Wakil Bupati Bangka Tengah, Efrianda, menyoroti pentingnya tradisi ruwah kubur sebagai sarana refleksi diri dan penguat silaturahmi menjelang bulan suci Ramadhan. Kegiatan ini diselenggarakan oleh masyarakat Desa Keretak dan Desa Keretak Atas di Kecamatan Sungaiselan. Tradisi ini bertepatan dengan tanggal 12 Syakban setiap tahunnya.
Efrianda menekankan bahwa momen ruwah kubur harus dimanfaatkan untuk membersihkan diri, mempererat persaudaraan, dan saling memaafkan. Ia hadir langsung dalam tradisi yang berlangsung di Desa Keretak pada hari Sabtu tersebut. Hal ini menunjukkan dukungan pemerintah daerah terhadap pelestarian budaya lokal.
Lebih dari sekadar tradisi turun-temurun, ruwah kubur merupakan wujud penghormatan mendalam kepada para leluhur. Tradisi ini juga menjadi pengingat bagi setiap individu bahwa kehidupan di dunia bersifat sementara. Kegiatan ini juga memiliki nilai sosial yang kuat, menyatukan masyarakat lintas generasi.
Advertisement
Advertisement
Tradisi ruwah kubur di Bangka Tengah bukan hanya ritual semata, melainkan sebuah cerminan kearifan lokal yang kaya makna. Efrianda menyebutnya sebagai kesempatan berharga untuk introspeksi diri secara spiritual. Ini membantu masyarakat mempersiapkan hati dan pikiran menyambut datangnya Ramadhan.
Kegiatan ini secara inheren mengandung nilai penghormatan tinggi kepada para pendahulu yang telah berpulang. Masyarakat meyakini bahwa mendoakan leluhur adalah bagian dari bakti yang tak terputus. Ini juga menjadi pengingat akan siklus kehidupan dan kematian.
Aspek sosial dari tradisi ini sangat menonjol, di mana seluruh elemen masyarakat berkumpul. Dari anak-anak hingga lansia, semua terlibat dalam suasana kebersamaan yang erat. Momen ini efektif untuk memperkuat tali persaudaraan antarwarga desa.
Advertisement
Advertisement
Rangkaian tradisi ruwah kubur diawali dengan pembacaan Yasin dan tahlil bersama di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Keretak Atas. Kegiatan ini bertujuan untuk mendoakan keluarga dan leluhur yang telah meninggal dunia. Ini adalah inti dari pelaksanaan ruwah kubur.
Kepala Desa Keretak, Ahmad Nur Ihsan, bersama Kepala Desa Keretak Atas, Agustian, mengungkapkan bahwa persiapan kegiatan telah dilakukan sejak satu bulan sebelumnya. Sejak tahun 2010, kegiatan yasinan yang sebelumnya terpisah kini diselenggarakan secara bersama. Langkah ini diambil untuk semakin memperkuat silaturahmi antarwarga.
Selain doa bersama di TPU, kegiatan juga dimeriahkan dengan tabligh akbar di Masjid Al-Ihsan Desa Keretak. Tabligh akbar ini menghadirkan penceramah Ahmad Bukhari Muslim, memberikan siraman rohani kepada jamaah. Tradisi ruwah kubur ini merupakan agenda tahunan yang didukung oleh Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah dan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Advertisement
Untuk menjamu tamu yang hadir, masyarakat Desa Keretak menyiapkan sekitar 5.000 dulang. Jumlah dulang ini menunjukkan antusiasme dan gotong royong masyarakat dalam menyukseskan acara. Ini juga menjadi simbol kemurahan hati dan kebersamaan yang terjalin.
Sumber: AntaraNews