Dokter Ungkap Cara Tangani GERD Tanpa Obat, Simak Penjelasannya
Dokter Dedy G. Sudrajat menegaskan bahwa pengelolaan GERD dapat dilakukan tanpa obat dengan mengubah gaya hidup dan menerapkan pola makan yang sehat.
Obat bukanlah satu-satunya solusi untuk penderita GERD atau Penyakit Refluks Gastroesofagus. Dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi Dedy G. Sudrajat menekankan bahwa perubahan gaya hidup sangat penting untuk mencegah kekambuhan GERD.
"Basic atau fondasi penanganan GERD justru tanpa obat-obatan," ungkap dokter yang berpraktik di RS EMC Grha Kedoya.
Oleh karena itu, upaya perbaikan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan setiap hari, seperti menghindari makanan dan minuman yang dapat memicu GERD serta berhenti merokok.
1. Kenali dan Hindari Makanan Pemicu
Beberapa jenis makanan dan minuman dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kekambuhan GERD. Dedy menjelaskan bahwa ada kategori umum yang sering menjadi pemicu, seperti:
- Makanan yang mengandung lemak tinggi
- Makanan pedas
- Bawang putih dalam jumlah berlebihan
- Kopi
- Alkohol
- Minuman bersoda
Namun, respons setiap individu dapat bervariasi. "Masing-masing orang punya sensitivitas yang lain-lain," kata Dedy.
Ada orang yang masih bisa menikmati kopi tanpa susu dalam porsi kecil, sementara yang lain mungkin lebih sensitif terhadap santan tetapi masih dapat mentolerir makanan pedas. Oleh karena itu, kesadaran terhadap reaksi tubuh menjadi kunci untuk mengendalikan gejala, seperti yang disampaikan Dedy.
Atur porsi dan frekuensi makan dengan baik
Selain dari pemilihan jenis makanan, cara seseorang makan juga berpengaruh terhadap kesehatan. Dedy menekankan bahwa bagi pasien yang mengalami obesitas, penurunan berat badan sangat dianjurkan karena dapat memperbaiki gejala yang dialami secara signifikan. Ia juga menjelaskan bahwa beberapa pasien merasa lebih nyaman dengan pola makan yang sedikit tetapi dilakukan lebih sering. Di sisi lain, ada juga pasien yang merasakan perbaikan gejala saat menjalani puasa.
"Pada pasien-pasien yang Muslim, sering kali malah pada puasa Ramadan, gejalanya hilang," katanya. Namun, Dedy mengingatkan agar pasien tidak berlebihan saat berbuka puasa. Mengonsumsi makanan dalam jumlah yang banyak dan berlemak justru dapat memicu masalah, sehingga penting untuk memperhatikan pilihan menu serta waktu makan saat berbuka.
3. Kunyah Lebih Lama dan Jangan Terlalu Kenyang
Makan dengan cepat bisa memberikan beban berlebih pada lambung. Dedy menyarankan agar kita mengunyah makanan dengan lebih lama dan tidak terburu-buru, serta menghindari kondisi perut yang terlalu kenyang. Jika lambung terisi terlalu penuh, tekanan yang meningkat dapat melemahkan klep yang berfungsi untuk mencegah naiknya asam lambung.
4. Jaga Jarak Waktu Sebelum Tidur
Setelah makan, tubuh memerlukan waktu untuk mencerna makanan yang telah dikonsumsi. Oleh karena itu, sangat tidak disarankan untuk makan menjelang waktu tidur. "Jangan makan langsung berbaring, kalau bisa dijeda 3 jam," tegasnya. Melakukan langkah sederhana ini dapat membantu mencegah munculnya gejala pada malam hari.
5. Hentikan kebiasaan merokok dan perhatikan kesehatan selama kehamilan
Dedy menjelaskan bahwa merokok dapat meningkatkan risiko terjadinya GERD karena asap yang dihirup dapat merusak lapisan pelindung kerongkongan dan mengurangi produksi air liur. Air liur memiliki peran penting sebagai penetral asam dalam lambung. Ia juga mengingatkan bahwa kehamilan dapat menjadi faktor pemicu GERD. Jika seseorang memiliki riwayat gejala GERD pada kehamilan sebelumnya, sangat penting untuk melakukan konsultasi medis.
6. Tetap Tenang Saat Serangan Terjadi
Ketika merasakan ketidaknyamanan di area dada, Dedy menekankan pentingnya untuk tetap tenang dan tidak panik. Kecemasan dapat memperburuk keadaan yang dialami. Dia menyarankan untuk mengonsumsi air putih pada suhu normal, bukan air yang terlalu panas atau dingin, agar gejala dapat mereda dengan lebih cepat.
7. Gunakan Obat Bila Diperlukan
Walaupun perubahan gaya hidup menjadi fokus utama dalam penanganan, Dedy menegaskan bahwa penggunaan obat lambung tetap diperlukan dalam kondisi tertentu. Hal ini terutama berlaku jika gejala GERD masih sering muncul dan pasien masih dalam pengawasan dokter.