Tanah Jakarta Turun 10 Cm Tiap Tahun, Berapa Lama Bisa Bertahan?
Jakarta sering kali diibaratkan sebagai mangkuk (bowl effect), di mana permukaan tanahnya lebih rendah dibandingkan dengan permukaan laut.
Permukaan tanah di Jakarta terus mengalami penurunan, meskipun prosesnya berlangsung secara perlahan namun pasti. Di beberapa lokasi, penurunan ini bahkan mencapai lebih dari 10 sentimeter setiap tahunnya.
Fenomena ini bukan hanya sekadar angka statistik, melainkan sebuah ancaman serius bagi keberlangsungan ibu kota, yang dapat memperburuk banjir, merusak infrastruktur, dan mengancam masa depan jutaan penduduknya.
Menurut Prof. Putu Rumawan Salain, seorang pengamat tata kota, kondisi penurunan tanah di Jakarta yang mencapai lebih dari 10 sentimeter per tahun sangat mengkhawatirkan.
"Dengan penurunan tanah setiap tahunnya mencapai 10 sentimeter, cukup mengkhawatirkan. Jakarta wajib menyiapkan blue print penganggulan bencana seperti banjir," jelasnya saat diwawancarai mengenai masalah ini pada Rabu (11/2).
Putu menambahkan, dari perspektif tata kota, penurunan tanah menghasilkan efek cekungan yang berbahaya. Ia berpendapat bahwa penurunan tanah di Jakarta akan menciptakan cekungan 'bowl' yang dapat menampung air saat hujan, menyebabkan banjir yang berdampak pada kerusakan lingkungan serta menambah beban bagi pemerintah dan masyarakat dalam upaya pemulihan.
"Rendaman air di perkotaan yang lama akan mempengaruhi struktur bangunan khususnya pondasi," tuturnya.
Jakarta sering kali diibaratkan sebagai mangkuk (bowl effect), di mana permukaan tanahnya lebih rendah dibandingkan dengan permukaan laut dan dikelilingi oleh tanggul. Air hujan yang masuk sulit untuk mengalir keluar tanpa bantuan pompa, sehingga saat hujan deras bersamaan dengan pasang laut, genangan air bisa bertahan lebih lama.
Putu juga menekankan bahwa efek "bowl effect" di Jakarta akan mengakibatkan kesulitan dalam aliran air. Untuk mempercepat aliran air, pompa dapat digunakan sebagai solusi. Selain itu, perlu adanya sodetan-sodetan baru yang lebih efisien dalam mengalirkan air genangan.
"Dapat pula dilengkapi dengan empang penahan limpahan air yang selanjutnya dapat diuraikan atau dengan mesin pompa. Dari aspek perkotaan, perlu disiapkan master plan drainase yang canggih dan berkelanjutan," ungkapnya.
Ancaman yang Signifikan Bagi Kota Layak Huni
Ketika ditanya mengenai keamanan Jakarta sebagai tempat tinggal di tengah tren penurunan permukaan tanah yang terus berlanjut, Prof. Putu tidak membantah adanya ancaman serius.
"Penurunan permukaan tanah memang jadi ancaman serius buat kota-kota besar, terutama Jakarta," tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa masalah penurunan tanah tidak bisa dianggap remeh. Jika tidak segera ditangani dengan serius, dampaknya akan semakin meluas dan membebani kota di masa yang akan datang.
"Kalau tidak diatasi, penurunan tanah bisa makin parah dan berdampak luas. Jakarta dan kota-kota lain harus punya strategi mitigasi yang efektif, perlu ada mitigasi bencana dengan beragam sosialisasi agar masyarakat bahwa mereka tidur, bekerja, dan rekreasi di sekitar kawasan yang berbahaya," ungkapnya dengan nada serius.
Selain Jakarta, wilayah pesisir utara Jawa, mulai dari Jakarta, Semarang, hingga Surabaya, juga menghadapi potensi masalah yang serupa. Namun, Jakarta disebut sebagai daerah dengan laju penurunan yang paling tinggi. Menurut Prof. Putu, ketergantungan terhadap air tanah tidak terlepas dari masalah sistemik.
"Harus dikatakan kegagalan, karena pemerintah belum mampu menyiapkan kebutuhan akan air bersih bagi masyarakat. Khususnya di perkotaan," katanya.
Eksploitasi air tanah untuk berbagai kepentingan, seperti industri, akomodasi, perkantoran, dan permukiman padat, dinilai mempercepat proses amblesnya tanah.
Prof. Putu menjelaskan bahwa dengan maraknya pembangunan gedung tinggi, kawasan bisnis, dan permukiman padat, tentu saja hal ini berdampak signifikan terhadap daya dukung tanah di Jakarta.
"Pemanfaatan lahan yang kepadatan bangunannya lebih tinggi dari ruang terbukannya sudah barang tentu ikut mempercepat penurunan permukaan tanah," jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa pemenuhan kebutuhan air untuk gedung-gedung tinggi, kawasan bisnis, dan perumahan terus mengoyak bumi demi mendapatkan pasokan air bersih. Menurutnya, penggunaan air bawah tanah yang berlebihan menjadi salah satu faktor utama yang memicu percepatan penurunan permukaan tanah di Jakarta. Oleh karena itu, Prof. Putu menegaskan bahwa regulasi pemanfaatan air tanah perlu diatur ulang.
Pemerintah dan pihak swasta harus mengoptimalkan pengolahan air bersih dari sumber air permukaan seperti sungai atau danau untuk mengurangi ketergantungan terhadap air bawah tanah.
Mengancam Daerah Pesisir
Menurut Putu, penurunan tanah memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar masalah banjir, hal ini juga berpengaruh pada kerusakan fisik kota yang nyata.
"Penurunan tanah dipastikan mengalami kerusakan pada batas waktunya. Terlebih jika ada penurunan permukaan tanah yang tidak turun secara merata, jalan atau lantai beton akan retak atau pecah yang lambat laun akan berpengaruh kepada bangunan di sekitarnya," jelasnya.
Di kawasan pesisir, ancaman yang dihadapi menjadi semakin kompleks. Dampak penurunan tanah pada risiko banjir di daerah pesisir dan dataran rendah sama-sama berbahaya.
Di pesisir, posisi permukaan air laut yang lebih tinggi daripada daratan menyebabkan aliran air dari darat melambat, sehingga genangan air lebih sulit untuk surut. Sementara itu, menurut Putu, di wilayah dataran rendah, penurunan tanah dapat menyebabkan perendaman dengan ketinggian yang lebih besar dan durasi lebih lama, yang pada akhirnya membahayakan struktur bangunan.
Selain itu, kawasan pesisir juga harus mewaspadai ancaman intrusi air laut yang dapat merusak kualitas air tanah dan memperparah krisis lingkungan di Jakarta. "Dalam 20 tahun ke depan, para ahli memprediksi risiko banjir meningkat, kerusakan infrastruktur meluas, masuknya air laut ke lapisan akuifer air tawar di daratan, serta gangguan sistem air tanah. Yang paling dikhawatirkan adalah tenggelamnya pesisir pantai Jakarta," ungkapnya.