Tagana Tasikmalaya Siaga Bencana Susulan di Wilayah Utara, Antisipasi Musim Hujan
Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Tasikmalaya menerjunkan personel untuk siaga penuh menghadapi potensi bencana susulan di Tasikmalaya utara, mengingat musim hujan masih berlangsung dan wilayah tersebut rawan longsor serta banjir.
Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, telah menerjunkan sejumlah personelnya untuk bersiap siaga. Kesiapsiagaan ini dilakukan guna mengantisipasi potensi bencana alam longsor dan banjir susulan di wilayah Tasikmalaya utara, mengingat saat ini masih dalam periode musim penghujan. Langkah ini diambil karena intensitas hujan yang tinggi berpotensi memicu kejadian serupa.
Ketua Forum Koordinasi Tagana Kabupaten Tasikmalaya, Jembar Adisetya, menyatakan bahwa hujan terus-menerus dengan intensitas tinggi dapat kembali memicu bencana. Sebelumnya, wilayah Tasikmalaya utara telah dilanda banjir di Kecamatan Rajapolah dan Jamanis, serta tanah longsor di Kecamatan Sukahening pada Rabu (11/2) malam. Kejadian tersebut merupakan dampak langsung dari curah hujan ekstrem yang mengguyur area tersebut.
Meskipun masyarakat yang terdampak banjir dan longsor sudah kembali beraktivitas normal, Tagana tetap mempertahankan status siaga. Kewaspadaan tinggi ini diperlukan karena kekhawatiran akan terjadinya bencana susulan di tengah kondisi cuaca yang masih tidak menentu. Kesiapsiagaan ini juga didasarkan pada Surat Edaran Bupati Tasikmalaya yang berlaku hingga April 2025 atau selama musim penghujan.
Kewaspadaan di Titik Rawan Bencana Tasikmalaya
Jembar Adisetya menjelaskan bahwa daerah Tasikmalaya utara memiliki beberapa titik yang perlu diwaspadai secara khusus. Kawasan tersebut dialiri oleh sungai-sungai besar seperti Sungai Cidahu dan Sungai Citanduy. Potensi luapan air dari sungai-sungai ini sangat tinggi apabila hujan deras kembali mengguyur wilayah Tasikmalaya utara.
Titik-titik rawan ini sebagian besar berada di bantaran sungai, baik sungai besar maupun saluran irigasi. Kondisi geografis ini menjadikan wilayah tersebut sangat rentan terhadap banjir bandang dan tanah longsor. Oleh karena itu, pemantauan intensif dan kesiapsiagaan menjadi kunci dalam upaya mitigasi bencana di Tasikmalaya utara.
Selain siaga di daerah potensi bencana tersebut, Tagana juga aktif menyalurkan bantuan tanggap darurat kepada masyarakat yang terdampak. Koordinasi erat juga terus dilakukan dengan instansi terkait untuk normalisasi sungai. Upaya ini bertujuan untuk memastikan aliran air berjalan lancar tanpa hambatan dan mengurangi risiko bencana.
Kabupaten Tasikmalaya secara umum dikenal sebagai daerah yang sangat berpotensi terjadinya bencana alam seperti tanah longsor, tanah bergerak, dan banjir. Kondisi ini terutama saat musim hujan tiba, menuntut kesiapsiagaan yang berkelanjutan dari seluruh pihak untuk menjaga keselamatan warga.
Imbauan dan Langkah Antisipasi Bencana dari Tagana
Tagana tidak hanya fokus pada penanganan pasca-bencana, tetapi juga gencar mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Warga diminta untuk selalu menghindari area yang berpotensi bahaya bencana. Edukasi mengenai jalur evakuasi dan tanda-tanda awal bencana juga terus disosialisasikan secara aktif kepada komunitas.
Langkah antisipasi lain yang ditekankan adalah pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, khususnya sungai. Masyarakat diimbau keras untuk tidak membuang sampah sembarangan ke sungai. Kebiasaan buruk ini dapat memperparah kondisi banjir dan menyumbat aliran air, sehingga memperbesar risiko bencana di wilayah Tasikmalaya.
Selain koordinasi untuk normalisasi sungai, kampanye untuk tidak membuang sampah sembarangan ke sungai juga terus digalakkan. Ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk mengurangi risiko banjir dan menjaga ekosistem sungai. Kolaborasi antara pemerintah daerah dan masyarakat sangat penting dalam upaya ini.
Kesiapsiagaan bencana alam ini merupakan respons terhadap Surat Edaran Bupati Tasikmalaya yang berlaku hingga April 2025. Edaran tersebut menggarisbawahi bahwa wilayah Kabupaten Tasikmalaya sangat berpotensi mengalami longsor dan banjir. Oleh karena itu, langkah-langkah antisipasi kolektif harus terus dilakukan hingga musim penghujan berakhir.
Sumber: AntaraNews