Legislator Jabar: Pola Baru Belajar Kebangsaan Penting untuk Generasi Muda yang Kritis
Anggota DPRD Jabar menyoroti kebutuhan Pola Baru Belajar Kebangsaan bagi generasi muda yang kritis dan dinamis, menggantikan metode konvensional yang dinilai tidak efektif.
Anggota Komisi I DPRD Jawa Barat, Tina Wiryawati, menyoroti pentingnya pola baru belajar kebangsaan bagi generasi muda. Metode konvensional dinilai tidak lagi efektif untuk mereka yang kritis dan dinamis.
Pola sosialisasi berupa ceramah panjang di ruang tertutup sudah tidak relevan. Hal ini disampaikan Tina Wiryawati saat berada di Kuningan, Jawa Barat, pada Kamis lalu.
Kolaborasi dengan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Jabar pun diinisiasi. Tujuannya adalah merancang pendekatan berbasis alam untuk menumbuhkan cinta tanah air.
Mengapa Pola Lama Tidak Efektif?
Tina Wiryawati menjelaskan bahwa metode pembelajaran wawasan kebangsaan yang bersifat konvensional tidak lagi sesuai. Generasi muda saat ini memiliki karakter yang lebih kritis dan dinamis dalam menerima informasi.
Ia menegaskan, "Anak muda sekarang kritis dan dinamis. Kalau masih pakai cara lama, duduk diam berjam-jam mendengarkan ceramah, mereka pasti ngantuk dan materinya tidak masuk." Hal ini menunjukkan perlunya inovasi dalam penyampaian materi kebangsaan.
Pola sosialisasi berupa ceramah panjang di ruang tertutup dianggap membosankan. Akibatnya, esensi dari materi kebangsaan tidak dapat terserap dengan baik oleh para peserta.
Pendekatan Inovatif Berbasis Alam
Perubahan metode pembelajaran menjadi krusial, sehingga Tina Wiryawati bersama Bakesbangpol Jabar merancang konsep berbeda. Mereka mengajak generasi muda untuk lebih peka terhadap lingkungannya melalui pendekatan berbasis alam.
Konsep nature-based learning ini menekankan pada penanaman wawasan kebangsaan melalui interaksi dengan alam. Kedekatan generasi muda dengan alam dan satwa diyakini dapat menjadi titik awal tumbuhnya rasa cinta tanah air.
Tina menambahkan, "Konsepnya kita buat interaktif. Kita hadirkan pecinta satwa, aktivis lingkungan, dan tokoh alam terbuka. Kalau mereka sudah cinta alam Indonesia, otomatis ingin menjaga tanah airnya." Metode ini diharapkan dapat diterima tanpa kesan menggurui.
Membangun Nasionalisme di Era Digital
Metode yang lebih menyenangkan sangat diperlukan agar nilai kebangsaan dapat diterima secara sukarela. Tina menyebut pendekatan jemput bola semacam ini penting menghadapi tantangan disintegrasi di tengah arus informasi yang deras.
"Wawasan kebangsaan harus dikemas asyik. Kita ingin mereka bangga menjadi Indonesia karena sadar dan suka, bukan karena dipaksa," tegasnya. Ini menjadi strategi kunci dalam membangun nasionalisme yang kuat.
Kepala Bakesbangpol Jabar, Wahyu Mijaya, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan memperkuat rasa cinta tanah air. Hal ini dilakukan melalui pola pembelajaran yang relevan dengan perkembangan generasi muda.
Penguatan nilai kebangsaan mencakup penanaman kebanggaan sebagai bangsa Indonesia serta semangat berkontribusi. "Ini untuk menanamkan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia dan dorongan untuk ikut membangun negara," ujarnya, menekankan pentingnya pembangunan karakter sejak dini.
Sumber: AntaraNews