Bagaimana Cara Kerja DNA Mengidentifikasi Korban Bencana?
Meksi terbilang akurat, namun ada pro dan kontra dari pencocokan DNA.
Analisis Deoxyribo Nucleic Acid (DNA) menjadi metode utama dalam proses identifikasi korban bencana massal, kecelakaan transportasi, hingga serangan teroris.
Hal ini kembali disorot setelah kecelakaan pesawat Air India pada 12 Juni 2025 yang menewaskan 260 orang. Api hebat membakar bahan bakar lebih dari 125.000 liter, membuat banyak jenazah hangus atau rusak parah hingga sulit dikenali secara visual.
Tim forensik mengandalkan sampel DNA keluarga untuk membandingkan hasil dari korban. Dalam lebih dari dua minggu, semua korban berhasil diidentifikasi. Kasus tersebut menjadi contoh nyata bagaimana teknologi DNA membantu memberikan kepastian kepada keluarga korban di tengah tragedi.
Mengutip LiveScience, Minggu (13/7), identifikasi lewat DNA dimulai dengan pengumpulan dua jenis sampel: postmortem (dari jenazah) dan antemortem (dari barang pribadi atau kerabat). Di lokasi kejadian, tim forensik mendokumentasikan kondisi fisik korban, mengambil foto gigi, mencatat pakaian atau barang yang dikenakan, serta mengumpulkan jaringan tubuh.
Menurut Kerstin Montelius, Dewan Kedokteran Forensik Nasional Swedia, DNA bisa diambil dari hampir semua jaringan tubuh, tetapi kualitasnya sangat dipengaruhi kondisi lingkungan. Dalam kasus kebakaran, air laut, atau suhu ekstrem, sampel bisa rusak atau terkontaminasi.
Untuk meminimalkan risiko kontaminasi, darah atau jaringan lunak utuh biasanya diprioritaskan. Namun pada jenazah yang membusuk atau tercampur dengan korban lain, tulang dan gigi menjadi pilihan terbaik karena lebih tahan kerusakan lingkungan.
Setelah sampel dikumpulkan, langkah berikutnya adalah mengekstrak dan membersihkan DNA. Jumlah DNA dievaluasi lalu diperbanyak menggunakan enzim agar cukup untuk dianalisis.
Jeremy Watherston, ahli biologi forensik dari Queensland Forensic Science, menjelaskan bahwa hasil profil DNA korban kemudian dicocokkan dengan barang pribadi korban seperti sikat gigi atau pisau cukur, atau dengan sampel DNA kerabat dekat.
Metode ini, jika dilakukan dengan benar, nyaris sempurna dalam mengidentifikasi individu, bahkan bisa membedakan kembar identik dengan bantuan teknik tambahan.
Kendala Teknis dan Tantangan Lapangan
Meski akurat, metode ini tidak tanpa kendala. Peter Ellis dari Interpol menegaskan pentingnya peralatan canggih dan kualitas sampel postmortem yang baik. Pada jenazah yang hangus total atau hancur parah, ketersediaan DNA bisa sangat terbatas, menghambat proses identifikasi.
Selain tantangan teknis, kontaminasi juga menjadi masalah besar, terutama saat jenazah tercampur di lokasi bencana. Untuk mengatasi ini, petugas biasanya mengambil beberapa jenis jaringan untuk meningkatkan peluang keberhasilan.
Selain tantangan ilmiah, identifikasi DNA juga memicu diskusi etis. Caroline Bennett, dosen antropologi sosial di University of Sussex, mengingatkan pentingnya memahami konteks budaya dalam pengelolaan jenazah.
Sebagai contoh, pada 2005 pemerintah Irak menuntut agar semua sisa tulang yang diambil untuk analisis DNA dikembalikan dan dimakamkan dengan jenazah untuk menghormati tradisi setempat.
Bennett menegaskan perlunya konsultasi dengan keluarga korban sebelum pengambilan sampel dilakukan untuk memastikan proses berjalan sesuai nilai-nilai yang berlaku.
Menjaga Martabat Korban
Para ahli sepakat bahwa meski analisis DNA adalah alat ilmiah yang tak ternilai untuk memberikan kepastian identitas korban, prosesnya harus dilakukan dengan penuh rasa hormat.
Analisis DNA tidak hanya membantu keluarga menemukan kepastian, tetapi juga menjadi bentuk penghormatan terakhir pada para korban dengan memastikan mereka diidentifikasi dengan benar dan diperlakukan sesuai martabat manusia.
Dengan kombinasi teknologi canggih dan kepekaan budaya, proses identifikasi lewat DNA diharapkan terus berkembang sebagai standar utama dalam penanganan bencana massal di seluruh dunia.