Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, turut memfasilitasi gelaran Festival Perang Ketupat yang berlokasi di Tempilang. Acara ini merupakan wujud nyata komitmen Pemkab dalam melestarikan tradisi lokal yang telah mengakar kuat di masyarakat. Festival ini menjadi penanda penting menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, dengan melibatkan partisipasi aktif dari seluruh warga setempat.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangka Barat, Fachriansyah, menjelaskan bahwa tradisi Perang Ketupat adalah ritual adat turun-temurun masyarakat Tempilang. Pelaksanaannya di Pantai Pasirkuning memiliki makna mendalam sebagai tolak bala dan bentuk rasa syukur atas panen yang telah didapatkan. Ritual ini juga menjadi momen penting untuk menyambut bulan suci Ramadhan.
Perang Ketupat, yang puncaknya digelar pada hari Minggu (08/02), bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga sarana untuk memperkuat solidaritas dan kebersamaan. Selain itu, tradisi ini juga bertujuan untuk menjalin silaturahmi antarwarga, saling memaafkan, serta menguatkan tali persaudaraan dan persahabatan di tengah masyarakat Tempilang.
Advertisement
Advertisement
Makna dan Filosofi Mendalam Tradisi Perang Ketupat
Tradisi Perang Ketupat di Tempilang memiliki makna yang sangat kaya, berfungsi sebagai ritual tolak bala dan upaya membersihkan kampung dari segala hal negatif. Selain itu, ini juga merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat setelah masa panen, sekaligus penanda datangnya bulan suci Ramadhan pada bulan Ruwah (Sya’ban). Ritual ini secara signifikan memperkuat solidaritas dan kebersamaan antarwarga.
Dalam prosesi inti Perang Ketupat, dua kelompok warga akan saling melempar ketupat, sebuah tindakan yang sarat akan simbolisme. Pelemparan ketupat ini diinterpretasikan sebagai upaya kolektif warga dalam melawan kejahatan dan menolak perbuatan yang dapat mengakibatkan dosa. Ini mencerminkan nilai-nilai luhur yang dipegang teguh oleh masyarakat setempat.
Lebih dari sekadar ritual, rangkaian Perang Ketupat juga menjadi ajang untuk menjalin silaturahmi yang erat di antara masyarakat. Warga Tempilang memanfaatkan momen ini untuk saling memaafkan dan menguatkan tali persaudaraan. Puncak perayaan ini ditandai dengan dibukanya pintu rumah-rumah warga untuk tamu, mengundang semua orang untuk bersukacita dan menikmati hidangan yang telah disiapkan.
Advertisement
Advertisement
Peran Pemerintah Daerah dalam Pelestarian Festival Perang Ketupat
Pemerintah Kabupaten Bangka Barat menunjukkan komitmen kuat dalam melestarikan Festival Perang Ketupat dengan memfasilitasi pelaksanaannya. Dukungan ini menegaskan bahwa tradisi lokal merupakan aset budaya yang harus dijaga dan dikembangkan. Kehadiran pemerintah daerah dalam acara ini menjadi bukti nyata perhatian terhadap kearifan lokal.
Wakil Bupati Bangka Barat, Yus Derahman, menekankan pentingnya tradisi Sedekah Ruwah di Tempilang untuk terus dijaga. Menurutnya, tradisi ini merupakan sarana efektif untuk mengeratkan hubungan baik antara pemimpin daerah dengan masyarakat. Hal ini menciptakan ikatan emosional yang kuat antara pemerintah dan warganya.
Pemerintah daerah berkomitmen untuk selalu hadir di tengah-tengah warga, tidak hanya dalam kegiatan formal, tetapi juga dalam ruang-ruang kebersamaan sosial. Komitmen ini bertujuan untuk membangun kedekatan emosional, memperkuat silaturahmi, serta saling mendoakan kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Tempilang. Kegiatan ini juga menjadi sarana berbagi, menumbuhkan nilai gotong royong dan kepedulian sosial yang telah lama menjadi bagian dari kearifan lokal.
Advertisement
Advertisement
Pengakuan Nasional untuk Warisan Budaya Tempilang
Dalam upaya pemajuan kebudayaan daerah, tradisi Perang Ketupat Tempilang telah mendapatkan pengakuan penting di tingkat nasional. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia secara resmi menetapkannya sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) pada tahun 2014. Pengakuan ini menegaskan nilai historis dan budaya yang terkandung dalam festival tersebut.
Tidak hanya Perang Ketupat, dua tarian pendukung yang menjadi bagian tak terpisahkan dari rangkaian ritual ini juga telah diakui sebagai WBTB. Tari Serimbang mendapatkan penetapan pada tahun yang sama, yaitu 2014. Sementara itu, Tari Kedidi menyusul pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada tahun 2018, melengkapi kekayaan budaya Tempilang.
Penetapan tiga objek budaya ini dalam satu rangkaian acara sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia menunjukkan betapa pentingnya tradisi Perang Ketupat bagi warga setempat. Tradisi ini telah berlangsung secara turun-temurun selama ratusan tahun, menjadi identitas dan kebanggaan masyarakat Tempilang. Pengakuan ini diharapkan dapat mendorong pelestarian yang lebih intensif.
Advertisement
Sumber: AntaraNews