Tahukah Anda? Gubernur Kalteng Komitmen Kuat Lindungi Martabat Masyarakat Adat Dayak

Gubernur Kalteng Agustiar Sabran tegaskan komitmen pemerintah provinsi untuk melindungi martabat Masyarakat Adat Dayak. Apa langkah konkret yang diambil untuk mewujudkannya?

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Tahukah Anda? Gubernur Kalteng Komitmen Kuat Lindungi Martabat Masyarakat Adat Dayak
Gubernur Kalteng Agustiar Sabran tegaskan komitmen pemerintah provinsi untuk melindungi martabat Masyarakat Adat Dayak. Apa langkah konkret yang diambil untuk mewujudkannya? (Merdeka.com)

Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) menunjukkan komitmen kuat terhadap perlindungan dan pengangkatan martabat Masyarakat Adat Dayak. Gubernur Kalteng, Agustiar Sabran, menegaskan bahwa eksistensi mereka adalah bagian tak terpisahkan dari roda pembangunan daerah yang berkelanjutan.

Pernyataan penting ini disampaikan Agustiar Sabran saat membuka seminar internasional bertajuk "Pumpung Hai Borneo (The Great Borneos Assembly)" di Palangka Raya pada Jumat, 22 Agustus. Acara tersebut merupakan bagian dari peringatan International Day of the World's Indigenous People yang dihadiri berbagai pihak.

Komitmen tersebut sejalan dengan visi pembangunan daerah Kalteng, yaitu "Manggatang Utus," yang berarti mengangkat harkat dan martabat masyarakat. Fokus utamanya adalah Masyarakat Adat Dayak, namun juga mencakup seluruh masyarakat Kalteng dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Memperkuat Visi "Manggatang Utus" dan Warisan Peradaban Dayak

Visi "Manggatang Utus" menjadi landasan utama bagi pemerintah provinsi dalam setiap langkah pembangunan di Kalimantan Tengah. Gubernur Agustiar Sabran menekankan bahwa visi ini bukan hanya sekadar slogan, melainkan sebuah panduan nyata untuk memastikan Masyarakat Adat Dayak mendapatkan tempat yang layak dan dihormati.

Melalui penyelenggaraan seminar ini, pemerintah provinsi mengajak semua pihak untuk mengenang kembali Perjanjian Damai Tumbang Anoi yang terjadi pada tahun 1894. Perjanjian bersejarah tersebut merupakan fondasi penting bagi terciptanya perdamaian dan kemajuan peradaban Dayak yang telah terjalin selama ini.

Semangat perdamaian dan persatuan dari Tumbang Anoi harus terus dihidupkan di tengah masyarakat, salah satunya melalui kegiatan Napak Tilas Tumbang Anoi yang rutin dilaksanakan setiap tahun. Hal ini bertujuan untuk menjaga ingatan kolektif dan memperkuat identitas budaya Masyarakat Adat Dayak.

Gubernur juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersatu padu menyuarakan kepentingan daerah. Tujuannya agar hasil kekayaan alam Kalimantan benar-benar memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat, tanpa mengabaikan pentingnya keberlanjutan lingkungan dan ekosistem.

Peran Strategis Masyarakat Adat dan Keadilan Fiskal Kalimantan

Dalam forum internasional ini, Agustiar Sabran dengan tegas menyatakan bahwa Masyarakat Adat Dayak bukanlah entitas yang tertinggal atau terpinggirkan. Sebaliknya, mereka adalah mitra utama yang memiliki peran krusial dalam menjaga kelestarian bumi, hutan, dan peradaban yang ada.

Masyarakat adat terbukti memiliki kearifan lokal yang mendalam dalam pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Oleh karena itu, kolaborasi dengan mereka sangat penting untuk mencapai pembangunan yang harmonis antara manusia dan lingkungan.

Seminar ini juga berfungsi sebagai wadah kolaborasi penting untuk memperjuangkan kepentingan bersama daerah-daerah penghasil sumber daya alam di Kalimantan. Hal ini sejalan dengan upaya untuk mencapai keadilan fiskal yang lebih baik dan merata bagi wilayah-wilayah tersebut.

Kegiatan seminar ditutup dengan penandatanganan kesepakatan bersama yang menunjukkan komitmen kuat seluruh pemerintah daerah. Kesepakatan ini bertujuan memperkuat posisi Masyarakat Adat Dayak serta menjadikan Kalimantan sebagai pusat ekonomi Indonesia dan pusat budaya Dayak berskala internasional.

Sinergi Daerah Penghasil Sumber Daya Alam

Komitmen yang telah disepakati ini merupakan kelanjutan dari Rapat Koordinasi Gubernur bertajuk Sinergi Daerah Penghasil Sumber Daya Alam. Rapat tersebut digelar di Balikpapan pada 9 Juli 2025, membahas strategi untuk menggali potensi Dana Bagi Hasil (DBH).

Fokus utama rapat adalah DBH dari sektor pertambangan, kehutanan, dan perkebunan. Tujuannya adalah guna penguatan fiskal daerah, memastikan bahwa kekayaan alam yang melimpah dapat memberikan kontribusi signifikan bagi kesejahteraan masyarakat setempat.

Forum ini menjadi momentum penting untuk memperkuat langkah-langkah nyata menuju keadilan fiskal bagi daerah-daerah penghasil di Kalimantan. Dengan demikian, diharapkan ada pemerataan pembangunan dan peningkatan kualitas hidup bagi seluruh penduduk.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi