Benarkah Keluarga Miskin Punya Anak Lebih Banyak?
Artikel ini mengupas kompleksitas hubungan antara kemiskinan dan jumlah anak, serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Di sebuah kampung di Pulau Sumba, Wewa, seorang ibu berusia 32 tahun, sibuk menenangkan anak bungsunya dari tujuh bersaudara. Rumah papan mereka sederhana, berdinding anyaman bambu, dan penghasilan suami sebagai buruh tani hanya cukup untuk makan sehari-hari. “Anak banyak itu rezeki. Mereka nanti yang bantu kami di sawah,” ujar Siti dengan senyum lelah. Ribuan kilometer jauhnya, di apartemen mewah di Jakarta, Clara, seorang konsultan keuangan, baru saja menjemput anak tunggalnya dari sekolah internasional. “Satu anak saja sudah banyak biayanya. Sekolah, les, liburan, semua harus direncanakan,” katanya sambil memeriksa ponsel.
Kisah Wewa dan Clara seperti dua sisi mata uang, mencerminkan anggapan yang sering kita dengar: orang miskin cenderung punya anak lebih banyak. Tapi, benarkah ini selalu benar? Apa yang mendorong keluarga miskin memiliki lebih banyak anak, dan bagaimana fakta ini terlihat di Indonesia dan dunia? Mari kita telusuri data dan cerita di balik angka-angka itu.
Angka Bicara: Tren Global dan Lokal
Data global menunjukkan hubungan yang jelas antara kemiskinan dan tingkat kesuburan. Menurut Our World in Data, negara berpendapatan rendah memiliki rata-rata tingkat kesuburan (Total Fertility Rate/TFR) 4,5 anak per wanita, sedangkan negara berpendapatan tinggi hanya 1,6 anak (Our World in Data). Misalnya, di Ethiopia, dengan PDB per kapita sekitar $900 pada 2009, TFR mencapai 6,17, sementara Jepang, dengan PDB per kapita $32.600, hanya 1,22.
Di Amerika Serikat, data Statista tahun 2021 menunjukkan keluarga dengan pendapatan di bawah $10.000 memiliki tingkat kelahiran 62,75 per 1.000 wanita, dibandingkan 47,57 untuk keluarga dengan pendapatan di atas $200.000 (Statista). Tren ini juga terlihat di Indonesia. Menurut Indonesia Demographic and Health Survey (IDHS) 2017, perempuan di quintil kekayaan terendah memiliki TFR lebih tinggi dibandingkan quintil tertinggi (IDHS 2017). Penelitian Guttmacher Institute tahun 2005 menunjukkan perempuan miskin di Indonesia menginginkan 3,0–3,4 anak, sedangkan perempuan kaya hanya 2,8 (Guttmacher Institute).
Namun, tingkat kesuburan nasional Indonesia telah turun drastis dari 5,6 anak per wanita pada 1960-an menjadi 2,15 pada 2022, berkat program keluarga berencana dan peningkatan pendidikan (Statista). Meski begitu, di daerah miskin seperti Nusa Tenggara Timur, TFR tetap tinggi, mencerminkan disparitas ekonomi dan akses layanan.
Mengapa Keluarga Miskin Memiliki Lebih Banyak Anak?
Di balik angka-angka ini, ada cerita kehidupan yang menjelaskan mengapa kemiskinan sering dikaitkan dengan keluarga besar. Beberapa faktor utama muncul dari penelitian:
- Biaya Kesempatan yang Rendah
- Di desa-desa seperti tempat tinggal Siti, banyak perempuan bekerja sebagai petani atau ibu rumah tangga tanpa penghasilan tetap. Melahirkan dan mengasuh anak tidak mengurangi pendapatan keluarga secara signifikan. Sebaliknya, di kota, seperti kehidupan Clara, perempuan karir menghadapi kehilangan pendapatan besar saat cuti hamil. Penelitian St. Louis Fed menunjukkan bahwa waktu yang “murah” di negara miskin mendorong tingkat kesuburan lebih tinggi (St. Louis Fed).
- Anak sebagai Investasi Ekonomi
- Bagi keluarga miskin, anak sering dilihat sebagai “jaminan masa depan”. Di banyak komunitas agraris, anak-anak membantu di ladang atau mencari nafkah sejak kecil. Penelitian Paul Schultz (1997) dalam Handbook of Population and Family Economics menyebutkan bahwa keluarga miskin menganggap anak sebagai aset ekonomi untuk pekerjaan dan jaminan hari tua (Yale Economics). Di Indonesia, studi SMERU Institute (2019) menemukan 68% keluarga miskin mengandalkan anak untuk pekerjaan domestik (SMERU).
- Tingkat Kematian Bayi yang Tinggi
- Di daerah miskin, tingkat kematian bayi masih menjadi kekhawatiran. Data WHO menunjukkan tingkat kematian bayi di Indonesia adalah 21 per 1.000 kelahiran hidup, jauh lebih tinggi dibandingkan 3 di Eropa Barat (WHO). Penelitian di Bangladesh menunjukkan jika satu anak meninggal, jumlah anak rata-rata meningkat menjadi 4,7, dibandingkan 2,6 jika tidak ada kematian (PubMed). Ini mendorong keluarga seperti Siti memiliki lebih banyak anak sebagai “asuransi”.
