Wamenekraf Irene Umar Dorong Kreativitas Film Animasi 'Pelangi di Mars' Hingga Potensi Suvenir
Wamenekraf Irene Umar dorong kreativitas film animasi 'Pelangi di Mars' agar tak berhenti di layar, melainkan merambah potensi suvenir dan IP. Simak inovasi teknologi XR yang digunakan!
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamenekraf) Irene Umar menyerukan pentingnya pengembangan ide kreatif dalam industri film, khususnya animasi. Ia menekankan bahwa kolaborasi dapat membuka peluang baru, termasuk dalam pembuatan merchandise atau suvenir. Pernyataan ini disampaikan dalam keterangan pers di Jakarta baru-baru ini.
Wamenekraf Irene secara khusus menyoroti potensi komersialisasi dan pemasaran film animasi 'Pelangi di Mars' yang digarap oleh DossGuavaXR Studio. Kunjungan ini bertujuan untuk melihat langsung proses kreatif di balik layar produksi film tersebut. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam mendukung inovasi di sektor ekonomi kreatif.
Irene Umar mendorong para sineas untuk tidak hanya berfokus pada produksi film, tetapi juga memanfaatkan Intellectual Property (IP) yang telah dibuat. Pengembangan IP melalui lisensi dan kolaborasi diharapkan mampu memperkuat identitas film. Langkah ini krusial untuk menghadapi tantangan investasi awal dalam produksi animasi.
Inovasi Teknologi Extended Reality dalam Produksi Film Animasi
Film animasi 'Pelangi di Mars' mengadopsi teknologi produksi virtual canggih yang dikenal sebagai Extended Reality (XR). Teknologi ini memanfaatkan dinding LED untuk menciptakan latar belakang atau set tempat, serta karakter 3D yang sangat realistis. Dengan demikian, produksi hanya perlu menempatkan pemeran untuk live action dalam proses syuting.
Pendekatan kreatif yang diterapkan oleh DossGuavaXR Studio ini juga sering digunakan dalam produksi iklan dan dikenal dengan istilah StageCraft. Metode ini merupakan bentuk teknologi efek visual yang lebih inovatif, memungkinkan penciptaan dunia digital yang imersif dan interaktif.
Wamenekraf Irene Umar mengapresiasi DossGuavaXR yang berhasil mempertemukan talenta-talenta nyata dengan dukungan teknologi mutakhir. Sinergi antara keahlian manusia dan kemajuan teknologi ini menjadi kunci dalam menghasilkan karya animasi berkualitas tinggi.
Strategi Komersialisasi dan Pengembangan Intellectual Property
Dalam memproduksi film animasi, Wamenekraf Irene menekankan pentingnya memahami model bisnis yang ditawarkan (offering business model) dan mengarahkan pada call to action yang jelas. "Dalam produksi film animasi, kita harus tahu betul offering business modelnya seperti apa kemudian mengarahkan juga call to action sehingga fokusnya membangun eksposur Intellectual Property (IP) dari karya yang telah dibuat," ungkap Irene.
Ia melanjutkan, "Melalui lisensi, kolaborasi, dan penjajakan potensi para pembuat animasi harus bergeser ke arah prioritas eksposur IP tadi setelah melewati tantangan investasi di awal." Hal ini menunjukkan bahwa fokus pada pengembangan IP adalah langkah strategis untuk keberlanjutan dan profitabilitas.
Produksi film animasi 'Pelangi di Mars' menghadapi berbagai tantangan, yang mendorong para sineas untuk mengadopsi teknologi baru dan menciptakan peluang lain. Tujuannya adalah untuk memperkenalkan serta menguatkan identitas filmnya agar diterima khalayak ramai, tidak hanya melalui live action shot tetapi juga motion picture yang menggunakan body actor.
Upie Guava, sutradara film ini, menjelaskan progres teknikal 'Pelangi di Mars' saat ini sekitar 10 persen pada tahap akhir. "Progres secara teknikal film animasi Pelangi di Mars sekitar 10 persen pada tahap akhir meliputi finishing sound design, grading, animation visual effects (VFX), dan beberapa revisi bagian lain," kata Upie. Ia menambahkan, "Ketika Jumbo sudah diterima masyarakat, confidence level kami makin tinggi. Begitu juga saat bertemu dengan Wamen Ekraf hari ini dengan ditawarkan beragam opportunity yang membuat kami merasa on the right track."
Kisah Petualangan 'Pelangi di Mars' dan Harapan Masa Depan
Film animasi 'Pelangi di Mars' mengisahkan tentang manusia pertama yang lahir di Mars bernama Pelangi. Ia tumbuh bersama robot-robot cerdas seperti Batik, Kimchi, Petya, Sulil, dan Yoman. Mereka memiliki misi penting untuk menemukan mineral ajaib, Zeolit Omega, yang diyakini dapat menyelamatkan Bumi.
Petualangan sinematik yang penuh fantasi ini direncanakan akan menjadi bagian dari universe 'Pelangi di Mars' yang lebih luas, dimulai pada tahun 2026. Ini menunjukkan visi jangka panjang untuk mengembangkan IP menjadi sebuah waralaba yang berkelanjutan.
Dengan dukungan dan dorongan dari Wamenekraf, diharapkan ide kreatif film animasi seperti 'Pelangi di Mars' dapat terus berkembang. Potensi ini tidak hanya terbatas pada layar lebar, tetapi juga merambah ke berbagai produk turunan seperti suvenir, yang dapat memperluas jangkauan dan dampak ekonomi kreatif.
Sumber: AntaraNews