Sering Minum Obat Anti Nyeri Tanpa Resep Dokter? Waspada Risiko Kerusakan Ginjal
Mengonsumsi obat anti nyeri tanpa anjuran dokter secara berlebihan dapat berisiko mengakibatkan penyakit ginjal.
Seringkali, orang mengandalkan obat anti nyeri ketika mengalami pegal atau nyeri otot sebagai solusi cepat untuk mendapatkan kesembuhan. Namun, perlu diingat bahwa kebiasaan ini dapat berisiko, terutama jika dikonsumsi tanpa resep dokter dalam jangka waktu lama, karena dapat merusak fungsi ginjal. Dokter spesialis penyakit dalam yang juga konsultan ginjal dan hipertensi, Pringgodigdo Nugroho, mengingatkan tentang bahaya mengonsumsi obat nyeri secara berlebihan tanpa arahan medis.
"Risiko penyakit ginjal salah satunya disebabkan oleh mengonsumsi obat-obat nyeri tanpa resep dari dokter secara jangka panjang," ujarnya saat ditemui di acara Kidney Health for All Caring for People, Protecting the Planet pada Rabu, 11 Maret 2026.
Kandungan obat yang perlu diwaspadai adalah golongan obat anti-inflamasi non-steroid (OAINS) atau dalam bahasa Inggris dikenal sebagai non-steroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs). Salah satu contoh yang cukup populer di kalangan masyarakat adalah ibuprofen. Meskipun obat ini efektif dalam meredakan rasa nyeri dan peradangan, penggunaannya yang sembarangan dapat mengganggu aliran darah ke ginjal.
"Tanpa pengawasan medis, konsumsi secara berlebihan bisa memicu kerusakan struktur ginjal," tambah Pringgodigdo. Oleh karena itu, penting untuk menggunakan obat-obatan ini dengan bijak dan selalu berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsinya.
Obesitas
Obesitas dapat meningkatkan beban kerja ginjal karena organ ini harus menyaring lebih banyak darah daripada biasanya untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh yang lebih besar. Menurut Mohammad Fiqri Qoidhafy dari tim kerja gangguan paru, otak, dan kardiovaskular Kemenkes RI, penting untuk menghindari makanan yang dapat menyebabkan obesitas.
"Makanan-makanan yang bisa menyebabkan kegemukan atau obesitas itu ya harus dihindari karena secara langsung bisa memicu diabetes dan gangguan ginjal," tuturnya.
Kadar gula darah yang tinggi secara kronis pada penderita diabetes dapat merusak unit penyaring ginjal yang dikenal sebagai nefron. Selain itu, hipertensi atau tekanan darah tinggi yang terus-menerus meningkat dapat merusak pembuluh darah kecil di dalam ginjal, sehingga organ tersebut tidak dapat berfungsi dengan baik dalam menyaring racun dari darah.
Kondisi ini bisa semakin parah apabila disertai gaya hidup sedentari, seperti kebiasaan menggunakan kendaraan bermotor untuk jarak dekat dan kurangnya aktivitas fisik. Hal ini menyebabkan pembakaran kalori menjadi tidak optimal, yang pada akhirnya dapat memicu obesitas dan hipertensi di usia produktif.
Deteksi Dini
Ginjal sering kali dikenal sebagai silent disease karena kerusakan pada organ ini tidak menunjukkan gejala fisik yang jelas di tahap awal. Gejala seperti wajah pucat, urine berbusa, atau pembengkakan tubuh biasanya baru muncul ketika fungsi ginjal sudah sangat menurun.
Oleh karena itu, Pringgodigdo merekomendasikan agar melakukan pemeriksaan kesehatan sebagai langkah pencegahan yang sangat penting.
"Lakukan pemeriksaan ginjal kalau belum pernah, supaya tahu status kesehatannya karena di awal penyakit ini tidak bergejala sama sekali," ujarnya.
Pemeriksaan kesehatan sebaiknya dilakukan setidaknya sekali dalam setahun. Dengan deteksi yang lebih awal, perkembangan penyakit ginjal dapat diperlambat, sehingga pasien tidak perlu menjalani terapi dialisis atau cuci darah yang biayanya sangat tinggi.