WALHI Jambi Soroti Ancaman Serius Dampak Limbah PETI Terhadap Kesehatan Warga dan Lingkungan
WALHI Jambi mengungkapkan kekhawatiran mendalam atas dampak limbah PETI Jambi yang mengancam kesehatan masyarakat dan ekosistem Sungai Batanghari akibat merkuri.
Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Jambi pada Jumat (02/1) menyuarakan keprihatinan serius terkait dampak limbah Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI). Limbah ini dinilai mengancam kesehatan masyarakat serta ekosistem di sepanjang aliran Sungai Batanghari. Ancaman ini berasal dari bahan berbahaya yang terbawa aliran sungai.
Direktur WALHI Jambi, Oscar Anugrah, menjelaskan bahwa aktivitas PETI menghasilkan lumpur dan merkuri dalam jumlah signifikan. Bahan berbahaya tersebut mencemari sungai dan membahayakan jutaan warga yang bergantung pada sumber air tersebut untuk kebutuhan sehari-hari. Ini menjadi masalah krusial yang harus segera ditangani.
Kerusakan lingkungan akibat praktik ilegal ini telah berlangsung bertahun-tahun tanpa penanganan tuntas oleh pihak berwenang. WALHI mendesak pemerintah dan aparat penegak hukum untuk segera bertindak tegas guna melindungi warga dan lingkungan Jambi. Situasi ini memerlukan respons cepat dan terkoordinasi.
Skala Kerusakan Lingkungan Akibat PETI di Jambi
Berdasarkan rangkuman data WALHI, hingga tahun 2025, luasan hutan yang rusak akibat praktik PETI di Jambi diperkirakan mencapai 44.387 hektare. Angka ini mencerminkan skala kerusakan lingkungan yang masif dan berkelanjutan di berbagai wilayah. Kondisi ini menunjukkan dampak serius dari aktivitas ilegal.
Kabupaten Sarolangun tercatat sebagai wilayah paling terdampak parah, dengan sekitar 14.900 hektare lahan mengalami kerusakan. Aktivitas gali cepat di sana secara signifikan mencemari sungai dengan lumpur dan merkuri. Pencemaran ini merusak kualitas air dan mengganggu biota sungai.
Limbah berbahaya dari lokasi tambang kemudian mengalir hingga ke Sungai Batanghari, menimbulkan ancaman nyata bagi jutaan warga. Masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sungai tersebut kini menghadapi risiko kesehatan serius. Ketergantungan pada air sungai yang tercemar meningkatkan kerentanan mereka.
Meskipun berbagai kebijakan telah diupayakan oleh pemerintah daerah dan pusat, masalah PETI ini belum mampu diatasi secara efektif. WALHI berharap pemerintah dan penegak hukum di Jambi memberikan perhatian lebih terhadap isu PETI. Kerusakan di bagian hulu berdampak erat pada kehidupan di hilir sungai, khususnya bagi ekosistem akibat pencemaran lingkungan.
Ancaman Kesehatan Masyarakat dan Desakan Penguatan Pengawasan
Keberadaan merkuri dan logam berat lainnya dalam limbah PETI menimbulkan ancaman kesehatan serius bagi masyarakat yang terpapar. Paparan jangka panjang dapat menyebabkan berbagai penyakit kronis, gangguan saraf, hingga masalah perkembangan pada anak-anak. Ini merupakan krisis kesehatan publik yang membayangi.
Oscar Anugrah menekankan bahwa kerusakan ekosistem di bagian hulu sungai akan berdampak erat pada kehidupan di hilir. Pencemaran lingkungan yang terus-menerus mengancam keberlangsungan ekosistem sungai secara keseluruhan. Hal ini termasuk hilangnya keanekaragaman hayati dan sumber daya perikanan.
WALHI Jambi mendorong semua pihak terkait untuk memperkuat pengawasan terhadap aktivitas PETI yang masih berlangsung. Pemberantasan tambang ilegal ini sangat penting demi kepentingan lingkungan jangka panjang dan keberlanjutan hidup masyarakat. Langkah-langkah tegas diperlukan untuk menghentikan praktik merusak ini.
"Sudah berapa tahun kegiatan seperti ini terjadi sampai hari ini masih berlangsung," ujar Oscar Anugrah, menyoroti lamanya masalah ini. "Kami berharap pemerintah dan aparat penegak hukum perhatian terhadap isu PETI, karena kerusakan itu akan berdampak luas dan serius bagi kita semua."
Sumber: AntaraNews