Hati-hati, Benjolan Hilang-Timbul di Pusar Anak Bisa Jadi Gejala Hernia
Benjolan yang menunjukkan gejala hernia dapat terlihat di lipatan paha atau kantung kemaluan (hernia inguinal) serta di sekitar pusar (hernia umbilikal).
Gejala fisik yang muncul pada anak dengan hernia umumnya ditandai oleh benjolan yang muncul dan hilang, tanpa disertai rasa nyeri. Benjolan ini dapat terlihat di area lipatan paha atau kantung kemaluan (hernia inguinal) serta di sekitar pusar (hernia umbilikal).
Gejala akan semakin jelas jika hernia mengalami jepitan, di mana anak menjadi rewel, merasakan nyeri, mengalami muntah, serta benjolan tampak merah dan menetap. Jika terjadi jepitan pada pembuluh darah usus, perut anak bisa mengembung, dan keluhan buang air besar (BAB) mungkin disertai darah.
"Hernia pada anak sebaiknya ditangani sesegera mungkin untuk menghindari komplikasi yang lebih berat," kata dokter spesialis bedah anak, Karmile, dari RS Pondok Indah -- Pondok Indah dalam temu media di Jakarta, Kamis (18/12).
Hernia adalah kondisi yang disebabkan oleh kelemahan dinding rongga tubuh atau kegagalan proses penutupan dinding rongga tubuh, sehingga sebagian atau seluruh organ atau jaringan menonjol keluar dari tempat yang seharusnya. Istilah 'hernia' sendiri berasal dari bahasa Yunani Hernios, yang berarti pucuk (bud) atau cabang pohon (offshoot). Terdapat berbagai jenis hernia yang dapat dialami oleh anak, seperti:
- Hernia inguinal
- Hernia umbilical
- Hernia epigastric
- Hernia spigeli
- Hernia insisional
- Hernia diafragmatika
- Hernia hiatal
- Hernia lumbaris
- Hernia dinding abdomen traumatika.
"Masing-masing jenis hernia memiliki karakteristik dan penyebab yang berbeda-beda. Dari berbagai jenis hernia, hernia inguinal dan hernia umbilikal merupakan kasus yang paling sering terjadi pada pasien anak," jelas Karmile.
Hernia inguinal dapat terjadi akibat kegagalan penutupan processus vaginalis, yaitu proses perkembangan dan pergeseran testis dari panggul ke skrotum. Selain itu, hernia inguinal juga bisa disebabkan oleh kelemahan dinding perut, dengan angka kejadian sekitar 4 persen dan lebih umum terjadi pada anak yang lebih besar. Di sisi lain, hernia umbilikal disebabkan oleh kegagalan penutupan dinding perut di bagian pusar.
Diagnosis Hernia Pada Anak
Pemeriksaan untuk mendiagnosis hernia pada anak dilakukan melalui evaluasi fisik oleh dokter spesialis bedah anak. Selain itu, dokter juga akan meminta informasi dari orang tua mengenai riwayat keluarnya benjolan, serta meminta foto atau video sebagai tambahan data. Pemeriksaan penunjang seperti ultrasonografi (USG) mungkin diperlukan untuk mendukung diagnosis. Selain itu, temuan yang tidak terduga selama operasi juga bisa berkontribusi pada proses diagnosis.
Hernia umbilikal biasanya dapat menutup dengan sendirinya dan sembuh tanpa memerlukan tindakan operasi, namun pengawasan tetap diperlukan hingga anak berusia 3-4 tahun. Penanganan untuk hernia umbilical akan dipertimbangkan jika terdapat kondisi-kondisi tertentu, antara lain:
- Benjolan yang tetap ada hingga usia 4 tahun
- Ukuran defek yang lebih besar dari 1,5-2 cm
- Defek yang semakin membesar
- Adanya komplikasi seperti terjepit atau kulit yang terbuka.
Di sisi lain, hernia inguinal memerlukan tindakan pembedahan karena kondisi ini tidak akan sembuh dengan sendirinya dan tidak dapat diatasi dengan pengobatan atau pijat. Pembedahan untuk hernia pada anak umumnya dianggap aman dan memiliki risiko komplikasi yang rendah. Waktu pelaksanaan pembedahan ditentukan berdasarkan kondisi hernia yang dialami oleh anak. Pembedahan terencana dilakukan setelah anak terdiagnosis hernia dan dalam keadaan sehat serta stabil. Sebaliknya, hernia yang terjepit memerlukan penanganan pembedahan darurat. Jika tidak segera ditangani, dapat terjadi komplikasi serius seperti jaringan atau organ yang terjepit, kebocoran organ, bahkan kematian jaringan atau organ.
Teknologi Terbaru dalam Penanganan Hernia Pada Anak
Karmile menjelaskan bahwa hernia pada anak adalah kondisi yang cukup umum dijumpai. Salah satu cara untuk menangani hernia pada anak adalah melalui operasi. Dengan kemajuan teknologi kedokteran, kini tersedia teknik pembedahan hernia menggunakan laparoskopi, yaitu prosedur operasi yang memanfaatkan kamera, dengan ukuran sayatan yang lebih kecil dibandingkan dengan metode operasi terbuka. Teknik ini memberikan pendekatan minimal invasif dalam penanganan hernia, yang memungkinkan waktu tindakan yang lebih singkat dan masa pemulihan yang lebih cepat, serta memudahkan identifikasi hernia di sisi kanan dan kiri hanya melalui satu sayatan.
Karena hernia sering terjadi pada anak, pemeriksaan rutin dan deteksi dini menjadi sangat penting. Jika hernia sudah mengalami penjepitan, hal ini dapat menyebabkan nyeri yang hebat serta komplikasi yang lebih serius. Salah satu metode operatif untuk hernia adalah pembedahan terbuka, yang melibatkan pembuatan sayatan berukuran sekitar 1-2 cm di setiap lokasi hernia. Namun, saat ini, operasi hernia dengan menggunakan laparoskopi menjadi pilihan yang lebih efektif karena teknologi yang diterapkan lebih canggih dan bersifat minimal invasif. Hal ini memungkinkan masa pemulihan yang lebih cepat dan juga memungkinkan identifikasi hernia di sisi kiri dan kanan melalui satu sayatan yang lebih kecil, yaitu berukuran 0.5-1 cm.
Prosedur laparoskopi
Prosedur laparoskopi dimulai dengan pembuatan sayatan kecil berukuran 0,5-1 cm di area pusar untuk memasukkan kamera. Selanjutnya, pada lokasi hernia yang teridentifikasi, dibuat sayatan yang sangat kecil, sekitar 2-3 mm, untuk menutup hernia tersebut. Metode ini memungkinkan dokter untuk mengidentifikasi sisi kanan dan kiri secara bersamaan melalui satu sayatan. Jika ditemukan hernia umbilikal, penutupan dapat dilakukan dalam prosedur yang sama tanpa perlu menambah sayatan. Setelah prosedur, pasien biasanya dipantau selama 24 hingga 48 jam. Perawatan luka pasca operasi harus dilakukan dengan menjaga area tetap kering dan bersih, serta menggunakan balutan tahan air.
Laparoskopi menawarkan berbagai keunggulan dibandingkan dengan prosedur bedah konvensional atau terbuka. Beberapa keuntungan tersebut antara lain:
- Proses operasi berlangsung lebih cepat.
- Memungkinkan deteksi hernia pada sisi kontralateral yang belum menunjukkan gejala.
- Organ dan saluran tubuh menjadi lebih jelas terlihat.
- Ukuran sayatan yang lebih kecil.