Ini Rasa Air Tertua di Dunia yang Pernah Dicicipi Ilmuwan
Air ini, yang mengalir sekitar tiga kilometer di bawah permukaan tanah, diperkirakan berusia antara 1,5 miliar hingga 2,6 miliar tahun.
Tim ahli geologi yang dipimpin oleh Profesor Barbara Sherwood Lollar, menemukan air tertua yang pernah ditemukan di Bumi ketika mereka sedang mempelajari tambang di Kanada pada tahun 2016.
Air yang mengalir sekitar tiga kilometer di bawah permukaan tanah ini, diperkirakan berusia antara 1,5 miliar hingga 2,6 miliar tahun berdasarkan pada hasil pengujian yang menjadikannya air tertua yang pernah ditemukan di Bumi.
“Ketika orang-orang memikirkan tentang air ini, mereka berasumsi itu pasti sejumlah kecil air yang terperangkap di dalam batu,” kataProfesor Sherwood Lollar.
Namun, air tersebut sebenarnya mengalir dengan bebas dengankecepatan liter per menit, yang artinya volume yang ada jauh lebih besar dariyang diperkirakan.
Profesor Sherwood Lollar bahkan memutuskan untuk mencicipi air purba itu, dan mendapati bahwa rasanya sangat asin dan pahit, bahkan jauh lebih asin daripada air laut. Dengan air yang lebih asin, cenderung lebih tua usianya danitu tidak mengherankan.
“Jika Anda seorang ahli geologi yang bekerja denganbatu, Anda mungkin telah menjilati banyak batu,” tambahnya.
Melansir dari Indy100, Senin (25/11), penemuan ini juga menunjukkanbahwa air tersebut pernah mendukung adanya kehidupan di dalam air. Hal inidibuktikan oleh adanya sulfat dalam air itu, yang menandakan bahwa mikrobiologi pernah ada didalamnya.
“Kami mampu menunjukkan bahwa sinyal yang kami lihat dalam cairan tersebut pasti telah dihasilkan oleh mikrobiologi, dan yang terpenting pasti telah dihasilkan dalam skala waktu yang sangat panjang. Mikroba yang menghasilkan tanda-tanda ini tidak mungkin melakukannya dalam semalam," jelasnya.
“Ini harus menjadi indikasi bahwa organisme telah hadir dalamcairan ini pada skala waktu geologis," tambah dia.
Untungnya, saat meminum air purba tersebut, ilmuwan itu tidak mengalami reaksi mengerikan seperti dalam film fiksi ilmiah, dan masih hidupuntuk menceritakan kisah penemuannya.
Reporter magang: Nadya Nur Aulia