Benarkah Baju Zirah Ksatria Zaman Dahulu Bisa Menahan Peluru? Ini Jawabannya!
Ksatria abad pertengahan dikenal dengan baju zirah baja mereka. Namun, apakah perlindungan ini cukup kuat untuk menahan tembakan peluru?
Gambaran ksatria dengan baju zirah dan pedang sering diasosiasikan dengan abad pertengahan. Namun, tak banyak yang tahu bahwa senjata api juga sudah ada di era tersebut.
Pertanyaannya, apakah baju zirah yang digunakan ksatria mampu menahan peluru? Beberapa ahli sejarah dan senjata mencoba menjawabnya dengan penelitian dan uji coba.
Mengutip LiveScience, Senin (10/3), senjata api pertama kali ditemukan di Tiongkok sekitar 1.200 tahun lalu dan mulai digunakan di Eropa sebelum abad ke-14. Sementara itu, baju zirah terus berevolusi dari zirah rantai (chainmail) hingga zirah lempeng (plate armor) yang lebih kuat, terutama pada abad ke-15.
Menurut Jonathan Tavares, kurator di Art Institute of Chicago, meskipun senjata api sudah ada di abad pertengahan, penggunaannya masih jarang dibandingkan dengan periode setelahnya.
Bisakah Baju Zirah Menahan Peluru?
Pada periode 1380-1600, terjadi "perlombaan teknologi" antara pembuat senjata dan pembuat baju zirah. Saat kekuatan senjata meningkat, pembuat zirah juga menciptakan perlindungan yang lebih kuat.
Profesor sejarah Roger Pauly dari University of Central Arkansas menyatakan bahwa peluru dari pistol pada masa itu mungkin kesulitan menembus baju zirah berkualitas tinggi.
Uji coba yang dilakukan pada replika baju zirah abad ke-16 dalam program TV Nova menunjukkan bahwa peluru dari senapan bubuk hitam masih bisa tertahan oleh zirah berkualitas baik.
Namun, baju zirah abad pertengahan masih kalah canggih dibandingkan rompi anti-peluru modern yang dirancang untuk memperlambat dan menyerap energi peluru.
Baju Zirah Eropa dan Tiongkok
Di Eropa, perkembangan baju zirah terus menyesuaikan dengan senjata api. Namun, di Tiongkok, baju zirah tidak banyak mengalami perubahan meskipun senjata api telah digunakan luas.
Menurut Peter Lorge, profesor sejarah di Vanderbilt University, baju zirah tahan peluru hanya tersedia bagi orang kaya, sementara pasukan Tiongkok lebih banyak terdiri dari prajurit rakyat biasa yang tidak bisa menggunakan perlindungan mahal ini.
Jawabannya tergantung pada kualitas baju zirah dan jenis senjata yang digunakan. Pada abad ke-16 dan ke-17, beberapa baju zirah memang mampu menahan peluru dari senapan bubuk hitam, tetapi perlindungan ini tidak universal dan hanya digunakan oleh segelintir prajurit elit.
Perlombaan antara senjata api dan perlindungan tubuh terus berlangsung hingga kini, dengan teknologi modern menciptakan rompi anti-peluru yang jauh lebih efisien dibandingkan zirah baja kuno.