Wagub Emil Dardak Hadiri Tradisi Lebaran Ketupat Durenan Trenggalek, Jaga Warisan Budaya Ratusan Tahun
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak turut merayakan Tradisi Lebaran Ketupat Durenan Trenggalek, sebuah warisan budaya berusia ratusan tahun yang berakar dari pesantren. Simak makna dan sejarahnya!
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menghadiri Tradisi Lebaran Ketupat di Desa Durenan, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, pada Sabtu. Kehadiran beliau menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam melestarikan budaya lokal yang telah berlangsung turun-temurun. Tradisi ini menjadi simbol penting kebersamaan masyarakat.
Emil Dardak, didampingi istrinya Arumi Bachsin, mengikuti rangkaian kegiatan silaturahim dengan pengasuh Pondok Pesantren Babul Ulum KH Abdul Fattah Muin serta masyarakat setempat. Beliau menekankan bahwa Tradisi Lebaran Ketupat merupakan upaya menjaga warisan budaya. Perayaan ini telah ada sejak ratusan tahun lalu dan masih terjaga hingga kini.
Dalam acara tersebut, Wagub Emil juga mengikuti prosesi pemberangkatan pawai tumpeng ketupat yang meriah. Pawai ini menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi kupatan, sebelum nantinya ketupat diperebutkan warga. Momen ini memperkuat ikatan sosial dan rasa persatuan di antara warga Durenan.
Sejarah dan Makna Tradisi Lebaran Ketupat Durenan Trenggalek
Tradisi Lebaran Ketupat di Durenan memiliki nilai historis yang kuat, berakar dari tradisi pesantren yang kemudian berkembang menjadi budaya masyarakat luas di Trenggalek. Perayaan ini telah berlangsung lebih dari dua abad, menjadikannya bagian integral dari identitas lokal. Hal ini menunjukkan kedalaman sejarah budaya di wilayah tersebut.
Awal mula tradisi ini berasal dari kebiasaan KH Imam Mahyin, seorang tokoh penting di Pondok Pesantren Babul Ulum Durenan. Beliau menjalankan puasa Syawal selama enam hari setelah Idul Fitri. Kemudian, pada hari ketujuh, beliau menggelar silaturahim dengan menyajikan ketupat dan sayur lodeh kepada masyarakat.
Seiring berjalannya waktu, kebiasaan ini tidak hanya terbatas di lingkungan pesantren saja. Tradisi tersebut menyebar luas ke masyarakat, khususnya di wilayah Kecamatan Durenan. Bahkan, perayaan ini meluas ke sejumlah daerah lain seperti Kecamatan Trenggalek dan Gandusari, hingga wilayah sekitar Trenggalek.
Saat ini, perayaan Lebaran Ketupat digelar hampir merata di berbagai desa di Trenggalek. Meskipun demikian, pusat kegiatan utama tetap berada di kawasan Durenan sebagai titik awal dan jantung dari tradisi ini. Ini menunjukkan bagaimana sebuah tradisi dapat tumbuh dan berkembang dari satu titik ke seluruh wilayah.
Peran Wagub Emil Dardak dalam Melestarikan Budaya Lokal
Kehadiran Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak dalam Tradisi Lebaran Ketupat Durenan Trenggalek menunjukkan dukungan pemerintah terhadap pelestarian budaya. Beliau secara langsung terlibat dalam kegiatan, memberikan contoh nyata. Ini adalah bentuk apresiasi terhadap kekayaan budaya daerah.
Emil Dardak bersama istrinya, Arumi Bachsin, tidak hanya hadir sebagai tamu kehormatan. Mereka aktif mengikuti setiap prosesi, termasuk pawai tumpeng ketupat yang menjadi daya tarik utama. Partisipasi ini mempererat hubungan antara pemimpin dan masyarakat.
Momentum kupatan juga menjadi waktu yang tepat bagi Emil Dardak untuk kembali ke kampung halaman. Beliau menjelaskan bahwa pada Hari Raya Idul Fitri, dirinya menjalankan tugas kedinasan di Surabaya. Oleh karena itu, Lebaran Ketupat memberikan kesempatan untuk pulang kampung dan bersilaturahim.
Emil Dardak menegaskan pentingnya menjaga warisan budaya seperti Tradisi Lebaran Ketupat. Beliau berharap tradisi ini terus lestari dan menjadi kebanggaan bagi masyarakat Trenggalek. Upaya pelestarian ini penting untuk generasi mendatang.
Dampak Positif Tradisi Lebaran Ketupat Durenan Trenggalek
Tradisi Lebaran Ketupat di Durenan tidak hanya sekadar perayaan budaya. Acara ini juga menjadi ajang silaturahim yang efektif bagi masyarakat. Warga berkumpul, saling bermaaf-maafan, dan mempererat tali persaudaraan setelah sebulan penuh berpuasa.
Selain itu, Lebaran Ketupat juga memiliki dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat setempat. Perayaan ini mampu menggerakkan aktivitas ekonomi, mulai dari penjualan bahan baku ketupat hingga makanan dan minuman. Para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mendapatkan keuntungan dari keramaian ini.
Perayaan ini juga berhasil menarik kunjungan wisatawan lokal ke Durenan, Trenggalek. Daya tarik budaya yang unik dan meriah menjadi magnet bagi pengunjung. Peningkatan kunjungan wisatawan berkontribusi pada pendapatan daerah dan promosi pariwisata lokal.
Dengan demikian, Tradisi Lebaran Ketupat Durenan Trenggalek berfungsi ganda. Ia tidak hanya melestarikan warisan leluhur, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi dan pariwisata. Ini adalah contoh bagaimana budaya dapat menjadi kekuatan pendorong pembangunan daerah.
Sumber: AntaraNews