Intermittent Fasting: Waspadai Risiko Gangguan Makan Tersembunyi di Baliknya
Intermittent Fasting (IF) yang populer sebagai metode diet, ternyata berpotensi memicu gangguan makan tersembunyi, terutama pada individu yang rentan.
Intermittent Fasting (IF) atau puasa intermiten menjadi tren diet populer. Metode ini mengatur siklus makan dan puasa. Banyak yang mengklaim IF bermanfaat untuk menurunkan berat badan. Namun, studi terbaru mengungkap potensi risiko IF. Risiko tersebut adalah gangguan makan, terutama pada remaja dan dewasa muda.
Lalu, bagaimana IF bisa menjadi gangguan makan tersembunyi? Siapa saja yang berisiko? Artikel ini akan membahas potensi bahaya IF. Pembahasan meliputi dampaknya pada perilaku makan. Selain itu, akan dijelaskan pula kelompok individu yang sebaiknya menghindarinya. Tujuannya, agar masyarakat lebih waspada dan bijak dalam memilih metode diet.
IF sering dipandang sebagai solusi praktis untuk menurunkan berat badan. Padahal, IF berpotensi menyembunyikan masalah gangguan makan. Hal ini diungkapkan oleh para ahli gizi dan psikolog. Mereka menekankan pentingnya memahami risiko ini. Tujuannya adalah agar individu tidak terjebak dalam pola makan yang tidak sehat.
Potensi Risiko Intermittent Fasting sebagai Gangguan Makan Tersembunyi
IF dapat memicu perilaku makan tidak teratur. Penelitian menunjukkan adanya korelasi antara IF dan perilaku makan yang tidak sehat. Pada wanita, ini bisa berupa makan berlebihan dan muntah. Selain itu, olahraga kompulsif juga bisa terjadi. Sementara itu, pria cenderung lebih sering melakukan olahraga kompulsif. Hal ini menunjukkan bahwa IF, tanpa pengawasan yang tepat, dapat memperburuk gangguan makan.
Dilansir dari Huffington Post, Becky Mehr, seorang ahli gizi terdaftar dan direktur nutrisi rawat jalan di The Renfrew Center, menjelaskan bahwa IF dapat menjadi kedok yang diterima secara sosial untuk perilaku makan yang tidak teratur. "Meskipun sering dipasarkan sebagai alat untuk menurunkan berat badan, meningkatkan kesehatan metabolisme, atau menyederhanakan pola makan, IF dapat menjadi masalah, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat gangguan makan," ujarnya.
Mehr menambahkan bahwa karena puasa terjadwal mengharuskan seseorang untuk melewatkan makan dan mengabaikan isyarat rasa lapar, hal itu dapat menyembunyikan gangguan makan tanpa menimbulkan kekhawatiran. Bahkan, IF justru dapat memicu pujian atas penurunan berat badan atau "disiplin yang dirasakan" yang dapat memperkuat perilaku berbahaya.
Kelompok yang Sebaiknya Menghindari Intermittent Fasting
IF tidak cocok untuk semua orang. Individu dengan riwayat gangguan makan sangat disarankan untuk menghindari IF. Selain itu, ibu hamil dan menyusui juga sebaiknya tidak melakukan IF. Penderita diabetes yang menggunakan insulin atau obat penurun gula darah juga termasuk kelompok yang berisiko. Mereka dengan kondisi medis tertentu juga sebaiknya berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.
Dr. Anne Marie O'Melia, kepala petugas klinis dan kualitas di Eating Recovery Center, mengatakan bahwa individu yang rentan secara genetik dan lingkungan untuk mengembangkan gangguan makan, segala bentuk pembatasan kalori atau kepatuhan pada aturan makanan yang ketat, termasuk IF, secara signifikan meningkatkan risiko mereka.
O'Melia menambahkan bahwa diet dan pembatasan adalah prediktor nomor satu dari timbulnya gangguan makan, terutama pada remaja dan dewasa muda. "Janji manfaat jangka pendek seperti penurunan berat badan atau perubahan metabolisme tidak sebanding dengan risiko nyata dan menghancurkan: Gangguan makan memiliki konsekuensi kejiwaan dan medis yang signifikan, dan tingkat kematian tertinggi di antara penyakit mental," tegasnya.
Pentingnya Konsultasi dengan Profesional Kesehatan
Sebelum memulai IF, konsultasi dengan dokter atau ahli gizi sangat penting. Mereka dapat membantu menilai apakah IF sesuai dengan kondisi kesehatan individu. Selain itu, mereka dapat memberikan panduan yang tepat. Tujuannya adalah untuk mencegah efek samping yang merugikan. Efek samping tersebut termasuk potensi perkembangan atau perburukan gangguan makan.
Para ahli sepakat bahwa tidak seorang pun boleh melakukan IF tanpa bimbingan ketat dari penyedia layanan kesehatan mereka. "Tubuh kita dirancang untuk memberi tahu kita kapan mereka membutuhkan bahan bakar," jelas Mehr. "Mengabaikan isyarat itu dapat menyebabkan keasyikan dengan makanan, gangguan metabolisme, dan tekanan emosional. [Intermittent fasting] seperti menyuruh seseorang untuk hanya menggunakan kamar mandi selama jam-jam tertentu, itu menciptakan fiksasi, bukan kebebasan."
Jika puasa mulai terasa seperti kewajiban daripada pilihan, atau memengaruhi kemampuan Anda untuk menikmati hidup, mungkin inilah saatnya untuk mengevaluasi kembali. "Sangat penting untuk diingat bahwa tubuh manusia sangat kompleks dan ia berkembang ketika diperlakukan dengan kasih sayang, bukan hukuman," kata O'Melia.
Manfaat Intermittent Fasting yang Perlu Dicermati
IF dapat memberikan beberapa manfaat jika dilakukan dengan benar. Manfaat tersebut antara lain penurunan berat badan. Selain itu, IF dapat meningkatkan sensitivitas insulin. Perbaikan kesehatan jantung juga bisa menjadi manfaat IF. Bahkan, beberapa penelitian menunjukkan peningkatan fungsi otak. Namun, manfaat ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Meskipun demikian, manfaat potensial IF tidak lebih besar daripada risiko mengembangkan atau memperburuk gangguan makan. Oleh karena itu, penting untuk mempertimbangkan dengan cermat risiko dan manfaatnya sebelum memutuskan untuk mencoba IF. Jika Anda memiliki riwayat gangguan makan atau kondisi kesehatan lainnya, konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi sebelum memulai IF.
Sebagai penutup, Mehr menekankan bahwa makanan bukan hanya bahan bakar, tetapi juga kegembiraan, koneksi, budaya, dan kenyamanan. "Pola makan yang sehat menghormati baik kebutuhan tubuh Anda maupun pengalaman hidup Anda," katanya. "Alih-alih mendengarkan aturan eksternal, kita harus belajar untuk mempercayai tubuh kita. Semua tubuh berbeda. Semua tubuh berharga. Dan makanan seharusnya tidak pernah menjadi sumber rasa malu atau hukuman."