Wagub Kalbar Tekankan Pentingnya Ubah Persepsi Negatif Dayak: Modern dan Beradab
Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, menyerukan perubahan persepsi negatif Dayak, menegaskan bahwa masyarakat Dayak adalah cerdas, modern, dan toleran, bukan terisolasi.
Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, secara tegas menyoroti urgensi untuk mengubah persepsi negatif yang selama ini kerap dilekatkan pada masyarakat Dayak. Pernyataan ini disampaikan dalam sambutannya pada Pekan Gawai Dayak (PGD) ke-3 yang diselenggarakan oleh Forum Dayak Kalimantan Jakarta (FDKJ) di Hampton Square Serpong, Tangerang, pada Minggu.
Krisantus menekankan bahwa pandangan keliru tentang masyarakat Dayak sebagai kelompok yang seram atau terisolasi harus dihapuskan. Ia menegaskan bahwa realitasnya, masyarakat Dayak adalah individu yang cerdas, berpendidikan, serta memiliki sifat yang sangat bersahabat dan terbuka.
Melalui perhelatan budaya seperti Gawai Dayak, Wagub berharap masyarakat luas dapat melihat Dayak sebagaimana adanya: sebuah komunitas yang modern, toleran, dan memiliki peradaban tinggi. Ini merupakan upaya untuk menepis stigma dan menampilkan identitas Dayak yang sesungguhnya.
Mengikis Stigma dan Membangun Citra Positif Dayak
Krisantus Kurniawan menyatakan bahwa sudah saatnya masyarakat mengubah pandangan yang salah mengenai suku Dayak. Ia menegaskan, "Dayak itu bukan seram, bukan terisolasi. Sesungguhnya masyarakat Dayak itu cerdas, ganteng-ganteng, cantik-cantik, dan sangat bersahabat." Pernyataan ini bertujuan untuk meluruskan persepsi yang tidak sesuai dengan kenyataan.
Menurutnya, masyarakat Dayak merupakan kelompok yang sangat terbuka terhadap perubahan dan kemajuan. Mereka juga aktif berperan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa, menunjukkan kapasitas dan kontribusi nyata.
Wagub Krisantus mengajak semua pihak untuk melihat Dayak sebagai bagian integral dari masyarakat modern Indonesia. "Sudah saatnya kita menunjukkan kepada dunia bahwa Dayak bukan sekadar simbol masa lalu, melainkan masyarakat yang modern, toleran, dan memiliki peradaban tinggi," tuturnya, menekankan pentingnya citra positif ini.
Pelestarian Budaya dan Kebinekaan di Kalimantan Barat
Wakil Gubernur Krisantus juga menyoroti pentingnya budaya sebagai fondasi utama keberlangsungan suatu suku dan bangsa, terutama di tengah derasnya arus informasi dan globalisasi. Ia mengingatkan bahwa masyarakat yang tidak melestarikan budayanya akan punah ditelan zaman, sehingga budaya adalah kekayaan yang wajib dijaga.
Pelestarian budaya Dayak tidak hanya sebatas pada ritual dan upacara, tetapi juga pada upaya menanamkan kebanggaan dan pemahaman nilai-nilai luhur kepada generasi muda. Krisantus mengajak masyarakat Dayak untuk terus menjaga warisan leluhur sambil beradaptasi dengan kemajuan teknologi, agar nilai-nilai tersebut tetap relevan.
Lebih lanjut, Krisantus menekankan pentingnya menghapus sekat antara masyarakat "asli" dan "pendatang" di Kalimantan Barat. Ia menyebut bahwa Kalbar adalah rumah bagi 24 suku dan hampir seluruh suku di Indonesia, yang hidup berdampingan secara damai. "Baik Dayak maupun Melayu, semua menyambut saudara-saudara dari daerah lain dengan tangan terbuka. Kalbar adalah rumah kebinekaan," ujarnya, menggambarkan provinsi tersebut sebagai contoh persatuan.
Kontribusi Ekonomi dan Budaya Komunitas Dayak di Perantauan
Dalam kesempatan yang sama, Ketua FDKJ, Gregorio Victor Leo Oendoen, memaparkan berbagai capaian organisasi hingga tahun 2025. Di bidang ekonomi, FDKJ telah mendirikan Koperasi Suniot Talino sejak 2022, yang kini memiliki hampir 200 anggota dengan aset mencapai Rp750 juta. Sebanyak 60 persen dana koperasi ini dialokasikan untuk mendukung pelaku UMKM anggotanya.
Koperasi ini juga mengelola lahan hortikultura seluas 9 hektare di beberapa wilayah seperti Cimanggis, Depok, Galur Tengah, dan Jonggol. Komoditas utama yang dibudidayakan meliputi bawang merah, cabai, jagung, mentimun, dan buncis, menunjukkan kontribusi nyata dalam sektor pertanian.
Selain itu, FDKJ aktif membina sekitar 40 pelaku UMKM kuliner dan produk khas Dayak, termasuk tuak dan wine tradisional, keripik pare, keripik pisang, tempoyak, dan cencalok. Di bidang budaya, FDKJ membina kelompok seni musik dan tari internal, dengan semua penampil PGD kali ini merupakan anggota yang mendapat pembinaan sukarela dari pelatih profesional. PGD ke-3 FDKJ bukan hanya perayaan, melainkan simbol kebangkitan dan bukti bahwa masyarakat Dayak mampu bersaing dan menjadi bagian penting dari kemajuan bangsa.
Sumber: AntaraNews