Kisah "Pohon Berjalan" di di Hutan Tropis Amerika Tengah, Ada Banyak Misteri Menarik untuk Diungkap
Pohon palem ini tampak mengikuti arah sinar matahari di dalam hutan, dengan sekitar dua belas akar yang tumbuh dari batangnya yang menjulang tinggi.
Pohon berjalan atau walking tree adalah fenomena unik yang telah menjadi objek penelitian sejak tahun 1980-an. Fenomena ini dapat ditemukan di hutan hujan tropis yang terletak di Amerika Tengah dan Selatan.
Dikenal luas, pohon ini memiliki kemampuan untuk "berjalan" dengan cara menumbuhkan akar ke arah yang diinginkan, berpindah dari tempat teduh ke area yang lebih terkena sinar matahari, sementara akar lama akan terangkat dan mati.
Penemuan ini pertama kali dicatat oleh antropolog John H. Bodley dan Foley C. Benson, yang mendalami perilaku luar biasa dari tanaman ini melalui sebuah makalah ilmiah.
Seperti yang dilaporkan oleh laman Science Alert pada Selasa (19/11), pohon berjalan yang dimaksud adalah spesies palem bernama Socratea exorrhiza.
Berdasarkan penelitian Bodley dan Benson, pohon palem yang tumbuh di wilayah timur Peru ini memiliki kemampuan untuk memperbaiki diri ketika tertimpa pohon atau ranting yang jatuh. Mereka dapat "berjalan" menjauh dari rintangan untuk menghindari titik perkecambahan mereka.
Pohon-pohon ini menggunakan sekitar selusin akar yang tumbuh dari batangnya yang tinggi untuk mengikuti arah sinar matahari di dalam hutan. Akar-akar tersebut terkadang dapat menjulang beberapa meter di atas permukaan tanah. Saat akar-akar lama terlepas atau membusuk, akar baru yang lebih muda akan tumbuh di tanah yang sedikit lebih jauh.
Pemandu wisata di hutan hujan Amerika Latin sering menjelaskan kepada pengunjung bahwa pohon palem ini dapat bergerak hingga 20 meter dalam satu tahun. Namun, klaim ini diperdebatkan oleh ahli ekologi tropis dan pakar kelapa sawit, Gerardo Avalos, yang pada tahun 2005 menerbitkan penelitian yang menunjukkan bahwa S. exorrhiza sebenarnya tidak berpindah dari lokasi asalnya.
Muncul Akar Baru
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Avalos dan timnya, mereka sepakat bahwa ketika palem berjalan terjatuh, pohon ini dapat dengan cepat mengembangkan akar baru untuk mengatasi kehilangan stabilitas.
Namun, sebenarnya, palem ini tidak banyak bergerak atau berjalan. Avalos menjelaskan bahwa palem berjalan tetap berada di lokasi perkecambahannya.
Meskipun demikian, seperti tanaman hutan hujan lainnya, palem berjalan masih dapat meregangkan diri untuk mencari cahaya. Ilmuwan ini menyatakan bahwa pohon palem ini tidak benar-benar memiliki kemampuan untuk berjalan.
Sebuah studi lain yang meneliti spesies unik ini mencapai kesimpulan yang serupa dengan Avalos dan rekannya pada tahun 2007. Namun, pertanyaan yang muncul adalah mengapa pohon palem berjalan memiliki kaki yang begitu panjang jika bukan untuk berjalan?
Para ilmuwan berspekulasi bahwa akar yang ekstrem ini berevolusi untuk menghadapi peristiwa banjir, meskipun bukti yang mendukung teori tersebut masih terbatas.
Dalam beberapa tahun terakhir, peneliti berpendapat bahwa di dalam hutan hujan yang lebat, akar palem berjalan memberikan keuntungan bagi spesies ini dalam meningkatkan tinggi dan stabilitas. Spesies ini dapat memanfaatkan celah cahaya di kanopi di atas tanpa harus mengeluarkan energi pada batang yang lebih tebal.
Socratea exorrhiza, yang juga dikenal dengan sebutan palm walk atau cashapona, merupakan jenis pohon yang banyak dijumpai di hutan hujan tropis yang terdapat di Amerika Tengah dan Selatan. Pohon ini tumbuh subur di kawasan dengan tanah yang lembap dan kaya akan nutrisi. Tinggi pohon ini dapat mencapai 15 hingga 20 meter dengan diameter sekitar 12 sentimeter.
Namun, di dalam hutan hujan, para peneliti mencatat adanya individu pohon yang dapat tumbuh hingga 25 meter dengan diameter mencapai 17 sentimeter. Salah satu ciri khas yang paling mencolok dari pohon palem berjalan adalah akar udaranya yang tumbuh secara horizontal dan menjulur jauh dari batang. Akar-akar ini menyerupai kaki, sehingga memberikan kesan seolah-olah pohon tersebut sedang bergerak atau berjalan.