Nabi Muhammad SAW ke Langit ke-7 saat Isra Miraj dengan Jasad atau Hanya Ruh?
Pada peristiwa Isra Mi'raj, Nabi Muhammad SAW diangkat oleh Allah ke langit ketujuh untuk menerima perintah sholat.
Isra Mi'raj merupakan peristiwa menakjubkan yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW. Kisah Isra Mi'raj ini tercantum dalam Al-Qur'an dan hadis, sehingga menjadi sumber pembelajaran bagi umat Islam.
Peristiwa ini terjadi pada malam yang penuh berkah, di mana Nabi SAW diperjalankan oleh Allah dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsa. Setelah itu, beliau diangkat ke langit ketujuh untuk menerima perintah sholat. Seluruh rangkaian peristiwa ini berlangsung dalam satu malam yang singkat.
Dalam perjalanan tersebut, Nabi Muhammad SAW menggunakan kendaraan yang sangat cepat bernama Buraq, yang digambarkan sebagai seekor kuda putih. Namun, pertanyaan yang sering muncul adalah apakah perjalanan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW ini melibatkan jasad, ruh, atau keduanya?
Untuk menjawab pertanyaan ini, berikut adalah ulasannya yang dikutip dari NU Online.
Isra Mi'raj Menurut Sayyidah Aisyah
Salah satu versi mengenai peristiwa Isra' dan Mi'raj yang berbeda dari riwayat lainnya adalah yang disampaikan oleh Sayyidah Aisyah. Dalam penjelasannya, Aisyah menyatakan bahwa kejadian tersebut hanya melibatkan ruh Rasulullah, sedangkan jasadnya tidak turut serta. Riwayat ini tercantum dalam karya Imam Ibnu Ishaq, dalam kitab Sirah-nya:
حَدّثَنِي بَعْضُ آلِ أَبِي بَكْرٍ: عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا كَانَتْ تَقُولُ: مَا فُقِدَ جَسَدُ رَسُولِ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ وَلَكِنّ اللّهَ أَسْرَى بِرُوحِهِ
Artinya: "Telah bercerita kepadaku sebagian keluarga Abu Bakar, dari Aisyah RA bahwa sesungguhnya ia telah berkata: "Jasad Rasulullah SAW tidak diberangkatkan, tetapi Allah SWT hanya memperjalankan ruhnya." (Ibnu Ishaq, Sirah Nabawiyah libn Ishaq, [Beirut, Darul Kutub Ilmiah: tt], juz I, halaman 274).
Selain riwayat dari Aisyah, terdapat juga riwayat lain yang menyatakan bahwa Isra' dan Mi'raj terjadi dalam mimpi, tanpa melibatkan jasad Rasulullah. Hal ini terlihat dari jawaban sahabat Abu Sufyan ketika ditanya mengenai perjalanan Rasulullah pada saat Isra':
قَالَ ابْنُ إسْحَاقَ: حَدّثَنِي يَعْقُوبُ بْنُ عُتْبَةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ الْأَخْنَسِ: أَنّ مُعَاوِيَةَ بْنَ أَبِي سُفْيَانَ، كَانَ إذَا سُئِلَ عَنْ مَسْرَى رَسُولِ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ قَالَ كَانَتْ رُؤْيَا مِنْ اللّهِ تَعَالَى صَادِقَةً
Artinya: "Ibnu Ishaq berkata: "Telah bercerita kepadaku Ya'qub bin Utbah bin Mughirah bin Akhnas, sesungguhnya ketika Mu'awiyah bin Abi Sufyan ditanya perihal Isra' Rasulullah saw, ia menjawab bahwa hal itu adalah mimpi dari Allah ta'ala yang benar." (Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah, [Beirut, Darul Fikr: tt], juz I, halaman 400).
Meskipun terdapat dua pandangan yang menunjukkan bahwa perjalanan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad hanya melibatkan ruhnya tanpa jasadnya, riwayat dari Sayyidah Aisyah sering dijadikan sebagai rujukan utama oleh para ulama yang mendukung pendapat ini.
Dengan demikian, pertanyaannya adalah, apakah riwayat ini dapat dijadikan sebagai pijakan yang kuat dalam memahami peristiwa tersebut?
Menolak Kesahihan Riwayat Aisyah
Imam Abul Fadl Iyadh bin Musa al-Yahshubi, yang lebih dikenal sebagai Imam Qadhi Iyadh (wafat 544 H), mencurahkan perhatian khusus dalam salah satu kitabnya untuk membantah pendapat orang-orang yang beranggapan bahwa Isra' Mi'raj Nabi Muhammad hanya melibatkan ruhnya saja tanpa jasadnya. Di antara pendapat tersebut, ada yang mengacu pada Sayyidah Aisyah. Menurut Al-Qadhi Iyadh, pandangan yang dikaitkan dengan Sayyidah Aisyah tidak seharusnya dijadikan acuan, dengan beberapa alasan.
Pertama, Sayyidah Aisyah tidak menyaksikan langsung peristiwa tersebut karena pada saat Isra Mi'raj terjadi, Aisyah belum menjadi istri Nabi. Kedua, Aisyah masih sangat muda saat itu, sehingga pernyataannya tidak bisa diterima sebagai fakta yang valid.
