DPRD Bali Ingatkan Seruan Antisipasi Nyepi dan Takbiran, Kedepankan Toleransi
DPRD Bali mengingatkan kembali seruan bersama terkait pelaksanaan Nyepi dan Takbiran di Bali yang berpotensi berbarengan, menekankan pentingnya sikap saling menghormati dan antisipasi guna menjaga kekhusyukan ibadah.
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bali telah mengadakan Rapat Dengar Pendapat (RDP) untuk membahas situasi keamanan dan ketertiban menjelang Hari Raya Nyepi. Dalam rapat tersebut, DPRD Bali mengingatkan bahwa seruan bersama terkait aturan Nyepi yang bertepatan dengan malam Takbiran bersifat antisipasi. Hal ini disampaikan untuk memastikan kelancaran dan kekhusyukan perayaan Nyepi di Pulau Dewata.
Wakil Ketua DPRD Bali I Komang Nova Sewi Putra menjelaskan bahwa seruan tersebut bertujuan untuk mengantisipasi potensi gangguan. Jika Lebaran jatuh pada tanggal 20, maka malam Takbiran akan berlangsung pada tanggal 19, yang berdekatan dengan Nyepi. Antisipasi ini penting agar tidak terjadi hal-hal yang dapat mengganggu pelaksanaan Nyepi.
DPRD Bali menegaskan bahwa isi seruan bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Bali bukanlah aturan mengikat, melainkan sebuah imbauan. Masyarakat di Bali diharapkan dapat mengedepankan sikap saling menghormati. Tujuannya adalah untuk menjaga harmoni tanpa terpengaruh oleh pro dan kontra terkait izin Takbiran jika bertepatan dengan Nyepi.
Pentingnya Toleransi dan Antisipasi dalam Pelaksanaan Nyepi dan Takbiran
DPRD Bali, melalui Wakil Ketua I Komang Nova Sewi Putra, menegaskan bahwa seruan bersama terkait Nyepi dan Takbiran bersifat antisipasi. Ini untuk menghindari gangguan saat umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian. Seruan ini bukan aturan mengikat, melainkan imbauan kepada masyarakat.
Masyarakat di Bali diharapkan mampu mengedepankan sikap saling menghormati. Hal ini berlaku tanpa terpengaruh oleh riak-riak pro dan kontra isi seruan, terutama mengenai diberikannya izin melakukan Takbiran jika bertepatan.
Umat Muslim yang akan melaksanakan Takbiran diimbau melakukannya di lingkungan rumah atau tempat ibadah terdekat. Tujuannya agar tidak mengganggu ketertiban umum dan kekhusyukan Catur Brata Penyepian. Kesadaran masing-masing masyarakat menjadi faktor utama dalam menjaga harmoni.
Peran Penegak Hukum dan Kesadaran Masyarakat
Ketua Fraksi Demokrat-NasDem DPRD Bali, Somvir, menyoroti perlunya keterlibatan kepolisian untuk meredam tanggapan negatif di media sosial. Selain pemimpin organisasi keagamaan, Polda Bali diharapkan berperan aktif dalam mengamankan kelancaran Nyepi.
Polda Bali, bersama unsur pecalang desa adat, perlu bertindak tegas. Ini untuk memastikan seluruh masyarakat memahami batasan selama Nyepi. Koordinasi antara pihak terkait sangat penting agar Standard Operating Procedure (SOP) menjadi jelas.
Somvir mengusulkan rapat koordinasi dengan Polda Bali untuk menetapkan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. SOP yang jelas akan membantu warga memahami batasan, termasuk apakah warga agama lain boleh keluar atau cukup di rumah saja. Ini akan menjamin keamanan, kenyamanan, serta kekhusyukan umat beragama di Bali.
Sumber: AntaraNews