Xabi Alonso Akhiri Karier di Real Madrid, Ungkap Rasa Bangga Meski Tak Sesuai Harapan
Xabi Alonso resmi mengakhiri masa kepelatihannya di Real Madrid setelah kekalahan di Piala Super Spanyol 2026, menyatakan bangga telah memberikan yang terbaik.
Jakarta, 14/1 (ANTARA) - Karier Xabi Alonso sebagai pelatih Real Madrid telah berakhir lebih cepat dari yang diperkirakan. Meskipun tidak sesuai dengan keinginan awalnya, Alonso menegaskan bahwa ia pergi dengan perasaan bangga karena telah mengerahkan usaha maksimal selama memimpin Los Blancos. Keputusan ini datang setelah serangkaian hasil kurang memuaskan yang memuncak pada kekalahan di final Piala Super Spanyol 2026.
Alonso menyampaikan perpisahannya melalui unggahan di Instagram pada Selasa (13/1), menyatakan bahwa fase profesionalnya telah selesai dan tidak berakhir sesuai harapan. Ia menganggap melatih Real Madrid sebagai sebuah kehormatan dan tanggung jawab besar. Pernyataan ini menunjukkan profesionalisme dan dedikasinya terhadap klub, meskipun harus berpisah di tengah jalan.
Mantan gelandang Real Madrid ini juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada klub, para pemain, dan khususnya seluruh penggemar Madrid atas dukungan serta kepercayaan yang telah diberikan. Ia menekankan bahwa kepergiannya dilandasi rasa bangga, hormat, dan puas karena merasa telah melakukan yang terbaik. Perpisahan ini menandai akhir dari perjalanan tujuh bulan Alonso di kursi kepelatihan Real Madrid.
Perpisahan Xabi Alonso dengan Real Madrid
Xabi Alonso secara resmi tidak lagi menjabat sebagai pelatih Real Madrid pada Senin (12/1) malam WIB. Pengumuman ini hanya berselang kurang dari 24 jam setelah Real Madrid menelan kekalahan 2-3 dari rival abadi mereka, Barcelona, dalam pertandingan final Piala Super Spanyol 2026. Perpisahan ini menjadi sorotan utama di dunia sepak bola, mengingat ekspektasi tinggi yang menyertai kedatangan Alonso.
Dalam surat perpisahannya yang diunggah di Instagram, Alonso mengungkapkan perasaannya. "Fase profesional saya sudah selesai, dan tidak berakhir seperti yang kita inginkan. Melatih Real Madrid merupakan kehormatan dan tanggung jawab besar," ujarnya. Ia juga menambahkan, "Saya pergi dengan rasa bangga, respek, dan puas karena telah melakukan yang terbaik."
Meskipun masa kepelatihannya berakhir dengan kekecewaan, Alonso memilih untuk tidak menyimpan dendam. Ia tetap mengapresiasi kesempatan yang diberikan sejak Mei lalu untuk melatih klub yang juga membesarkan namanya sebagai pemain. Sikap profesional ini menunjukkan kematangan Alonso dalam menghadapi situasi sulit.
Penyebab Perpisahan Xabi Alonso dari Real Madrid
Kekalahan di final Piala Super Spanyol 2026 menjadi pemicu utama manajemen Real Madrid dalam mengambil keputusan untuk mengakhiri kontrak Xabi Alonso. Performa tim memang menunjukkan penurunan signifikan sejak November tahun lalu. Dari 14 pertandingan yang dimainkan, Los Blancos hanya mampu meraih tujuh kemenangan, sebuah catatan yang jauh dari standar klub sebesar Real Madrid.
Situasi ini berdampak langsung pada posisi Real Madrid di klasemen Liga Spanyol. Mereka harus kehilangan puncak klasemen setelah disalip oleh Barcelona, yang semakin menambah tekanan pada Alonso. Penurunan performa ini menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan manajemen dan penggemar.
Selain faktor hasil pertandingan, Alonso juga dikabarkan kehilangan kendali atas ruang ganti tim. Perseteruannya dengan sejumlah pemain disebut-sebut menjadi alasan utama manajemen mengambil keputusan tegas. Langkah ini diambil demi menjaga stabilitas dan keharmonisan tim secara keseluruhan.
Rekam Jejak Xabi Alonso di Real Madrid
Xabi Alonso sempat digadang-gadang sebagai sosok yang mampu mengembalikan kejayaan Real Madrid. Ia didatangkan setelah sukses besar bersama klub Bundesliga, Bayer Leverkusen, dengan ekspektasi tinggi untuk membawa perubahan positif. Namun, ekspektasi tersebut gagal terwujud dalam tujuh bulan masa kepemimpinannya di Santiago Bernabeu.
Selama menukangi Real Madrid, Xabi Alonso mencatatkan statistik yang cukup beragam. Ia berhasil memimpin tim dalam 24 kemenangan, empat hasil imbang, dan enam kekalahan di semua kompetisi. Meskipun ada beberapa kemenangan penting, konsistensi menjadi masalah utama yang tidak dapat diatasi.
Meskipun demikian, pengalaman melatih Real Madrid, klub raksasa Eropa, tentu akan menjadi pembelajaran berharga bagi karier kepelatihan Alonso di masa depan. Perjalanan ini, meski singkat dan penuh tantangan, telah menambah catatan penting dalam portofolio kepelatihannya.
Sumber: AntaraNews