Tradisi Nyekar Lebaran 2026: Warga Cirebon Padati TPU untuk Ziarah Kubur
Tradisi nyekar Lebaran 2026 di Cirebon kembali semarak, di mana ratusan warga berziarah kubur untuk mendoakan leluhur sekaligus menjaga nilai spiritual dan kebersamaan.
Ratusan warga di Kota Cirebon, Jawa Barat, dengan khusyuk melaksanakan tradisi nyekar atau ziarah kubur. Aktivitas ini dilakukan usai menunaikan Shalat Idul Fitri 1447 Hijriah atau Lebaran 2026 pada Sabtu (21/3) pagi. Mereka memadati sejumlah tempat pemakaman umum (TPU) di berbagai penjuru kota.
Tradisi nyekar Lebaran 2026 ini menjadi momen penting bagi masyarakat Cirebon untuk mengenang dan mendoakan anggota keluarga yang telah berpulang. Selain itu, kegiatan ini juga merupakan bentuk bakti serta pengingat akan nilai-nilai kehidupan. Suasana pemakaman yang biasanya sepi, kini berubah menjadi ramai dengan kehadiran para peziarah.
Para peziarah datang membawa bunga tabur, air, dan perlengkapan kebersihan makam. Mereka membersihkan area makam, menaburkan bunga, dan memanjatkan doa secara khusyuk. Tradisi ini diperkirakan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan, seiring banyaknya warga perantauan yang pulang kampung.
Makna Mendalam Tradisi Nyekar Lebaran bagi Keluarga
Bagi Novi (22), salah seorang peziarah, tradisi nyekar Lebaran 2026 merupakan wujud bakti dan doa tulus untuk orang tua yang telah meninggal dunia. Ia bersama keluarganya rutin melakukan ziarah kubur setiap tahun setelah Shalat Idul Fitri. Ini menunjukkan betapa kuatnya ikatan keluarga dan penghormatan terhadap leluhur.
Novi dan keluarganya memilih TPU Pronggol, Kelurahan Pegambiran, Cirebon, sebagai tujuan ziarah. TPU tersebut sudah dipadati peziarah lain sejak pagi hari, menciptakan suasana haru dan kebersamaan. "Kami sekeluarga setiap tahun pasti nyekar setelah shalat Id. Ini bentuk bakti dan doa kami untuk orang tua yang telah berpulang,” ungkap Novi di Cirebon.
Peziarah lain, Edi (63), juga rutin mengajak anak dan cucunya berziarah ke makam keluarga. Ia ingin generasi muda mengetahui leluhur mereka dan memahami bahwa kehidupan ini bersifat sementara. "Saya mengajak anak-anak agar mengetahui leluhur mereka sekaligus sebagai pengingat bahwa kehidupan ini bersifat sementara,” ujar Edi. Rombongan Edi menggelar doa bersama untuk mengenang anggota keluarga yang wafat pada akhir 2024.
Nilai Spiritual dan Sosial dalam Ziarah Kubur
Ato, seorang tokoh agama setempat, menjelaskan bahwa tradisi nyekar Lebaran 2026 memiliki nilai spiritual yang tinggi bagi umat Islam, khususnya di Cirebon. Momentum Lebaran sering dimanfaatkan warga perantauan untuk pulang kampung dan berziarah ke makam keluarga. Ini menunjukkan pentingnya tradisi ini dalam menjaga hubungan spiritual.
Selain mendoakan mereka yang telah meninggal, tradisi ini juga menjadi pengingat bagi yang masih hidup untuk selalu berbuat baik. "Selain mendoakan yang telah meninggal, ini juga menjadi pengingat agar kita selalu berbuat baik,” kata Ato. Tradisi nyekar di Kota Cirebon diperkirakan akan berlanjut beberapa hari ke depan.
Wali Kota Cirebon, Effendi Edo, turut mengajak masyarakat untuk menjaga persatuan dan kebersamaan selama momentum Lebaran. Ia menekankan pentingnya mempererat silaturahim serta menjaga harmoni sosial di tengah masyarakat. Hal ini sejalan dengan semangat kebersamaan yang terwujud dalam tradisi ziarah kubur.
Wali Kota juga menyoroti perubahan positif di Kota Cirebon. "Banyak perantau yang kembali ke Cirebon, dan menyampaikan kota ini sudah banyak berubah,” tuturnya. Perubahan ini menjadi kebanggaan bagi warga setempat yang kembali merayakan Lebaran di kampung halaman.
Sumber: AntaraNews