Mengapa Manusia Tak Bisa Tinggal di Venus? Ini Alasannya
Para peneliti percaya bahwa Venus mungkin merupakan salah satu planet yang berpotensi mendukung kehidupan. Namun ternyata tak semudah itu.
Venus sering disebut sebagai saudara kembar Bumi karena kemiripan dalam ukuran, massa, kepadatan, komposisi, dan gravitasi. Meskipun planet ini sedikit lebih kecil dari Bumi dengan massa sekitar 80 persen dari Bumi, para ilmuwan percaya bahwa Venus memiliki potensi untuk mendukung kehidupan.
Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa kondisi di Venus sangat berbeda dari Bumi. Penemuan ini menantang pandangan bahwa Venus dapat dihuni oleh makhluk hidup. Dalam studi berjudul A Dry Venusian Interior Constrained by Atmospheric Chemistry yang diterbitkan dalam Nature Astronomy pada Desember 2024 oleh Tereza Constantinou dan rekan-rekannya, diungkapkan bahwa Venus tidak pernah memiliki lautan seperti yang selama ini diperkirakan oleh para ilmuwan.
Menurut laporan dari laman Space via Liputan6, pada Jumat (17/1), Tereza Constantinou, seorang ilmuwan dari Institut Astronomi Cambridge, menjelaskan bahwa air selama ini dianggap sebagai sumber kehidupan yang esensial untuk mendukung kehidupan di planet lain.
Kendati begitu, hasil penelitian terbaru menunjukkan bahwa Venus tidak menunjukkan tanda-tanda adanya air atau lautan. Dalam penelitian tersebut, Constantinou dan timnya menganalisis komposisi kimia atmosfer Venus untuk memahami kondisi permukaannya.
Hasilnya menunjukkan bahwa Venus adalah planet yang sangat ekstrem karena suhu permukaannya yang sangat tinggi. Diperkirakan, suhu di Venus mencapai sekitar 1.000 derajat Fahrenheit atau 500 derajat Celsius, cukup panas untuk melelehkan timah dan berbagai logam lainnya.
Planet ini juga dikelilingi oleh awan asam sulfat yang sangat melimpah. Constantinou mengungkapkan bahwa temuan ini membantah berbagai teori yang menyatakan bahwa Venus memiliki kemungkinan untuk mendukung kehidupan seperti di Bumi.
Hal ini disebabkan oleh suhu ekstrem yang ada di planet tersebut, yang membuat keberadaan lautan atau air sangat tidak mungkin. Sebelum penelitian ini, banyak ilmuwan berpendapat bahwa Venus pernah memiliki suhu yang cukup dingin untuk menampung air.
Mereka percaya bahwa planet itu menjadi panas akibat efek rumah kaca yang dihasilkan oleh aktivitas vulkanik. Ada pula teori lain yang menyatakan bahwa Venus tidak pernah memiliki air karena memang sudah terlahir dengan suhu tinggi.
Dalam penelitiannya, Constantinou dan tim menggunakan pendekatan kimia untuk mengukur seberapa cepat air, karbon dioksida, dan karbonil sulfida bertahan di atmosfer Venus. Penelitian ini menunjukkan bahwa material tersebut cepat hancur atau berubah menjadi uap karena panas yang ekstrem.
Atmosfer Venus didominasi oleh gas karbon dioksida (CO2) yang efektif dalam menahan panas dari Matahari, menghasilkan efek pemanasan yang signifikan. Proses ini dikenal dengan istilah efek rumah kaca, di mana gas-gas di atmosfer Venus bertindak seperti lapisan kaca yang membiaskan sinar matahari tetapi menahan panas di dalamnya.
Selain itu, tekanan atmosfer di permukaan Venus juga sangat tinggi, lebih dari 90 kali tekanan atmosfer Bumi di permukaan laut. Kombinasi suhu yang sangat tinggi dan tekanan atmosfer yang ekstrem menciptakan kondisi yang sangat tidak bersahabat bagi kehidupan seperti di Bumi, menjadikan Venus salah satu tempat paling tidak layak huni di tata surya.
Studi lebih lanjut mengenai atmosfer Venus, termasuk komposisi dan dinamika termalnya, terus dilakukan oleh para peneliti untuk memahami mekanisme yang menyebabkan suhu permukaan yang ekstrem.
Para peneliti menyimpulkan bahwa bagian dalam Venus terlalu kering, sehingga planet ini tidak akan pernah memiliki cukup air untuk membentuk lautan di permukaannya. Penelitian lebih lanjut direncanakan dengan peluncuran Misi Davinci oleh NASA pada Juni 2029, yang diharapkan dapat memberikan informasi lebih lanjut mengenai kondisi sebenarnya di Venus.
Bau yang Tak Sedap
Pada tahun 2020, para ilmuwan melakukan penelitian dan menemukan adanya jejak gas fosfin di atmosfer Venus. Fosfin, yang juga dikenal dengan nama kimia yang sama, adalah senyawa yang umumnya terkait dengan aktivitas biologis di Bumi.
Penemuan ini mengundang spekulasi mengenai kemungkinan adanya kehidupan di Venus. Namun, penting untuk dicatat bahwa bukti yang mendukung keberadaan kehidupan di planet tersebut masih belum dapat dipastikan dan memerlukan penelitian lebih lanjut.
Selain itu, bau yang menyerupai telur busuk di atmosfer Venus diduga berkaitan dengan aktivitas vulkanik yang sangat intens di planet ini. Ketika gas-gas vulkanik, seperti belerang, dilepaskan ke atmosfer, reaksi kimia yang terjadi dapat menghasilkan senyawa-senyawa yang mengandung belerang. Gas-gas ini berkontribusi terhadap aroma tidak sedap yang terdeteksi oleh instrumen di wahana antariksa yang menjelajahi Venus.