Begini Cara Rasullulah SAW Merayakan Idul Fitri, Bisa jadi Teladan dan Contoh
Mari telusuri bagaimana Rasulullah SAW merayakan Idul Fitri yang bisa jadi pedoman bagi kita.
Rasulullah SAW mengajarkan umat Islam cara merayakan Idul Fitri dengan penuh makna, mengutamakan ibadah, silaturahmi, dan kebersamaan. Perayaan Idul Fitri bagi beliau bukan sekadar pesta, melainkan refleksi syukur atas nikmat Allah SWT setelah menjalani ibadah puasa Ramadhan.
Dari berbagai sumber, kita dapat memahami bagaimana Nabi Muhammad SAW melaksanakan berbagai amalan di hari kemenangan, memberikan contoh teladan bagi umatnya hingga kini.
Baca juga: Tata cara Sholat Idul Fitri lengkap di sini.
Perayaan Idul Fitri diawali dengan takbir yang dikumandangkan sejak malam terakhir Ramadhan hingga pagi hari Idul Fitri. Rasulullah SAW sendiri melakukannya, menunjukkan pentingnya mengagungkan Allah SWT atas nikmat yang diberikan. Takbir ini dapat dilakukan di mana saja, baik di rumah, masjid, jalan, maupun pasar, sebagai ungkapan syukur dan kegembiraan atas datangnya hari raya.
Selain takbir, Rasulullah SAW juga mengajarkan pentingnya berpenampilan terbaik di hari Idul Fitri. Rasulullah mandi, memakai wewangian, dan mengenakan pakaian terbaiknya. Ini bukan soal kemewahan, melainkan wujud rasa syukur dan penghormatan terhadap hari raya.
Hal ini juga mengajarkan kita untuk menjaga kebersihan dan kerapian diri sebagai bagian dari ibadah.
Takbir dan Shalat Id
Mengumandangkan takbir merupakan bagian penting dalam perayaan Idul Fitri menurut ajaran Rasulullah SAW. Takbir, baik takbir muqayyad (setelah shalat) maupun takbir mursal (di luar shalat), merupakan bentuk pujian dan pengagungan kepada Allah SWT. Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. mengumandangkan takbir pada malam terakhir Ramadhan hingga pagi hari satu Syawal. Anjuran ini selaras dengan firman Allah SWT dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 185.
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ
Artinya:Dan sempurnakanlah bilangan Ramadhan, dan bertakbirlah kalian kepada Allah. (QS. Al-Baqarah: 185).
Shalat Idul Fitri juga merupakan ibadah sunnah muakkad yang dilakukan secara berjamaah. Rasulullah SAW mencontohkan pelaksanaan shalat Id ini, menunjukkan pentingnya ibadah bersama sebagai bentuk ukhuwah Islamiyah. Shalat Id terdiri dari dua rakaat dengan takbiratul ihram yang lebih banyak daripada shalat fardhu.
Salah satu contoh bacaan takbir yang utama adalah,
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللهُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا لَا إلَهَ إلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا إيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ لَا إلَهَ إلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إلَهَ إلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ
(Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, juz 3, hal. 54).
Makan Sebelum Sholat Idul Fitri
Salah satu hari yang diharamkan berpuasa adalah hari raya Idul Fitri. Bahkan, dalam kitab-kitab fiqih disebutkan bahwa berniat tidak puasa pada saat hari Idul Fitri itu pahalanya seperti orang yang sedang puasa di hari-hari yang tidak dilarang.
Sebelum shalat Idul Fitri, Rasulullah saw. biasa memakan kurma dengan jumlah yang ganjil; tiga, lima, atau tujuh. Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa:
"Pada waktu Idul Fitri Rasulullah saw. tidak berangkat ke tempat shalat sebelum memakan beberapa buah kurma dengan jumlah yang ganjil.” (HR. Ahmad dan Bukhari)
Silaturahmi dan Sedekah
Silaturahmi merupakan bagian tak terpisahkan dari perayaan Idul Fitri menurut ajaran Rasulullah SAW. Beliau mengunjungi rumah para sahabatnya dan sebaliknya, para sahabat juga mengunjungi beliau. Dalam kesempatan ini, mereka saling mendoakan kebaikan dan mempererat tali persaudaraan.
Memberi sedekah juga merupakan amalan yang dianjurkan pada hari raya Idul Fitri. Rasulullah SAW mencontohkan hal ini, mengajarkan pentingnya berbagi kebahagiaan dengan sesama, terutama kepada mereka yang membutuhkan. Zakat Fitrah juga menjadi kewajiban bagi mereka yang mampu.
Silaturahmi dan sedekah ini bukan sekadar tradisi, melainkan bentuk nyata dari ajaran Islam untuk mempererat ukhuwah Islamiyah dan berbagi kebahagiaan dengan sesama. Dengan demikian, perayaan Idul Fitri menjadi momen untuk memperkuat tali persaudaraan dan membantu mereka yang kurang beruntung.
Berkumpul Keluarga dan Menjaga Kesucian Diri
Rasulullah SAW juga menghabiskan waktu bersama keluarga, menciptakan suasana kebersamaan dan kegembiraan. Beliau mengajarkan pentingnya menjaga hubungan baik dengan keluarga dan menciptakan suasana harmonis di rumah. Dalam sebuah riwayat, bahkan beliau menemani Aisyah menonton pertunjukan atraksi tombak dan tameng.
Selain itu, Rasulullah SAW juga menekankan pentingnya menjaga kesucian diri dengan bersuci dan berwudhu sebelum melaksanakan shalat Id. Ini menunjukkan pentingnya kebersihan lahir dan batin dalam menyambut hari raya. Menjaga kesucian diri merupakan bagian penting dari ibadah dan perayaan Idul Fitri.
Berkumpul bersama keluarga dan menjaga kesucian diri menjadi bagian penting dalam perayaan Idul Fitri. Hal ini mengajarkan kita untuk menghargai waktu bersama keluarga dan menjaga kebersihan diri sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT.