Golden Dome, Perisai Rudal Proyek Donald Trump yang Lebih Canggih dari Irone Dome Israel
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Golden Dome merupakan proyek prestisius dalam sejarah umat manusia.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi meluncurkan proyek pertahanan rudal nasional bernama Golden Dome, sistem yang diklaim mampu mencegat rudal dari darat, laut, udara, dan bahkan luar angkasa.
Proyek ini diumumkan dari Gedung Oval pada 20 Mei 2025 dan diproyeksikan menelan dana awal sebesar USD175 miliar, dengan target operasional penuh pada 2029.
Dalam pidatonya, Trump menyebut Golden Dome sebagai warisan dari program “Star Wars” era Perang Dingin, dengan pendekatan teknologi terbaru berbasis satelit dan sensor luar angkasa.
“Kami akan menempatkan teknologi generasi berikutnya di orbit untuk melindungi Amerika dari ancaman rudal hipersonik,” ujarnya dikutip IFLScience, Minggu (25/5).
Trump menunjuk Jenderal Michael Guetlein dari US Space Force sebagai pemimpin program, dan menyatakan proyek ini sebagai langkah penting menuju keamanan nasional total. Namun, laporan dari Congressional Budget Office memperingatkan bahwa biaya keseluruhan proyek dapat membengkak menjadi $831 miliar selama dua dekade.
Sejumlah perusahaan besar seperti Lockheed Martin, Boeing, dan SpaceX disebut tertarik terlibat. Keterlibatan SpaceX memicu tuduhan konflik kepentingan karena Elon Musk disebut menyumbang lebih dari Rp5,8 triliun ke kampanye Trump, mendorong anggota Kongres dari Partai Demokrat untuk meminta audit independen.
Sejumlah pakar mempertanyakan kelayakan teknis sistem ini. Dalam laporan Maret 2025, American Physical Society menyebut bahwa menembak jatuh rudal hipersonik ibarat “menembak peluru dengan peluru” karena kecepatannya bisa mencapai 25.000 km/jam.
Para ilmuwan memperkirakan bahwa sistem seperti Golden Dome, meskipun canggih, hanya bisa melindungi sebagian kecil wilayah Amerika Serikat, dan lebih efektif terhadap ancaman dari Korea Utara dibanding dari China atau Rusia.
“Kami skeptis sistem ini bisa mencegat ICBM secara konsisten,” ujar laporan tersebut.
Respons internasional juga beragam. Pemerintah China menyampaikan kecaman resmi dan menuduh Amerika “mengganggu keseimbangan strategis global” dengan mendorong militerisasi luar angkasa.
“AS terobsesi dengan keamanan mutlak untuk dirinya sendiri,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, dalam pernyataan tertulis.
Sebaliknya, Rusia menyatakan proyek ini sebagai urusan internal Amerika dan tidak memberikan tanggapan keras. Kanada justru membuka kemungkinan ikut serta dalam pendanaan proyek bersama AS, dengan Perdana Menteri Mark Carney menyebut kerja sama itu “strategis untuk perlindungan kawasan Amerika Utara.”
Trump mengklaim sistem ini akan menjadi “perisai terbesar yang pernah dibangun dalam sejarah umat manusia.” Namun hingga kini, para pakar pertahanan dan analis politik belum sepenuhnya yakin bahwa proyek ini lebih dari sekadar ambisi politik dan simbol kekuasaan menjelang pemilu.
“Kami akan memiliki sistem terbaik yang pernah ada,” tegas Trump. Meski demikian, banyak pihak masih bertanya: apakah sistem ini memang bisa dibangun—dan benar-benar berfungsi?