Bisnis Kabel Laut Internet Masih Menggiurkan
Hal ini berdasarkan kinerja perusahaan PT Ketrosden Triasmitra, Tbk.
Bisnis penyelenggaraan kabel laut untuk internet terungkap masih gurih. Ini terbukti dari pendapatan PT Ketrosden Triasmitra, Tbk di 2024. Dalam keterbukaan informasi, selama tiga tahun berturut-turut mereka mencatatkan peningkatan pendapatan.
"Pada 2022 kami mencatatkan pendapatan Rp353 miliar, meningkat menjadi Rp391 miliar di tahun 2023. Dan di laporan buku terakhir di tahun 2024 kemarin, mengalami peningkatan yang lebih pesat lagi, yaitu menjadi Rp556 miliar, atau tumbuh 42 persen dibandingkan pendapatan di tahun sebelumnya di tahun 2023," ujar Direktur Utama PT Ketrosden Triasmitra, Tbk, Titus Dondi Patria di Jakarta, Selasa (17/6).
Peningkatan pendapatannya itu di dukung oleh beberapa lini bisnis. Seperti memperoleh pemasukan dari penjualan fiber pair kabel laut SKKL Rising 8 dari tiga pelanggan Off-Taker serta lima pelanggan baru untuk jaringan kabel darat Ultimate Java Backbone (UJB) dan dua pelanggan baru untuk jaringan kabel laut Jakarta – Surabaya (JAYABAYA).
"Selain itu, tahun ini perusahaan juga dipercaya oleh XL dan Fiberstar dalam layanan Managed Service untuk SKKL PalembangSungai Liat, dengan penyelesaian restorasi yang lebih cepat dari SLA yang ditetapkan," ungkap dia.
Pada 2025, kata Titus, perusahaan menargetkan pendapatan naik 22,12 persen atau menjadi Rp679 miliar. Untuk mencapai target tersebut, pendapatan bakal didominasi oleh pertumbuhan bisnis developer, yakni memaksimalkan penjualan jalur kabel laut dan darat yang sudah beroperasi (existing) dan penjualan jalur kabel yang masih dalam proses Pembangunan (SKKL Rising 8 dan SKKL Indonesia Tengah).
3 Fokus Utama Pengembangan Bisnis
Perseroan saat ini memiliki tiga fokus utama dalam pengembangan bisnis. Fokus pertama adalah menyelesaikan proyek konversi kapal CLV Bentang Bahari agar siap digunakan secara komersial.
"Kapal ini ditargetkan mulai digunakan pada kuartal IV tahun 2025 untuk menggelar jaringan kabel laut SKKL Rising 8," kata Dani Samsul Ependi, Direktur Operasional PT Ketrosden Triasmitra, Tbk.
Fokus kedua adalah pembangunan SKKL Rising 8 yang menghubungkan Jakarta–Batam–Singapura. Proyek ini dikerjakan bersama PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA). Izin lokasi laut (PKKPRL) sudah terbit, dan izin pembangunan dari Kementerian Perhubungan ditargetkan keluar Juni 2025.
Kabel sepanjang 1.128,5 km ini akan menggunakan teknologi repeater berkapasitas 25 Tbps per fiber pair, dengan peralatan dari produsen Jerman (NSW) dan Prancis (ASN).
Fokus ketiga adalah ekspansi ke kawasan Indonesia Tengah melalui pembangunan jaringan SKKL Indonesia Tengah yang menghubungkan Bali, Nusa Tenggara, hingga Sulawesi, sepanjang total 2.597 km.
"Proyek ini akan dibagi dua tahap: Tahap 1 (Sanur–Makassar) dimulai tahun 2026, dan Tahap 2 (Selayar–Luwuk) pada tahun 2027," ungkap Dani.