- Akses Terbatas ke Pendidikan dan Kontrasepsi
- Pendidikan perempuan sangat memengaruhi keputusan memiliki anak. Penelitian BMC Public Health menunjukkan bahwa perempuan dengan pendidikan tinggi cenderung memiliki lebih sedikit anak (BMC Public Health). Di Indonesia, hanya 57% perempuan menggunakan kontrasepsi modern, dengan akses lebih rendah di pedesaan (IDHS 2017). Studi SMERU (2019) mencatat 40% klinik keluarga berencana di daerah terpencil kekurangan stok kontrasepsi, membatasi pilihan keluarga miskin.
Pengecualian
Meskipun tren umum menunjukkan keluarga miskin memiliki lebih banyak anak, ada pengecualian yang menarik. Di komunitas ultra-Ortodoks Yahudi di Israel, nilai budaya mendorong tingkat kesuburan tinggi, terlepas dari status ekonomi (Institute for Family Studies Institute for Family Studies). Di negara seperti Prancis, kebijakan pro-natal seperti tunjangan anak meningkatkan kesuburan di kalangan keluarga menengah (IMF IMF).
Penelitian PMC (2018) juga menemukan pola “J terbalik” di negara maju, di mana keluarga terkaya justru memiliki lebih banyak anak setelah mencapai ambang pendapatan tertentu (PMC). Di Indonesia, provinsi urban seperti DKI Jakarta dan Yogyakarta memiliki TFR di bawah 2,1, menunjukkan pengaruh urbanisasi dan pendidikan.
Indonesia: Antara Kemajuan dan Tantangan
Indonesia adalah contoh sukses penurunan tingkat kesuburan. Program keluarga berencana sejak 1970-an, yang dipuji oleh NCBI, telah mengurangi TFR dari 5,6 menjadi 2,3 anak per wanita. Namun, disparitas tetap ada. Studi Bio Web of Conferences menunjukkan perempuan pedesaan usia 15–24 memiliki tingkat kesuburan lebih tinggi dibandingkan perempuan perkotaan, mencerminkan pengaruh kemiskinan dan pendidikan.
Di Sulawesi Selatan, norma sosial seperti pernikahan dini masih mendorong keluarga miskin memiliki lebih banyak anak. Penelitian SMERU (2015) mengungkapkan bahwa banyak keluarga memandang anak sebagai “kebanggaan” meski hidup pas-pasan. Sementara itu, keluarga kaya di kota besar lebih memilih sedikit anak untuk fokus pada pendidikan dan karier.
Siklus Kemiskinan dan Implikasi Kebijakan
Angka kelahiran yang tinggi di kalangan keluarga miskin sering memperpanjang siklus kemiskinan. Anak-anak dari keluarga miskin, menurut SMERU (2019), 4 kali lebih mungkin putus sekolah dan 87% lebih mungkin berpenghasilan rendah saat dewasa. Kesehatan juga menjadi isu: 70% kasus stunting di Indonesia terjadi pada anak dari keluarga prasejahtera.
Untuk memutus siklus ini, kebijakan yang tepat sangat penting. Peningkatan akses pendidikan perempuan, seperti yang berhasil di Vietnam dan Brasil (OECD), dapat menunda pernikahan dini dan menurunkan TFR. Program keluarga berencana perlu diperluas dengan teknologi informasi untuk menjangkau daerah terpencil. Selain itu, layanan kesehatan yang menurunkan kematian bayi dapat mengurangi kebutuhan keluarga untuk memiliki banyak anak sebagai “cadangan”.
Di tingkat global, negara seperti negara Nordik menunjukkan bahwa subsidi anak dan jaminan sosial dapat menstabilkan TFR di angka 1,8–2,0, memberikan inspirasi bagi Indonesia (OECD). Dengan langkah-langkah ini, keluarga miskin dapat merencanakan masa depan yang lebih baik tanpa terjebak dalam tekanan ekonomi atau sosial.
Data dan Fakta
Anggapan bahwa orang miskin punya anak lebih banyak bukan sekadar mitos, tetapi didukung data dan fakta. Berikut ringkasan temuan utama:
- Tren Global: Keluarga miskin di negara berkembang memiliki TFR lebih tinggi (4,5 anak per wanita) dibandingkan keluarga kaya di negara maju (1,6 anak per wanita).
- Faktor Penyebab: Biaya kesempatan rendah, tingkat kematian bayi tinggi, akses terbatas ke pendidikan, dan kontrasepsi mendorong keluarga miskin memiliki lebih banyak anak.
- Konteks Indonesia: Perempuan miskin memiliki TFR lebih tinggi, meskipun program keluarga berencana telah menurunkan TFR nasional menjadi 2,15 pada 2022.
- Pengecualian: Budaya tertentu atau kebijakan pro-natal di negara maju dapat meningkatkan kesuburan di kalangan keluarga kaya.
- Solusi: Pendidikan perempuan, akses kontrasepsi, dan layanan kesehatan adalah kunci untuk menurunkan kesuburan dan memutus siklus kemiskinan.
Seperti kisah Wewa dan Clara, setiap keluarga memiliki alasan dan mimpi masing-masing. Dengan kebijakan yang mendukung, kita bisa memastikan bahwa setiap anak lahir di saat yang tepat, dengan peluang untuk hidup lebih baik—tanpa memandang dompet orang tuanya.