Ulang Tahun ke-27 Google Munculkan Logo Klasik Fenomenal, Ini Sosok Pembuatnya
Dia adalah Ruth Kedar, seniman dan desainer asal Brasil yang pertama kali bertemu dengan pendiri Google, Larry Page dan Sergey Brin, pada tahun 1998.
Jutaan orang di seluruh dunia melihat logo Google setiap hari. Namun, hanya sedikit yang tahu siapa sosok di balik desain logo sederhana namun bersejarah tersebut.
Dia adalah Ruth Kedar, seniman dan desainer asal Brasil yang pertama kali bertemu dengan pendiri Google, Larry Page dan Sergey Brin, pada tahun 1998.
Kisah pertemuan itu bermula dari sebuah kelas bela diri, yang kemudian membuka jalan bagi Kedar untuk diajak memperkenalkan gagasan desain kepada dua mahasiswa Stanford yang saat itu baru merintis perusahaan rintisan bernama Google.
Dari pertemuan tersebut lahirlah sejumlah ide visual yang akhirnya berkembang menjadi logo yang kini dikenal dunia.
Dalam wawancara dengan program Witness History yang disiarkan BBC, Kedar menceritakan bagaimana proses desain tersebut berkembang hingga menjadi bagian penting dari identitas Google.
Logo yang dirancangnya tak hanya menjadi simbol perusahaan, tetapi juga ikon budaya digital yang melekat dalam kehidupan miliaran pengguna internet.
Logo Jadi Bagian Sejarah Dunia Digital
Logo Google yang sederhana dengan kombinasi warna primer — biru, merah, kuning, dan hijau — dianggap berhasil mewakili karakter perusahaan yang inovatif, bersahabat, dan mudah diakses.
Kini, logo tersebut muncul di miliaran perangkat setiap hari, menjadikannya salah satu identitas visual paling dikenal di dunia.
“Seperti semua karya saya, proses desain selalu dimulai dengan percakapan panjang dan mendalam bersama klien. Dalam hal ini, dengan Larry Page dan Sergey Brin, untuk memahami siapa mereka, lebih jauh mengenal perusahaan yang sedang mereka bangun, siapa targetnya, serta apa tujuan dan visi mereka,” ujarnya dikutip dari blog resmi Google.
Bahkan pada tahap awal itu sudah terlihat jelas bahwa visi mereka, lanjut Ruth, bersifat jangka panjang.
Niat mereka adalah menciptakan perusahaan yang berbeda dari yang lain, tanpa ingin mengikuti pola atau pakem yang sudah ada.
“Meski masih berupa startup, mereka ingin tampil menonjol dan meninggalkan jejak secara harfiah maupun simbolis di tengah lanskap teknologi yang ada,” ungkap dia.