Menguak Kontribusi Muhammadiyah: Dari Pendidikan, Kesehatan, hingga Kemanusiaan Global
Muhammadiyah, organisasi Islam tertua di Indonesia, telah menunjukkan kontribusi nyata selama 113 tahun dalam pendidikan, kesehatan, dan kemanusiaan, baik di Indonesia maupun dunia.
Muhammadiyah, organisasi Islam terbesar di Indonesia, telah menunjukkan dedikasi luar biasa dalam pembangunan bangsa. Selama 113 tahun berdiri, mereka aktif berkontribusi di berbagai sektor penting.
Gerakan ini tidak hanya fokus pada pendidikan dan kesehatan, tetapi juga merambah ke bidang kemanusiaan secara luas. Kontribusi Muhammadiyah ini mencakup wilayah nasional hingga kancah internasional.
Dengan berlandaskan ajaran Al-Qur'an Surat Al-Ma'un, Muhammadiyah berhasil mengimplementasikan nilai-nilai keagamaan. Hal ini diwujudkan melalui program-program nyata yang berdampak positif bagi masyarakat.
Muhammadiyah dan NU: Dua Pilar Dakwah yang Saling Melengkapi
Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) sering diibaratkan sebagai kakak-adik dalam gerakan Islam di Indonesia. Keduanya merupakan organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di dunia yang memiliki peran penting.
Muhammadiyah, yang lahir lebih dulu pada 18 November 1912, fokus pada persyarikatan dengan landasan Surat Al-Ma'un. Sementara itu, NU yang berdiri pada 31 Januari 1926, lebih berakar pada kebangkitan ulama dan pesantren.
Perbedaan latar belakang ini justru menjadikan keduanya saling melengkapi dalam dakwah Islam. Muhammadiyah unggul dalam pendidikan modern dan kesehatan, sedangkan NU kuat di pendidikan tradisional dan ajaran keagamaan di desa.
Faktanya, Muhammadiyah telah membangun ratusan sekolah dari taman kanak-kanak hingga universitas, serta rumah sakit dan klinik modern. Gerakan ini menunjukkan dinamika tinggi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Trisula Abad Kedua Muhammadiyah: Pilar Kemanusiaan dan Pemberdayaan
Dalam usianya yang ke-113 tahun, Muhammadiyah mengembangkan "Trisula Abad Kedua" sebagai wujud implementasi Teologi Al-Ma'un. Trisula ini terdiri dari Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Muhammadiyah (Lazismu), Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM), dan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC).
Lazismu berperan besar dalam pengumpulan dan penyaluran zakat kepada masyarakat. Pada tahun 2019-2020, lembaga ini secara nasional berhasil mengumpulkan Rp239,003 miliar yang disalurkan.
Lazismu juga aktif mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) melalui program seperti Sekolah Cerdas, EdutabMu, dan Timbang. Program-program ini fokus pada pendidikan, ekonomi, kesehatan, dakwah, dan kemanusiaan.
Keberhasilan Lazismu dalam mengimplementasikan program-programnya bahkan diakui dengan penghargaan "Indonesia's SDGS Action Awards 2022" sebagai pemenang terbaik satu. Selain itu, Lazismu juga menjalankan misi kemanusiaan global di berbagai negara.
Peran MPM dan MDMC dalam Respon Sosial dan Bencana
Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Muhammadiyah memiliki tugas utama dalam akselerasi pemberdayaan masyarakat di berbagai daerah. Mereka melakukan pendidikan dan pelatihan dengan pendekatan ekologi perkembangan manusia.
MPM berfokus pada penyadaran hak dan kewajiban warga negara, pengembangan pendapatan masyarakat termarjinalkan, advokasi kebijakan, dan pembangunan pusat krisis. Contohnya, MPM di Lampung menanam 1.000 pohon cemara laut dan memberikan bimbingan teknis peternakan.
Sementara itu, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) adalah lembaga yang berfokus pada resiliensi kebencanaan, tanggap darurat, serta rehabilitasi pascabencana. Anggota MDMC dibekali kemampuan SAR, kesehatan, dan logistik.
MDMC aktif merespons berbagai bencana alam dan juga membentuk jaringan "Muhammadiyah AID" untuk konflik sosial dan peperangan internasional. Mereka memberikan bantuan di Myanmar, Filipina, Thailand Selatan, dan Palestina.
- Lazismu:
- Sekolah Cerdas: Mengintegrasikan persiapan sekolah dengan mitigasi risiko bencana dan kekerasan.
- EdutabMu: Program pendidikan berbasis teknologi untuk mengatasi kesenjangan akses teknologi.
- Timbang: Kolaborasi dengan Nasyiatul Aisyiah untuk pencegahan stunting di tingkat desa hingga pusat.
- Penyadaran hak dan kewajiban warga negara.
- Pengembangan kebutuhan dasar/pendapatan masyarakat termarjinalkan.
- Advokasi kebijakan terkait kaum termarjinalkan.
- Pengembangan pusat krisis untuk merespons cepat problem masyarakat.
Sumber: AntaraNews