Alat Musik Tradisional Khas Suku Kaili Sulawesi Tengah, Namanya Unik Tetapi Kedudukannya Begitu Sakral
Musik bagi Suku Kaili merupakan hal yang sakral dalam upacara pengobatan, begitu juga dengan alat musiknya yang memiliki nama unik.
Musik bagi Suku Kaili merupakan hal yang sakral dalam upacara pengobatan, begitu juga dengan alat musiknya yang memiliki nama unik.
Alat Musik Tradisional Khas Suku Kaili Sulawesi Tengah, Namanya Unik Tetapi Kedudukannya Begitu Sakral
Setiap suku di Indonesia memiliki cara dan kepercayaan masing-masing dalam dunia kesehatan, terutama pengobatan suatu penyakit. Selain bersifat sakral, metode pengobatan ini juga bagian dari mempertahankan warisan nenek moyang.
Suku Kaili yang sebagian besar mendiami Provinsi Sulawesi Tengah memiliki kekayaan adat istiadat khususnya di metode pengobatan yang bernama Balia.
Hingga kini, orang Kaili masih melaksanakan tradisi Balia dan masih terpelihara dengan baik. (Foto: Indonesia.go.id)
Dalam tradisi Balia tidak boleh ketinggalan dengan alunan musik tradisional diiringi dengan instrumen yang unik dan kedudukannya begitu penting. Alat musik tradisional yang dimaksud adalah Lalove.
Namanya yang begitu unik ini bagi masyarakat Kaili sangatlah penting dan sakral. Tanpa adanya alat musik tersebut, pelaksanaan Balia tidak bisa berjalan dan mungkin tidak ada metode pengobatan tradisional lagi.
Arti Lalove
Kata "Lalove" sendiri berasal dari kata "Love" dalam bahasa Kaili yang artinya suara mengalun, sayup-sayup, atau menerawang dari kejauhan. Ada juga yang mengartikan "Love" itu seperti siulan, atau suara yang menarik perhatian atau memanggil.
Kini, arti "Love" dalam Suku Kaili artinya adalah burung elang. Di lingkungan tempat tinggal mereka, burung sering berkicau atau mengeluarkan suara dari pohon bambu atau dari kejauhan. Uniknya, masyarakat Kaili tidak mengenal memelihara burung di dalam kandang.
Awalan "La" pada kata Love ini diartikan sebagai bunyi memanggil. Dalam pelaksanaan Balia, fungsinya adalah memainkan kobi-kobi (melodi dalam Lalove) untuk memanggil roh sesuai jenis kobi yang dimainkan.
Terbuat dari Rotan, Mirip Suling
Melansir dari situs indonesia.go.id, Lalove sendiri terbuat dari bambu atau rotan dengan kualitas terbaik yang tumbuh di puncak gunung paling tinggi.
Untuk mengambil bambu atau rotan, mereka akan melaksanakan ritual meminta izin kepada penguasa di daerah tersebut.
Secara fisik, Lalove berbentuk seperti seruling dan cara membentuk menjadi alat musik pun tidak bisa sembarangan. Bahan dasar Lalove yang menggunakan bambu ini juga tidak lepas dari hasil kebudayaan setempat yang lingkungannya banyak ditumbuhi pohon bambu.
Dibutuhkan Skill Tinggi
Dalam memainkan Lalove perlu teknik yang cukup tinggi. Banyak pemain Lalove yang cenderung sudah tua karena merekalah yang mampu meniupnya dengan sempurna.
Selain membutuhkan skill tinggi, kedudukan Lalove sendiri juga cukup sakral. Dikarenakan dulunya Lalove ini tidak boleh sembarangan ditiup, karena bagi orang-orang yang biasa kerasukan roh, jika mendengar suara Lalove maka dengan spontan orang tersebut akan kerasukan.
Maka dari itu, awalnya pemilik Lalove sendiri bukanlah orang sembarang atau yang disebut dengan Bule.