Spotify Diboikot Musisi Gara-Gara CEO Daniel Ek Investasi Jor-Joran Senjata Perang

Pengguna dan musisi di seluruh dunia mengadakan protes serta menyerukan boikot terhadap Spotify.

Iskandar
Oleh Iskandar - Reporter
Spotify Diboikot Musisi Gara-Gara CEO Daniel Ek Investasi Jor-Joran Senjata Perang
Ilustrasi Spotify. Kredit: StockSnap via Pixabay (© 2025 Liputan6.com)

Layanan streaming musik asal Swedia, Spotify, kini menjadi pusat perhatian setelah terungkapnya investasi signifikan yang dilakukan oleh CEO-nya, Daniel Ek, pada perusahaan teknologi militer.

Protes dari pengguna dan musisi di seluruh dunia pun meningkat, menyerukan boikot Spotify, yang memicu kontroversi global yang sulit dihindari.

Awal mula masalah ini berawal dari laporan yang menyebutkan bahwa Daniel Ek, melalui perusahaan modal venturanya bernama Prima Materia, telah memimpin investasi sebesar sekitar USD 700 juta atau setara dengan Rp 11,4 triliun ke dalam startup teknologi pertahanan Eropa yang bernama Helsing.

Perusahaan ini, yang didirikan di Jerman pada tahun 2021, fokus pada pengembangan sistem peperangan yang berbasis kecerdasan buatan (AI), termasuk teknologi untuk pengawasan drone di medan perang, alat keamanan siber, serta inovasi untuk pesawat dan kapal selam.

Keputusan yang diambil oleh pemimpin Spotify ini langsung mendapatkan kritik tajam. Banyak kalangan menilai bahwa langkah tersebut bertentangan dengan semangat perdamaian dan persatuan yang sering dipromosikan melalui musik.

Kontroversi ini muncul di tengah ketegangan global yang sedang berlangsung, seperti konflik Rusia-Ukraina dan krisis antara Israel dan Palestina.

Boikot Spotify: Musisi Ramai-Ramai Hengkang dari Platform Usai CEO Daniel Ek Investasi Senjata Perang
Ilustrasi Spotify. Kredit: StockSnap via Pixabay © 2025 Liputan6.com

Daniel mengungkapkan bahwa keputusannya diambil sebagai tanggapan terhadap kebutuhan mendesak untuk berinvestasi dalam teknologi mutakhir yang dapat memastikan otonomi strategis serta kesiapan keamanan di Eropa.

"Seiring dengan cepatnya Eropa memperkuat kapabilitas pertahanannya sebagai respons terhadap tantangan geopolitik yang terus berkembang, ada kebutuhan mendesak untuk investasi dalam teknologi canggih yang menjamin otonomi strategis dan kesiapan keamanannya," jelas Daniel.

Dengan adanya putaran investasi yang dipimpin oleh Daniel, nilai perusahaan Helsing telah melonjak hingga sekitar USD12 miliar, menjadikannya salah satu startup teknologi paling bernilai di Eropa.

Meskipun pernyataan tersebut tidak mampu meredakan kemarahan publik dan para musisi, gerakan boikot terhadap Spotify semakin meluas.

Sejumlah musisi independen seperti Deerhoof, Skee Mask, dan Poolroom telah menghapus karya mereka dari platform tersebut sebagai bentuk protes terhadap dukungan Daniel untuk teknologi militer.

Kritikus musik terkenal, Anthony Fantano, juga mengungkapkan kekecewaannya di media sosial. Ia meminta Spotify untuk mengalihkan dananya ke hal-hal yang lebih bermanfaat, seperti memberikan dukungan kepada para seniman dan ekosistem musik.

"Jika Anda peduli dengan musik sebagai kebutuhan budaya... kembalikan sebagian uang itu ke para seniman, bukan ke teknologi tempur," tulis Fantano.

Seruan ini mendorong banyak pengguna, terutama di Amerika Serikat, untuk membatalkan langganan Spotify Premium dan menyuarakan protes mereka di berbagai platform media sosial.

Tindakan ini menjadi pengingat bahwa keputusan bisnis yang diambil oleh para pemimpin perusahaan teknologi besar dapat memiliki dampak etis yang signifikan dan memicu respons besar dari komunitas global.

Rekomendasi