Hacker Pendukung Iran dan Palestina Bobol Email Direktur FBI, Rahasianya Terbongkar
Kelompok peretas bernama Handala menyatakan pada Jumat bahwa Patel “sekarang akan menemukan namanya di antara daftar korban peretasan yang berhasil”.
Sekelompok peretas yang diduga terkait dengan Iran mengklaim berhasil mengakses email pribadi Kash Patel, Direktur Federal Bureau of Investigation (FBI), serta membagikan sejumlah foto dan dokumen miliknya ke ruang daring.
Kelompok peretas bernama Handala menyatakan pada Jumat bahwa Patel “sekarang akan menemukan namanya di antara daftar korban peretasan yang berhasil”.
Media internasional seperti Reuters dan CNN mengonfirmasi adanya pelanggaran tersebut dengan mengutip pejabat keamanan yang tidak disebutkan namanya serta sumber yang mengetahui insiden tersebut.
Namun hingga kini, pihak FBI maupun Departemen Kehakiman Amerika Serikat belum memberikan pernyataan resmi terkait kejadian ini.
Data Lama dan Aktivitas Pribadi Terungkap
Peretasan tersebut disebut mengungkap sejumlah dokumen yang sebagian berusia lebih dari satu dekade. Beberapa email memperlihatkan riwayat perjalanan serta korespondensi bisnis Patel.
Selain itu, terdapat pula foto-foto pribadi yang beredar, termasuk Patel di samping mobil sport antik, berpose dengan cerutu di mulut, hingga berdiri di depan cermin sambil memegang sebotol rum. Demikian dikutip dari Aljazeera, Sabtu (28/3/2026).
Kepemimpinan Patel Sarat Kontroversi
Kash Patel diketahui menjabat sebagai Direktur FBI kesembilan sejak 2025. Namun masa kepemimpinannya tidak lepas dari kontroversi.
Sejumlah pihak mengkritik Patel karena diduga menyalahgunakan lembaga penegak hukum federal untuk kepentingan pribadi, termasuk perjalanan serta pelaksanaan agenda yang sejalan dengan prioritas Donald Trump.
Klaim Serangan Balasan dan Eskalasi Siber
Kelompok Handala, yang mengaku sebagai kelompok peretas vigilante pro-Palestina, juga mengklaim bertanggung jawab atas serangan siber terhadap perusahaan alat kesehatan Stryker.
Menurut sejumlah peneliti Barat, kelompok ini memiliki keterkaitan dengan intelijen siber Iran. Mereka menyebut serangan tersebut sebagai bentuk pembalasan atas serangan AS-Israel terhadap sebuah sekolah anak-anak di Minab, Iran selatan, yang dilaporkan menewaskan lebih dari 170 orang, sebagian besar siswi.
Kelompok tersebut menyatakan bahwa operasi ini menandai “awal babak baru dalam perang siber”. Sementara itu, Iran sebelumnya juga telah mengancam akan meningkatkan serangan terhadap kepentingan ekonomi Barat sebagai bagian dari tekanan di tengah konflik dengan AS dan Israel.