Rahasia Kalsel Damai: Pengamat Ungkap Kunci Demonstrasi Tetap Kondusif di Tengah Gelombang Protes Nasional
Pengamat politik mengungkap mengapa Kalimantan Selatan berhasil menjaga demonstrasi tetap damai dan kondusif, berbeda dengan daerah lain. Apa rahasia di balik Kalsel Damai ini?
Pengamat Politik dan Kebijakan Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Dr. Taufik Arbain, S.Sos., M.Si., menyatakan bahwa Kalimantan Selatan (Kalsel) berhasil menyelenggarakan demonstrasi yang damai dan terkendali. Keberhasilan ini, menurut Taufik, disebabkan oleh komitmen massa yang tetap fokus pada substansi tuntutan mereka, menunjukkan bagaimana Kalsel Damai dapat terwujud. Kondisi ini berbeda dengan situasi demonstrasi yang seringkali diwarnai kericuhan di daerah lain.
Taufik Arbain, yang juga menjabat sebagai Direktur Lembaga Survei Banua Meter, menjelaskan bahwa seluruh elemen di Kalsel, baik pemerintah, non-pemerintah, maupun perguruan tinggi, mampu mengedepankan narasi empati. Mereka memahami karakteristik sosial serta lingkungan kebijakan di wilayah tersebut. Hal ini menciptakan suasana yang kondusif untuk penyampaian aspirasi.
Selain itu, peran para Tuan Guru sebagai tokoh agama yang sangat dihormati turut menjadi faktor kunci dalam menjaga ketenangan. Narasi dan "papadah" (nasihat) dari para Tuan Guru berfungsi sebagai "benteng terakhir" untuk meredam situasi deprivasi relatif yang saat ini banyak didistribusikan melalui media sosial. Kolaborasi ini menunjukkan kapasitas elit dalam memetakan solusi.
Kunci Keberhasilan Kalsel Menjaga Demonstrasi Damai
Keberhasilan Kalimantan Selatan dalam menciptakan demonstrasi yang damai dan tidak mudah terprovokasi, seperti yang terjadi di beberapa daerah lain, adalah karena fokus massa. Mereka berkomitmen penuh pada tujuan awal untuk memperjuangkan tuntutan tanpa melenceng dari jalur yang telah disepakati, menjadi contoh bagaimana Kalsel Damai dapat dipertahankan. Ini mencerminkan kedewasaan dalam menyampaikan aspirasi publik.
Menurut Dr. Taufik Arbain, seluruh komponen di Kalsel, termasuk pemerintah, lembaga non-pemerintah, dan perguruan tinggi, telah mengambil langkah strategis. Mereka berhasil mengedepankan narasi-narasi yang menumbuhkan empati publik. Pendekatan ini sangat efektif karena mampu memahami karakteristik sosial dan lingkungan kebijakan yang berlaku di Kalsel.
Peran penting lainnya datang dari para Tuan Guru, tokoh agama yang sangat dihormati di Kalsel. Narasi serta "papadah" atau nasihat dari para Tuan Guru menjadi simbol dan "benteng terakhir" yang mendinginkan situasi. Nasihat-nasihat ini disebarkan melalui berbagai media, termasuk media sosial, untuk meredam potensi deprivasi relatif yang mungkin muncul.
Kemampuan para elit di Kalsel untuk berkolaborasi dalam mencari solusi atas ketidakpuasan rakyat juga menjadi faktor penentu. Ini menunjukkan kapasitas mereka dalam mengimplementasikan kerangka kebijakan naratif. Pendekatan ini membantu dalam memahami konstruksi sosial yang kompleks di tengah masyarakat.
Peran Aparat dan Pelajaran dari Daerah Lain
Kesediaan Ketua DPRD Kalsel, Supian HK, untuk menemui massa aksi merupakan langkah krusial yang turut menjaga suasana tetap kondusif. Jaminan keamanan dari aparat TNI-Polri, yang dipimpin langsung oleh Kapolda Kalsel Irjen Pol Rosyanto Yudha Hermawan dan Danrem 101 Antasari Brigjen TNI Ilham Yunus, membuat situasi semakin cair dan terkendali. Aparat menunjukkan kemampuan membaca isu dengan tepat.
Taufik Arbain menekankan bahwa aspek "pamuntungan" atau narasi elit dan kelompok tertentu yang mengarah pada kontraproduktif, seperti yang terjadi di Jakarta, harus menjadi pelajaran berharga. Ini berlaku bagi para wakil rakyat, pejabat pemerintah, dan aparat keamanan lainnya. Mereka perlu memahami karakter publik saat mengambil tindakan di lapangan agar tidak memicu konflik.
Aksi demonstrasi di Indonesia saat ini, menurut Taufik, merupakan sesuatu yang logis dan lumrah dalam sebuah negara demokrasi. Namun, kelumrahan ini dapat berubah menjadi situasi yang luar biasa. Hal ini terjadi ketika kondisi mencapai titik kulminasi, tidak hanya sekadar isu biasa, tetapi sudah menyentuh sensitivitas dan mengarah pada resistensi kehidupan publik yang lebih luas.
Isu-isu seperti kenaikan pajak, tingginya angka pengangguran, hingga rendahnya upah buruh dan pegawai honorer yang tidak ada pengangkatan, seringkali menjadi pemicu ketidakpuasan. Sensitivitas ini diperparah ketika berhadapan dengan fakta kontraproduktif, seperti kenaikan tunjangan wakil rakyat atau gaji pejabat BUMN, serta narasi elit yang menyinggung perasaan publik.
Deprivasi Relatif dan Ancaman Anarki Digital
Sensitivitas publik menguat karena narasi elit seringkali berseberangan dengan narasi rakyat, terutama jika sikap diam ini sudah berlangsung lama dari periodisasi pemerintah. Rakyat kemudian berada pada kondisi yang disebut "deprivasi relatif" oleh Ted Gurr. Kondisi ketidakpuasan ini pada akhirnya melahirkan sikap berontak dan keinginan untuk menyampaikan aspirasi secara langsung.
Taufik Arbain juga mengamati bahwa efek dari narasi-narasi sensitif yang berlangsung lama di era digitalisasi sangat mudah dimanfaatkan. Hal ini menjadi instrumen bagi aktor tidak bertanggung jawab untuk membonceng kondisi deprivasi relatif. Mereka dapat menggiring opini publik (Public Opinion Maker - POM) dan mengarahkannya pada tujuan tertentu yang merugikan.
Akibatnya, tuntutan yang berasal dari ketidakpuasan publik dapat dibawa ke ruang anarki dan jalur yang salah. Isu-isu yang awalnya mikro dapat beranjak ke isu meso hingga makro, dengan simbol perlawanan berupa pembakaran, penjarahan, dan perusakan simbol-simbol negara. Fasilitas publik seringkali menjadi sasaran utama dalam aksi-aksi anarkis tersebut.
Sumber: AntaraNews