Tradisi Meron, sebuah perayaan budaya yang kaya makna, kembali semarak di Desa Sukolilo, Kecamatan Sukolilo, Pati. Puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Pati. Ribuan warga turut memadati area Masjid Agung Baitul Yaqin untuk menyaksikan arak-arakan gunungan Meron yang ikonik.
Bupati Pati, Sudewo, menegaskan komitmen Pemkab dalam melestarikan tradisi tahunan ini. Ia menyebut bahwa Meron adalah bagian penting dari upaya merawat budaya lokal di tengah kemajuan zaman. Tradisi ini juga memiliki akar sejarah yang kuat dari perjalanan Kerajaan Mataram dan Kabupaten Pati itu sendiri.
Lebih dari sekadar perayaan, Tradisi Meron diharapkan mampu memperkuat persatuan dan menumbuhkan semangat gotong royong di masyarakat. Selain itu, perayaan ini juga terbukti mampu menggerakkan roda perekonomian rakyat setempat. Gunungan Meron yang diarak kemudian dibagikan kepada warga sebagai simbol kebersamaan dan keberkahan.
Advertisement
Advertisement
Pemerintah Kabupaten Pati secara tegas menyatakan dukungannya terhadap upaya pelestarian Tradisi Meron atau mi'roj (kemenangan) di Desa Sukolilo. Bupati Pati, Sudewo, menekankan pentingnya menjaga tradisi ini sebagai bagian dari identitas budaya lokal. Menurutnya, pagelaran tahunan ini merupakan cara untuk merawat warisan budaya di tengah arus modernisasi.
Sudewo menjelaskan bahwa tradisi ini memiliki akar sejarah yang mendalam, berakar dari perjalanan Kerajaan Mataram dan sejarah panjang Kabupaten Pati. Ia membandingkan Meron dengan 'grebeg' yang merupakan milik keraton, namun menegaskan bahwa Meron adalah kekayaan budaya asli Kabupaten Pati.
Tradisi ini tidak hanya menjadi milik Kecamatan Sukolilo, tetapi juga kebanggaan seluruh masyarakat Kabupaten Pati. Dukungan pemerintah daerah diharapkan dapat memastikan kelangsungan dan kemeriahan Tradisi Meron di masa mendatang.
Advertisement
Advertisement
Bupati Sudewo mengajak seluruh masyarakat untuk memetik nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Tradisi Meron. Perayaan ini bukan hanya sekadar melestarikan budaya, melainkan juga berfungsi sebagai sarana untuk memperkuat persatuan dan kesatuan antar warga. Semangat gotong royong juga tumbuh subur melalui pelaksanaan tradisi ini.
Selain aspek sosial dan budaya, Tradisi Meron juga memberikan dampak positif pada perekonomian rakyat. Kehadiran ribuan pengunjung dari Sukolilo maupun daerah sekitarnya turut menghidupkan aktivitas ekonomi lokal. Pedagang kecil dan pelaku usaha mikro mendapatkan keuntungan dari keramaian yang tercipta selama perayaan.
Sudewo menegaskan bahwa dengan adanya perayaan Meron, masyarakat dapat berkumpul, membangun persatuan, menjaga kedamaian, dan bergotong royong. Semua elemen ini secara sinergis berkontribusi dalam menghidupkan perekonomian daerah, menjadikannya lebih dari sekadar ritual keagamaan dan budaya.
Advertisement
Advertisement
Puncak acara peringatan Maulid Nabi di Sukolilo terpusat di Masjid Agung Baitul Yaqin, disaksikan oleh ribuan warga. Tradisi ini ditandai dengan arak-arakan belasan gunungan Meron yang megah. Setiap gunungan tersebut melambangkan ajaran Islam dan budi pekerti mulia, sesuai dengan tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW, yaitu 12 Rabiul Awwal.
Setiap gunungan Meron berasal dari rumah perangkat desa, mulai dari kepala desa hingga modin. Gunungan-gunungan ini kemudian ditempatkan secara berurutan di sepanjang jalan menuju Masjid Agung. Struktur gunungan terdiri dari tiga tingkatan, masing-masing memiliki makna filosofis yang mendalam.
Makna filosofis tersebut mencakup kewiraan, keislaman, penghormatan, semangat, hingga nilai-nilai iman, Islam, dan ikhsan. Usai prosesi arak-arakan, gunungan-gunungan tersebut dibagikan kepada warga sekitar. Pembagian ini menjadi simbol kebersamaan dan keberkahan, serta dipercaya memiliki makna tersendiri bagi tiap perangkat desa, sehingga warga setempat turut menjaga agar gunungan tetap kokoh hingga akhir prosesi.
Advertisement
Sumber: AntaraNews