Ilmuwan Temukan Bukti Medan Magnetik Bumi Sudah Ada 3,7 Miliar Tahun Lalu
Bukti ini diperoleh melalui analisis batuan kaya besi yang berasal dari Sabuk Isua di Greenland.
Tim peneliti dari Universitas Oxford menemukan bahwa medan magnetik Bumi telah ada sejak 3,7 miliar tahun yang lalu, jauh lebih awal dari yang diperkirakan sebelumnya. Bukti ini diperoleh melalui analisis batuan kaya besi yang berasal dari Sabuk Isua di Greenland. Berdasarkan pengukuran, batuan tersebut menunjukkan medan magnet dengan kekuatan minimal 15 mikrotesla, mendekati setengah dari kekuatan medan magnetik saat ini yang mencapai sekitar 30 mikrotesla.
Penemuan ini menandai bahwa sejak masa awal terbentuknya Bumi, planet ini telah memiliki sistem perlindungan alami terhadap radiasi Matahari. “Ini adalah bukti bahwa perisai magnetik Bumi sudah aktif saat kehidupan mulai muncul,” kata peneliti utama dari Oxford yang tidak disebutkan namanya dalam laporan IFLScience.
Medan magnetik Bumi dikenal sebagai pelindung utama atmosfer dari partikel bermuatan tinggi yang dilepaskan oleh angin Matahari. Tanpa perisai ini, atmosfer bisa terkikis, dan air cair sulit bertahan, sehingga kehidupan pun terancam.
Saat ini, medan magnetik Bumi dihasilkan oleh proses geodinamo, yakni pergerakan logam cair di inti luar Bumi. Namun, miliaran tahun lalu, inti dalam padat Bumi belum terbentuk. Peneliti menyebut bahwa kemungkinan besar medan magnet kala itu dihasilkan oleh konveksi termal atau komposisional—mekanisme alternatif yang tetap mampu menggerakkan medan magnet cukup kuat untuk menjaga stabilitas planet.
Temuan ini juga menambah wawasan dalam pencarian kehidupan di luar Bumi. Karena medan magnet berperan penting dalam mempertahankan atmosfer dan menjaga air tetap dalam bentuk cair, maka keberadaan medan magnet menjadi indikator penting dalam mencari planet ekstrasurya yang layak huni.
“Jika Bumi bisa memiliki medan magnet sebelum inti dalamnya terbentuk, maka mungkin planet lain juga punya mekanisme serupa,” tulis tim peneliti dalam publikasi mereka di jurnal National Science Review.