Iran Punya Cara Cerdik buat Hindari Sanksi Barat, Bakal Pakai Kripto untuk Transaksi Senjata
Inisiatif ini dianggap sebagai strategi baru untuk menghindari sanksi yang diberlakukan oleh negara-negara Barat.
Pemerintah Iran kembali menarik perhatian dunia internasional setelah mengumumkan secara terbuka bahwa mereka siap menerima mata uang kripto sebagai metode pembayaran dalam transaksi penjualan senjata. Langkah ini dianggap sebagai upaya baru untuk menghindari sanksi ekonomi yang diberlakukan oleh negara-negara Barat, yang selama ini membatasi akses Iran ke sistem keuangan global.
Dikutip dari coinmarketcap pada Jumat (2/1/2026), pengumuman tersebut disampaikan oleh Defense Export Center (Mindex), sebuah lembaga di bawah Kementerian Pertahanan Iran.
Dalam pernyataannya, Mindex menyatakan bahwa mereka siap untuk melakukan negosiasi kontrak penjualan peralatan militer menggunakan aset digital, di samping skema barter dan mata uang rial Iran. Peralatan militer yang ditawarkan mencakup berbagai jenis, seperti drone bersenjata, rudal balistik, hingga kapal perang.
Pengumuman ini menjadi salah satu contoh pertama di mana sebuah negara secara terbuka menyatakan kripto sebagai metode pembayaran untuk ekspor pertahanan strategis, dan menciptakan preseden baru dalam konteks isu keuangan dan keamanan global.
Berusaha untuk Menghindari Sanksi Finansial
Selama lebih dari sepuluh tahun, Iran telah menghadapi sanksi yang ketat dari Amerika Serikat dan Uni Eropa. Sanksi-sanksi ini secara efektif telah menghalangi akses Iran ke sistem keuangan global, termasuk jaringan SWIFT, sehingga transaksi besar, terutama di sektor pertahanan, menjadi sangat sulit dilakukan melalui perbankan konvensional.
Kripto dianggap sebagai alternatif yang menarik karena sifatnya yang terdesentralisasi, memungkinkan transaksi internasional tanpa keterlibatan bank tradisional. Analis dari Center for a New American Security (CNAS) berpendapat bahwa aset digital dapat digunakan untuk menghindari pengawasan keuangan yang biasa, sehingga berpotensi mengurangi efektivitas sanksi ekonomi yang telah diterapkan selama ini.
Bagaimana Transaksi Senjata dengan Kripto Dilakukan
Transaksi senjata yang bernilai jutaan dolar dengan menggunakan kripto tidaklah sederhana. Umumnya, nilai transaksi akan ditetapkan menggunakan stablecoin seperti Tether (USDT) atau Bitcoin untuk mengurangi risiko volatilitas harga.
Selain itu, para pihak yang terlibat perlu menyiapkan dompet digital khusus dan mungkin juga menggunakan teknik penyamaran transaksi untuk menyembunyikan jejak di blockchain. Perusahaan analisis blockchain, Chainalysis, mencatat bahwa meskipun transaksi kripto bersifat transparan, penggunaan teknik berlapis dapat membuat pelacakan menjadi jauh lebih sulit.
Hal ini memberikan keuntungan bagi pihak-pihak yang ingin menghindari pengawasan yang ketat.
Ini Bukan Langkah Awal Bagi Iran
Langkah Iran dalam memanfaatkan cryptocurrency bukanlah hal yang baru. Pada tahun 2022, Iran tercatat melakukan transaksi impor resmi pertamanya dengan menggunakan kripto senilai USD 10 juta.
Selain itu, pemerintah Iran juga sedang mengembangkan mata uang digital bank sentral (CBDC). Namun, penerapan cryptocurrency secara langsung di sektor pertahanan dianggap sebagai sebuah eskalasi yang serius.
Sebelumnya, cryptocurrency lebih sering diasosiasikan dengan kelompok non-negara atau kejahatan siber. Kini, sebuah negara berdaulat mulai mengadopsi pendekatan yang sama untuk kepentingan geopolitik.
Reaksi Global dan Dampaknya
Langkah yang diambil oleh Iran menimbulkan rasa khawatir yang signifikan di berbagai kalangan. Otoritas di Amerika Serikat menegaskan bahwa kepatuhan terhadap sanksi yang ada juga berlaku dalam konteks cryptocurrency. Di sisi lain, Financial Action Task Force (FATF) diperkirakan akan meningkatkan pengawasan terhadap bursa serta penyedia layanan aset digital.
Menurut Dr. Sarah Miller, seorang pakar sanksi dari Atlantic Council, tindakan Iran bukan hanya berkaitan dengan volume penjualan senjata yang dilakukan.
"Ini lebih kepada menguji seberapa kuat arsitektur sanksi global. Iran seolah menunjukkan cetak biru yang bisa ditiru negara lain seperti Korea Utara atau Venezuela," katanya.
Hal ini menunjukkan bahwa Iran tidak hanya berusaha untuk melawan sanksi, tetapi juga berupaya untuk memberikan contoh bagi negara-negara lain yang mungkin ingin melakukan hal serupa. Dengan demikian, situasi ini berpotensi memicu ketegangan yang lebih besar di arena internasional.