Siapa Ilmuwan Pertama di Dunia? Ini Jawabannya
Kisah istilah “ilmuwan” dan siapa yang layak disebut yang pertama: dari William Whewell, Francis Bacon, hingga Ibn al-Haytham dan Thales.
Manusia selalu punya rasa ingin tahu. Itulah yang membuat kita bisa mendarat di Bulan atau sekadar melakukan eksperimen konyol seperti “Florida Man”. Namun rasa ingin tahu ini juga jadi bahan bakar sains—dan para penggiatnya yang kita sebut ilmuwan. Tapi, siapa sebenarnya yang pantas dijuluki ilmuwan pertama di dunia?
Mengutip IFLScience, Selasa (15/7), banyak orang mengira ilmuwan pertama pasti nama besar seperti Plato atau Pythagoras. Nyatanya, istilah scientist sendiri baru muncul pada 1830-an. Orang yang menciptakan istilah itu? William Whewell, seorang polymath Inggris yang wafat belum sampai 160 tahun lalu.
Sebelum Whewell, orang memang sudah melakukan sains—ada ahli kimia, botanis, astronom—tapi tak ada istilah umum untuk mereka semua. Para cendekiawan mengeluh disiplin ilmu makin terpisah-pisah. Matematika terbelah jadi murni dan terapan, kimia memisahkan elektrokimia dari analisis biasa. Tidak ada kata untuk menyatukan semua cabang ilmu itu.
Pada 1834, di sebuah pertemuan British Association for the Advancement of Science, Whewell mengusulkan nama “scientist”, terinspirasi dari “artist”. Ide itu diterima di Amerika, tapi dicemooh di Inggris.
Kata “savant” dianggap terlalu Prancis, alternatif seperti “nature poker” atau “nature peeper” pun gagal. Akhirnya, mau tak mau, semua sepakat memakai “scientist”—meski Royal Society baru resmi mengakuinya setelah Perang Dunia II.
Kalau Begitu, Siapa Ilmuwan Pertama?
Kalau ilmuwan berarti “orang yang menggunakan metode ilmiah”, banyak sejarawan menunjuk Francis Bacon. Dalam bukunya Novum Organum (1620), ia mengajak orang meninggalkan spekulasi metafisika klasik dan mulai mengumpulkan data, membuat hipotesis, menguji, lalu menarik kesimpulan.
Bacon tidak menemukan semua detail metode ilmiah modern, tapi ia merumuskan semangat barunya: pengetahuan harus diperoleh lewat pengamatan dan eksperimen.
Bacon juga mengkritik pendidikan tradisional zamannya yang hanya mengutamakan membaca Aristoteles dan Alkitab. Ia mendorong pendekatan yang lebih dekat pada praktek tukang—mengamati, mencoba, dan gagal demi menemukan cara kerja alam. Karena itu, ia sering disebut bapak metode ilmiah modern.
Tapi Bacon Bukan yang Pertama Eksperimen
Namun, Bacon juga cuma memformalkan sesuatu yang sudah dilakukan. Revolusi Ilmiah di Eropa diwarnai nama-nama seperti Copernicus, Tycho Brahe, Kepler, Galileo, Descartes, dan Newton.
Galileo, misalnya, terkenal dengan eksperimen Menara Pisa untuk menguji teori kecepatan jatuh benda. Newton pun menguji cahaya dengan prisma dan bahkan—konon—menikam matanya sendiri untuk memahami optik.
Tetapi bahkan mereka bukan yang pertama. Jauh sebelum itu, ilmuwan Muslim pada Zaman Keemasan Islam sudah mengembangkan eksperimen ilmiah yang sistematis.
Ibn al-Haytham: Sang Pelopor Sains Eksperimental
Salah satu nama terbesar adalah Ḥasan Ibn al-Haytham, lahir sekitar 965 M di wilayah yang kini Irak. Dia hidup pada masa keemasan ilmu pengetahuan di dunia Islam, era yang melahirkan aljabar, algoritma, dan kemajuan astronomi serta kimia.
Ibn al-Haytham terkenal dengan Kitab al-Manazir (Buku Optik) yang merevolusi cara kita memahami cahaya. Dia membuktikan kita melihat karena cahaya masuk ke mata, bukan karena mata memancarkan cahaya.
Ia merumuskan hukum pembiasan, menganalisis pembelahan cahaya, dan bahkan menemukan prinsip kamera lubang jarum (pinhole camera). Lebih penting lagi, ia menekankan pengamatan sistematis dan pengulangan eksperimen—ciri khas metode ilmiah modern.
Profesor Jim Al-Khalili menyebut Ibn al-Haytham “ilmuwan sejati pertama di dunia”, bukan hanya karena temuan-temuannya, tetapi juga karena pendekatannya yang konsisten menggunakan data eksperimen dan prinsip reproduksibilitas.
Lalu, Ada Lagi yang Lebih Awal?
Kalau kita mendefinisikan ilmuwan sebagai “orang yang mencoba menjelaskan fenomena secara rasional, bukan supernatural”, maka kita harus mundur lebih jauh ke Yunani kuno. Di sana ada Thales dari Miletus, hidup pada abad ke-7 hingga ke-6 SM. Dia disebut sebagai orang pertama yang mencoba memahami alam tanpa mengandalkan mitos.
Thales mempelajari astronomi dan matematika, bahkan konon berhasil memprediksi gerhana matahari pada 585 SM—meski metodenya masih misterius. Teorinya bahwa segala sesuatu berasal dari air tentu salah, tapi setidaknya dia mencoba menjelaskan dunia dengan penalaran logis.
Kesimpulan: Ilmuwan Pertama Itu Siapa?
Jawabannya bergantung pada definisi. Kalau ilmuwan berarti orang yang menyandang gelar resmi “scientist”, maka William Whewell adalah orangnya. Kalau ilmuwan berarti perumus metode ilmiah, Francis Bacon layak disebut.
Kalau ilmuwan berarti pelopor eksperimen sistematis dan metode replikasi, Ibn al-Haytham sangat pantas dijuluki ilmuwan sejati pertama. Dan kalau ilmuwan hanyalah orang pertama yang berusaha menyingkirkan takhayul dalam memahami alam, maka Thales bisa jadi jawabannya.
Satu hal yang pasti: sepanjang sejarah, semangat ingin tahu manusia tidak pernah padam. Dari Yunani kuno, dunia Islam abad pertengahan, hingga laboratorium modern, hasrat untuk memahami dunia telah menjadi ciri khas umat manusia. Dan itulah yang membuat kita—semua—jadi ilmuwan pada tingkat tertentu.