Riset Baru: Puasa Intermiten Tidak Memengaruhi Fungsi Kognitif Orang Dewasa
Lebih dari 70 penelitian eksperimen menunjukkan bahwa peserta yang berpuasa memiliki kemampuan kognitif yang setara dengan mereka yang makan secara normal.
Puasa intermiten atau intermittent fasting sering dianggap sebagai metode yang efektif untuk menurunkan berat badan. Meskipun demikian, banyak orang yang merasa khawatir bahwa berpuasa dapat mengakibatkan penurunan konsentrasi atau kesulitan dalam berpikir dengan jelas.
"Ini keyakinan yang sangat intuitif, kita mengasosiasikan rasa lapar dengan energi yang rendah, mudah tersinggung, dan mudah terdistraksi, jadi rasanya logis jika kemampuan kognitif juga akan terganggu," ujar Profesor David Moreau, seorang psikolog dari University of Auckland, Selandia Baru.
Menurut tinjauan terhadap sejumlah penelitian, Moreau menjelaskan bahwa puasa selama sekitar 12 jam biasanya tidak berdampak negatif pada kinerja kognitif orang dewasa. Dalam lebih dari 70 studi eksperimental yang dianalisis oleh Moreau, ditemukan bahwa individu yang menjalani puasa menunjukkan performa yang setara dalam tugas serta tes mental dibandingkan dengan mereka yang tidak berpuasa, seperti yang dikutip dari Everyday Health pada Minggu, 16 November 2025.
Selain itu, terdapat penelitian yang melibatkan 3.500 orang dewasa yang sedang berpuasa atau baru saja menyelesaikan puasa. Peneliti melakukan evaluasi terhadap kemampuan kognitif para partisipan.
"Kami memperkirakan setidaknya terjadi sedikit penurunan kinerja saat orang lapar, tetapi hasilnya menunjukkan bahwa kinerja otak tetap baik," jelas Moreau. Namun, untuk individu yang berpuasa lebih dari 12 jam, analisis tersebut mencatat adanya sedikit penurunan dalam kinerja kognitif.
Dapat memengaruhi suasana hati
Di sisi lain, Sera Lavelle, seorang terapis sekaligus psikolog klinis dari Amerika Serikat, menyatakan bahwa puasa intermiten dapat memengaruhi suasana hati seseorang. Perubahan ini, menurutnya, bisa berdampak pada fungsi kognitif. "Penurunan glukosa darah atau peningkatan rasa lapar dapat memicu iritabilitas, perubahan suasana hati, atau peningkatan pikiran tentang makanan," ungkap Lavelle.
Namun, Charlotte Markey, seorang psikolog dari Rutgers University di New Jersey, Amerika Serikat, menekankan perlunya penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh perubahan suasana hati terhadap kemampuan kognitif.
"Sulit untuk merasa bahagia saat lapar, dari sinilah ungkapan 'hangry' (hungry dan angry) berasal," jelas Markey, yang fokus penelitiannya adalah pada perilaku terkait makan, citra tubuh, dan manajemen berat badan, serta tidak terlibat dalam tinjauan ilmiah tersebut.
Apakah puasa intermiten baik untuk kesehatan?
Para peneliti dalam studi ini mengungkapkan bahwa puasa dapat memberikan dampak yang beragam terhadap kesehatan, baik positif maupun negatif. Dampak tersebut sangat bergantung pada kondisi masing-masing individu. Bagi sebagian orang, puasa dapat meningkatkan cara tubuh memanfaatkan energi.
Glikogen, yang merupakan bentuk utama dari karbohidrat yang disimpan, berfungsi sebagai sumber energi utama ketika seseorang mengonsumsi makanan secara teratur sepanjang hari. Namun, saat puasa berlangsung, cadangan glikogen akan habis, sehingga tubuh mulai membakar lemak sebagai sumber energi alternatif. Proses ini dikenal dengan sebutan ketosis, di mana tubuh menggunakan keton, yang merupakan produk sampingan dari pembakaran lemak, sebagai bahan bakar.
"Bukti yang muncul menunjukkan bahwa mengandalkan keton dapat memberikan manfaat kesehatan yang luas, memodulasi sistem hormonal, dan mengaktifkan proses perbaikan sel yang terkait dengan umur panjang," kata Moreau.
Dengan demikian, puasa tidak hanya berfungsi sebagai metode pengendalian berat badan, tetapi juga dapat berkontribusi pada perbaikan kesehatan secara keseluruhan. Oleh karena itu, penting untuk mempertimbangkan bagaimana puasa dapat mempengaruhi tubuh secara individual, mengingat setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap praktik ini. Mengetahui efek puasa dapat membantu individu untuk membuat keputusan yang lebih baik mengenai pola makan dan kesehatan mereka.
Puasa dapat membantu membakar lemak tubuh
Moreau mengingatkan bahwa puasa intermiten tidak selalu cocok untuk setiap individu. Contohnya, orang dengan kondisi medis tertentu, mereka yang memiliki berat badan di bawah normal, atau yang rentan terhadap gangguan makan sebaiknya berhati-hati. Dalam situasi seperti ini, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum melakukan perubahan pada pola makan.
Selain itu, Sera Lavelle menekankan bahwa hal terpenting sebelum memulai puasa adalah memastikan kesesuaian pola tersebut dengan kondisi tubuh, kesehatan mental, serta tuntutan aktivitas sehari-hari. Setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap rasa lapar, sehingga tidak semua orang dapat menjalani puasa dengan nyaman.
"Intermitent fasting ini ada beban psikologis, seperti jadi memikirkan makan, muncul perubahan suasana hati, gangguan lain," katanya.