Mengenal 'Jenderal Sampah' yang Pernah Dicap Melawan Presiden Soekarno Karena Hadapkan Meriam ke Arah Istana
Sosok 'Jenderal Sampah' yang pernah menodongkan meriam ke arah istana Presiden.
Beberapa tokoh dalam perjalanan perjuangan kemerdekaan Indonesia patut diketahui kisahnya oleh para generasi muda. Salah satunya ialah Letjen (Purn) Kemal Idris alias si 'Jenderal Sampah'.
Sepanjang karier militernya, posisinya paling penting adalah saat ia dipercaya menjabat Panglima Komando Strategi Angkatan Darat (Pangkostrad) pada 1967. Di situlah ia berperan besar dalam mendukung gerakan mahasiswa yang menentang Orde Lama.
Saat menjadi Kepala Staf Kostrad pada tahun 1966, Kemal berperan sebagai pencipta momentum dalam peristiwa ‘pasukan tak dikenal’ yang mengepung Istana pada 11 Maret 1966. Berita kehadiran pasukan tak dikenal kemudian membuat panik Presiden Soekarno dan sejumlah menterinya.
Peristiwa ini juga menjadi awal dari drama politik lahirnya Surat Perintah 11 Maret 1966. Dalam Peristiwa 17 Oktober 1952, kelompok perwira AD pernah berbeda pendapat dan berkonfrontasi dengan Presiden Soekarno.
Kemal sebagai perwira muda ditugaskan menjaga meriam. Pada saat itu, meriam yang dijaga Kemal ternyata menghadap tepat ke arah istana. Karena hal itu, Kemal kemudian dicap sebagai perwira yang menentang Presiden Soekarno dan stigma ini melekat pada dirinya bertahun-tahun lamanya.
Karier terakhir Kemal di militer adalah sebagai Panglima Komando Wilayah Pertahanan (Pangkowilhan) dengan pangkat letnan jenderal. Sebelumnya, dia menjabat panglima Komando Antardaerah untuk Kawasan Indonesia Timur.
Jabatan ini membuat Kemal menjadi cukup populer di kalangan masyarakat di sana. Pada September 1972, dia ditunjuk menjadi duta besar di Yugoslavia merangkap Yunani. Kemal adalah Dubes pertama di negara tersebut pada era Orde Baru.
Setelah pensiun dari militer, Kemal mendirikan perusahaan bernama PT Sarana Orgatama Resik (SOR) dalam bidang kebersihan kota. Ia menjadi pengusaha dan kemudian dijuluki sebagai "Jenderal Sampah", karena mengelola usaha penanggulangan sampah.
Perusahaan milik Kemal itu membawahi sekitar 700 karyawan. Dia juga diketahui aktif di Barisan Nasional (Barnas). Kemal Idris meninggal dunia pada 28 Juli 2010, karena komplikasi penyakit dan infeksi paru-paru. Ia dimakamkan secara militer di Taman Makam Majelis Taklim Raudatus Salihin, Citapen, Bogor, Jawa Barat.