Riset ini Soroti Dampak E-commerce Bagi UMKM
Riset ini juga mengukur tingkat awareness penjual, loyalitas terhadap platform, serta persepsi terhadap fitur dan kampanye yang ditawarkan.
Persaingan di industri e-commerce Indonesia tak lagi hanya soal diskon besar atau jumlah transaksi. Laporan riset terbaru “E-Commerce Seller Satisfaction 2025” yang dirilis Ipsos Indonesia menyoroti pergeseran fokus: siapa platform yang benar-benar mampu memberikan kontribusi konkret terhadap pertumbuhan UMKM dan brand lokal?
“Yang menarik adalah bagaimana tiap platform mulai berlomba bukan sekadar berebut transaksi, tapi juga menunjukkan perannya dalam mendukung UMKM dan brand lokal untuk tumbuh,” ujar Andi Sukma, Executive Director Ipsos Indonesia dalam keterangannya, Sabtu (19/7).
Di situlah, lanjut Andi, sisi paling menarik dari riset kali ini yakni mengukur tingkat awareness penjual, loyalitas terhadap platform, serta persepsi terhadap fitur dan kampanye yang ditawarkan.
“Harapannya, hasil riset ini dapat memberikan gambaran komprehensif tentang lanskap kompetisi e-commerce di Indonesia, termasuk kinerja dan persepsi terhadap pemain utama seperti Shopee, TikTok Shop, Tokopedia, dan Lazada,” ujar dia.
Melalui riset yang melibatkan 350 responden UMKM dan brand lokal di seluruh Indonesia dengan metode Online Panel, ditemukan mayoritas penjual (66 persen) menyebut Shopee sebagai platform pertama yang terlintas dalam benak mereka (Top of Mind). Sementara, sebanyak 70 persen penjual menjadikan Shopee sebagai platform utama yang paling sering digunakan untuk menjalankan usaha mereka (Brand Used Most Often).
Namun, kekuatan sebuah platform sebagai mitra pilihan UMKM dan brand lokal tidak hanya diukur dari seberapa dikenal atau sering digunakan, melainkan juga dari seberapa besar loyalitas penggunanya. Hal ini terungkap dalam hasil Net Promoter Score (NPS).
Sebesar 77 persen UMKM dan brand lokal merasa yakin untuk merekomendasikan Shopee kepada pelaku usaha lainnya, diikuti Tiktok Shop 69 persen, sementara Tokopedia dan Lazada di 67 persen.
Riset mereka memperlihatkan bahwa kinerja e-commerce kini dinilai dari kemampuannya membangun ekosistem pertumbuhan. “Yang memenangkan hati pelaku usaha bukan hanya platform besar, tapi yang adaptif, membimbing, dan mampu menjadi solusi saat dibutuhkan,” tegas Andi.
Di tengah kompetisi digital yang makin kompleks, kinerja e-commerce tak cukup diukur dari trafik atau GMV (gross merchandise value) semata. Yang dibutuhkan pelaku UMKM adalah mitra pertumbuhan yang konkret.