وَأَمَّا قَوْلُ عَائِشَةَ: مَا فُقِدَ جَسَدُهُ، فَعَائِشَةُ لَمْ تُحَدِّثْ بِهِ عَنْ مُشَاهَدَةٍ لِأَنَّهَا لَمْ تَكُنْ حِيْنَئِذٍ زَوْجهُ وَلَا فِي سِنِّ مَنْ يَضْبِطُ
Artinya: "Adapun perkataan Sayyidah Aisyah, yaitu: 'Tidak diberangkatkan jasadnya', ketahuilah bahwa Aisyah tidak menceritakan nabi berdasarkan persaksiannya, karena saat itu ia bukanlah (belum) istrinya (belum menikah dengannya), juga saat itu ia masih belum baligh." (Al-Qadhi Iyadh, As-Syifa bi Ta'rifi Huquqil Musthafa, [Darul Qalam: tt], juz I, halaman 168).
Lebih lanjut, Imam Al-Qadhi Iyadh menjelaskan bahwa pada saat peristiwa tersebut, Sayyidah Aisyah berusia delapan tahun, jika merujuk pada pendapat Az-Zuhri yang menyatakan bahwa Isra' Mi'raj terjadi satu tahun setengah setelah Nabi Muhammad diangkat menjadi nabi.
Dengan alasan-alasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa riwayat yang dikaitkan dengan Sayyidah Aisyah jelas bukan berasal darinya, melainkan dari orang lain yang menisbatkannya kepadanya.
فَإِذَا لَمْ تُشَاهِدْ ذَلِكَ عَائِشَةُ دَلَّ أَنَّهَا حَدَثَتْ بِذَلِكَ عَنْ غَيْرِهَا فَلَمْ يُرَجَّحْ خَبَرُهَا عَلىَ خَبَرِ غَيْرِهَا وَغَيْرُهَا يَقُوْلُ خِلَافَهَ مِمَّا وَقَعَ نَصًّا فِي حَدِيْثِ أُمِّ هَانِئٍ وَغَيْرِهِ
Artinya: "Maka jika Aisyah tidak menyaksikan kejadian tersebut, menunjukkan bahwa riwayat tersebut berasal dari selainnya, maka tentu riwayatnya tidak bisa diunggulkan dari riwayat yang lain, sementara riwayat yang lain bertentangan dengannya, sebagaimana yang sudah menjadi nash dalam hadis yang berasal dari Ummu Hani' dan lainnya." (Iyadh, I/169).
Pendapat Sebagian Besar Ulama
Dari berbagai penjelasan yang ada, jelas bahwa mengandalkan pendapat Sayyidah Aisyah mengenai peristiwa Isra' dan Mi'raj tidak dapat diterima. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa pada saat itu, Sayyidah Aisyah belum menjadi istri Nabi SAW dan masih dalam usia di bawah baligh.
Selain itu, pendapatnya juga bertentangan dengan mayoritas ulama dan ahli hadis. Sebaliknya, mayoritas ulama, baik dari kalangan ahli hadis maupun fiqih, sepakat bahwa Isra dan Mi'raj terjadi dengan melibatkan ruh dan jasad Rasulullah SAW. Pendapat ini tercatat dalam karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani yang menyatakan:
وَقَدْ اِخْتَلَفَ السَّلَفُ بِحَسَبِ اخْتِلاَفِ الْاَخْبَارِ الْوَارِدَةِ فَمِنْهُمْ مَنْ ذَهَبَ إِلىَ اَنَّ الْإِسْرَاءَ وَالْمِعْرَاجَ وَقَعَا فِي لَيْلَةٍ وَاحِدَةٍ فِي الْيَقْظَةِ بِجَسَدِ النَّبِي وَرُوْحِهِ بَعْدَ الْمَبْعَثِ وَاِلىَ هَذَا ذَهَبَ الْجُمْهُوْرُ مِنْ عُلَمَاءِ الْمُحَدِّثِيْنَ وَالْفُقَهَاءِ وَالْمُتَكَلِّمِيْنَ وَتَوَارَدَتْ عَلَيْهِ ظَوَاهِرُ الْاَخْبَارِ الصَّحِيْحَةِ
Artinya: "Para ulama salaf berbeda pendapat (perihal Isra' Mi'raj) tergantung riwayat yang sampai. Sebagian ada yang berpendapat bahwa Isra' dan Mi'raj Rasulullah terjadi pada satu malam di waktu sadar, dengan jasad dan ruhnya setelah diangkat menjadi nabi. Pendapat ini menurut mayoritas ulama ahli hadits, ahli fiqih dan ahli tauhid, serta telah datang hadits-hadits sahih (yang berkaitan dengannya)." (Ibnu Hajar, Fathul Bari Syarh Shahihil Bukhari, [Beirut, Darul Ma'rifah: 1379], juz VII, halaman 197).
Dengan demikian, penjelasan mengenai Isra dan Mi'raj Nabi Muhammad menurut pandangan Sayyidah Aisyah dan argumen yang menolak periwayatan tersebut telah disampaikan. Semoga informasi ini bermanfaat. Wallahu a'lam.