Sinergi Unej-BIG Kawal Implementasi Kebijakan Satu Peta di Tapal Kuda Jawa Timur
Universitas Jember (Unej) dan Badan Informasi Geospasial (BIG) bersinergi mengawal implementasi Kebijakan Satu Peta di kawasan Tapal Kuda, Jawa Timur, guna mendukung penataan data wilayah dan percepatan pembangunan daerah.
Universitas Jember (Unej) bersama Badan Informasi Geospasial (BIG) menyatakan kesiapan penuh mereka untuk mengawal implementasi Kebijakan Satu Peta (One Map Policy) di wilayah Tapal Kuda. Kawasan strategis ini mencakup Kabupaten Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Jember, Lumajang, hingga Probolinggo. Kolaborasi ini bertujuan memastikan data geospasial yang akurat menjadi dasar perumusan kebijakan pembangunan daerah.
Prof. Bayu Taruna Widjaja, pakar pertanian presisi Unej, menjelaskan bahwa transformasi data dari angka menjadi peta adalah fokus utama dalam upaya ini. Data kini tidak lagi sekadar deretan angka, melainkan harus mampu "berbicara" melalui visualisasi yang presisi. Hal ini krusial untuk memotret realitas ruang secara dinamis dan komprehensif.
Kerja sama antara BIG dan Unej di Jawa Timur menempatkan kampus tersebut sebagai mitra strategis dalam pengelolaan data geospasial. Peran Unej sangat vital sebagai penghubung bagi pemerintah daerah di Tapal Kuda. Kampus ini siap membantu penanganan berbagai persoalan spasial tanpa perlu koordinasi langsung dengan BIG pusat.
Memperkuat Kolaborasi untuk Data Geospasial Akurat
Kolaborasi antara Universitas Jember dan Badan Informasi Geospasial menandai langkah maju dalam implementasi Kebijakan Satu Peta di kawasan Tapal Kuda. Kemitraan ini bertujuan untuk menyelaraskan dan menata data wilayah secara komprehensif. Data geospasial yang akurat menjadi fondasi penting bagi perencanaan pembangunan yang efektif dan berkelanjutan.
Pemanfaatan data geospasial di Tapal Kuda masih memerlukan peningkatan signifikan, membuka peluang besar bagi Unej untuk berkontribusi. Kampus ini berperan aktif mendukung pemerintah daerah dalam pengelolaan data spasial. Kehadiran Unej diharapkan dapat menjembatani kebutuhan daerah dengan keahlian teknis dari BIG.
Pemerintah daerah di wilayah Tapal Kuda kini memiliki akses lebih mudah untuk mengatasi isu-isu spasial. Mereka tidak perlu lagi berkoordinasi langsung dengan BIG di pusat, cukup melalui Unej sebagai mitra lokal. Pendekatan ini diharapkan mempercepat proses pengambilan keputusan dan penyelesaian masalah di tingkat daerah. Prof. Bayu Taruna Widjaja menegaskan, "Pemerintah daerah tidak perlu capek-capek ke BIG. Jadi, cukup dengan Unej saja untuk membantu menyelesaikan permasalahan berkaitan dengan spasial di daerah Tapal Kuda."
Transformasi Data Tabular Menuju Visualisasi Spasial
Pemanfaatan data geospasial di kawasan Tapal Kuda masih relatif rendah dibandingkan dengan daerah lain seperti Jawa Barat yang pengelolaannya lebih maju. Ada kecenderungan pemerintah daerah mengandalkan peta lama tanpa memastikan pembaruan dan akurasi data. Kondisi ini menghambat optimalisasi informasi spasial untuk pembangunan.
Unej mendorong adanya lompatan inovasi dengan mengubah paradigma penyajian data. Dari yang semula berbasis tabular, kini diarahkan menuju pemanfaatan data spasial yang lebih informatif dan visual. Pendekatan ini memungkinkan data untuk tidak hanya menunjukkan jumlah, tetapi juga posisi dan sebarannya di lapangan secara jelas.
Contoh nyata transformasi ini terlihat dalam keterbukaan informasi publik, seperti di Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) kampus. Data sebaran asal mahasiswa, misalnya, tidak lagi hanya ditampilkan dalam baris angka daerah asal. Kini, data tersebut diproyeksikan ke dalam peta digital berbentuk poin lokasi atau gradasi warna (heatmap). Ini memberikan gambaran yang jauh lebih informatif dan mudah dipahami.
Peran Kecerdasan Buatan dalam Pemetaan Geospasial
Dalam upaya pengembangan lebih lanjut, Universitas Jember telah memanfaatkan infrastruktur komputasi canggih untuk mendukung pengolahan data. Hal ini termasuk pengembangan dan penerapan teknologi Kecerdasan Buatan (AI) dalam analisis data geospasial. AI menjadi alat bantu yang powerful untuk mengidentifikasi pola dan informasi dari data spasial.
Pemanfaatan AI telah mulai diterapkan dalam kegiatan pemetaan berbasis geospasial, dengan salah satu contohnya adalah pengembangan pemetaan komoditas kakao di Banyuwangi. Teknologi ini memungkinkan identifikasi lokasi perkebunan kakao secara presisi. Selain itu, AI juga membantu menentukan luas area tanam dan kondisi lingkungan yang memengaruhi pertumbuhan tanaman berdasarkan data spasial dan citra lapangan.
Pendekatan inovatif ini tidak hanya menunjukkan keberadaan komoditas, tetapi juga memberikan gambaran rinci mengenai sebaran dan potensi wilayah. Pemetaan komoditas seperti kakao menjadi langkah awal yang krusial dalam membangun basis data pertanian yang lebih terstruktur. Data ini dapat dikembangkan lebih lanjut untuk mendukung kebijakan pertanian yang lebih tepat sasaran di masa mendatang.
Sumber: AntaraNews