Namanya Sir Richard Owen. Ia adalah sosok yang pertama kali mencetuskan istilah “dinosaurus” pada 1842. Cara yang mengubah dunia memahami makhluk purba raksasa. Meski dikenal sebagai tokoh penting dalam sejarah sains, Owen juga merupakan figur kontroversial dengan reputasi yang kompleks di kalangan ilmuwan sezamannya.
Mengutip BBCNews, Rabu (23/7), lahir di Lancaster dan menempuh pendidikan di Lancaster Royal Grammar School sejak usia sembilan tahun, Owen dikenal sejak dini sebagai anak yang cerdas, ambisius, sekaligus keras kepala.
Menurut arsip sekolah, seorang guru sempat menyebutnya “impudent” atau kurang ajar. Kepala sekolah saat ini, Dr Chris Pyle, menyebut Owen sebagai siswa yang tahu apa yang ia inginkan dan enggan mengikuti aturan, karakter yang kemudian tercermin sepanjang karier ilmiahnya.
Kontribusi terbesar Owen muncul saat ia meneliti sejumlah fosil reptil raksasa dari Inggris bagian selatan. Ia menemukan bahwa fosil-fosil tersebut memiliki karakteristik unik dan layak dikategorikan sebagai kelompok tersendiri.
Ia lalu menciptakan istilah “Dinosauria”, yang berasal dari bahasa Yunani deinos (mengerikan atau mengagumkan) dan sauros (kadal), untuk mendeskripsikan hewan-hewan purba tersebut. Peneliti dari Natural History Museum, Dr David Williams, menjelaskan bahwa istilah ini lebih bermakna “menakjubkan” daripada sekadar “menakutkan”.
Selain memberi nama dinosaurus, Owen juga berjasa mendirikan Natural History Museum di South Kensington, London, yang dibuka untuk publik pada 1881. Museum tersebut menjadi simbol dari visinya untuk menjadikan ilmu pengetahuan sebagai milik publik, bukan hanya konsumsi para akademisi. Meski ide Owen untuk mempopulerkan sains patut dihargai, perjalanan kariernya tidak lepas dari intrik dan kontroversi.
Advertisement
Tukang ‘Gelut’
Owen memiliki sejarah konflik panjang dengan sejumlah ilmuwan besar pada zamannya, termasuk Charles Darwin dan Gideon Mantell. Ia dituduh mengambil kredit atas penemuan ilmuwan lain, memanipulasi ulasan jurnal ilmiah demi keuntungan pribadi, dan bahkan menulis artikel anonim untuk menjatuhkan lawan ilmiahnya.
Perseteruannya dengan Darwin terjadi meski keduanya mendukung evolusi. Owen menolak gagasan seleksi alam dan secara aktif meremehkan karya Darwin dalam publikasi ilmiah. Dengan Mantell, ia terlibat dalam perebutan pengakuan atas fosil-fosil penting, hingga dijuluki ilmuwan yang terlalu dipuja dan dikendalikan oleh iri hati.
Meski begitu, kontribusi Owen terhadap sains tetap diakui. Ia membangun dasar-dasar klasifikasi anatomi vertebrata dan sistematika yang masih digunakan hingga kini.
“Dulu ia bekerja dengan fosil, sekarang kami pakai data genom. Tapi metodenya tetap relevan,” kata Dr Williams.
Ia menambahkan bahwa seperti banyak tokoh besar lainnya, Owen memiliki sisi gelap yang tidak bisa diabaikan, tetapi pencapaiannya tetap berdampak besar pada perkembangan ilmu pengetahuan.
Kini, lebih dari satu abad setelah kematiannya, nama Richard Owen tetap hidup dalam dunia sains dan edukasi. Museum yang ia dirikan masih menjadi pusat penelitian paleontologi dan biologi evolusi, serta menjadi tujuan wisata edukatif bagi jutaan pengunjung setiap tahun.