menghasilkan minyak dan kristal kamper yang memiliki aroma khas yang kuat dan menyegarkan.
Aroma inilah yang telah memikat manusia sejak zaman dahulu kala, menjadikan kapur barus sebagai komoditas perdagangan yang sangat berharga. Keunggulan kapur barus telah diakui secara internasional.
Selain perdagangan, kapur barus juga memiliki peran penting dalam berbagai aspek kehidupan. Dari pengobatan tradisional hingga penggunaan dalam kosmetik dan pewangi, kapur barus telah dimanfaatkan berabad-abad lamanya.
Penggunaan tradisional kapur barus sangat beragam, mulai dari meredakan nyeri, peradangan, hingga sebagai obat sakit mata, sakit gigi, sakit perut, dan rematik.
Lalu bagi masyarakat Mesir Kuno, kamper menjadi andalan untuk mengawetkan jenazah. Para Firaun yang sudah meninggal diawetkan dalam wujud mumi menggunakan kamper. Cara demikian membuat jasadnya bisa utuh ribuan tahun.
Perjalanan Panjang Kapur Barus: Dari Nusantara ke Dunia
Bukti sejarah menunjukkan perdagangan kapur barus telah berlangsung sejak abad ke-1 Masehi. Para pedagang dari Timur Tengah, khususnya Arab, menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan kapur barus berkualitas tinggi dari nusantara.
Penulis dan ahli geografi Arab, seperti Ibn Al-Faqih dan Ibn Sa'id al Magribi, telah mencatat keberadaan dan kualitas kapur barus dari Barus dalam catatan perjalanan mereka. Hal ini menunjukkan betapa luasnya jaringan perdagangan kapur barus dan betapa terkenalnya Barus sebagai pusat perdagangan rempah.
Perdagangan kapur barus tidak hanya menghasilkan keuntungan ekonomi, tetapi juga berperan penting dalam menyebarkan budaya dan agama Islam di Nusantara. Para pedagang Arab yang datang ke Barus untuk membeli kapur barus juga turut menyebarkan ajaran Islam kepada penduduk setempat.
Kamper Alami vs. Kamper Sintetis: Perbedaan yang Penting
Saat ini, kamper mudah ditemukan di pasaran, baik dalam bentuk alami maupun sintetis. Penting untuk memahami perbedaan antara keduanya. Kamper alami berasal dari Dryobalanops aromatica. Sedangkan kamper sintetis diproduksi secara kimia, seringkali dari naftalena atau paradichlorobenzene.
Meskipun memiliki aroma yang mirip, kamper sintetis dapat berbahaya jika tertelan atau terhirup dalam jumlah banyak. Kamper alami, umumnya lebih aman, meskipun tetap perlu diperhatikan takaran penggunaannya.
Dryobalanops aromatica lebih dari sekadar tanaman penghasil kamper. Ia adalah saksi bisu perjalanan sejarah perdagangan rempah-rempah, jembatan budaya antara Timur dan Barat, dan simbol kekayaan alam nusantara.