Resmikan Pembangunan, Dek Pejalan Kaki Dukuh Atas Bakal Integrasikan Enam Moda Transportasi
DKI Jakarta memulai pembangunan Dek Pejalan Kaki Dukuh Atas, jembatan layang melingkar yang akan menyatukan enam moda transportasi publik. Proyek ini diharapkan meningkatkan mobilitas dan mengintegrasikan kota.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah memulai pembangunan Dek Pejalan Kaki Dukuh Atas, sebuah fasilitas jembatan layang melingkar di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan. Proyek strategis ini bertujuan untuk mengintegrasikan enam moda transportasi publik utama, termasuk layanan kereta bandara. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, secara resmi mencanangkan dimulainya pembangunan ini pada Minggu, 21 Juni.
Dek pejalan kaki yang secara informal dijuluki “Jembatan Cincin Donat” karena bentuknya yang melingkar ini, memiliki diameter sekitar 118 meter dan lebar sekitar 12 meter. Fasilitas ini dirancang untuk menghubungkan dan memudahkan akses antara MRT Jakarta, LRT Jakarta, LRT Jabodebek, KRL Commuter Line, TransJakarta, dan kereta bandara.
Pembangunan Dek Pejalan Kaki Dukuh Atas ditargetkan rampung pada tahun 2028, diharapkan dapat menciptakan mobilitas tanpa hambatan bagi warga Jakarta. Selain sebagai penghubung antar moda transportasi, struktur ini juga akan dilengkapi dengan area komersial yang terintegrasi dengan rute sirkulasi pejalan kaki di sepanjang jembatan.
Meningkatkan Konektivitas dan Mobilitas Kota
Gubernur Pramono Anung menegaskan bahwa pembangunan Dek Pejalan Kaki Dukuh Atas merupakan langkah vital dalam memperkuat integrasi sistem transportasi publik di ibu kota. Fasilitas ini akan memungkinkan masyarakat berpindah antar moda transportasi dengan nyaman, terlindungi dari panas maupun hujan.
Pembiayaan keseluruhan proyek ini sepenuhnya ditanggung oleh PT MRT Jakarta. Meskipun ada harapan untuk penyelesaian yang lebih cepat, target rampung resmi untuk proyek ini adalah pada tahun 2028.
Keberadaan jembatan donat ini diyakini akan secara signifikan memudahkan mobilitas masyarakat pengguna transportasi umum. Lebih lanjut, fasilitas ini juga diharapkan mampu berkontribusi pada pengurangan kemacetan lalu lintas yang kerap terjadi di kawasan Dukuh Atas.
Pramono juga memastikan bahwa Patung Jenderal Sudirman yang ikonik tidak akan digeser dari lokasinya. Bahkan, patung tersebut akan menjadi daya tarik visual tambahan dengan adanya anjungan khusus (viewing deck) di dalam struktur dek pejalan kaki, memungkinkan masyarakat menikmati pemandangan lebih dekat.
Jakarta, Kota Global dengan Transportasi Terintegrasi
Gubernur Pramono Anung turut menyoroti berbagai capaian Jakarta dalam bidang mobilitas perkotaan, di mana kota ini kini menempati peringkat kedua di ASEAN untuk transportasi publik, hanya di bawah Singapura. Di tingkat Asia, Jakarta berada di peringkat kedelapan, dan secara global menempati posisi ke-17.
Selain itu, Jakarta juga berhasil meraih peringkat ke-53 dalam daftar "World's Best Cities 2026" yang dirilis oleh Resonance Consultancy. Peringkat ini menempatkan Jakarta di posisi yang lebih tinggi dari kota-kota besar lainnya seperti Washington, D.C. (peringkat 57) dan Abu Dhabi (peringkat 86).
Pencapaian gemilang ini didorong oleh daya tarik wisata kota, popularitas yang tinggi di media sosial, serta peningkatan signifikan dalam konektivitas transportasi publik. Resonance Consultancy juga mencatat bahwa Jakarta merupakan metropolitan terpadat kedua di dunia yang terus menunjukkan perkembangan dinamis meskipun menghadapi berbagai tantangan.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana untuk mengadakan sayembara terbuka guna menentukan nama resmi bagi dek pejalan kaki ini. Meskipun telah populer dengan sebutan "Jembatan Cincin Donat", nama resmi yang akan digunakan masih akan dicari melalui partisipasi aktif dari masyarakat.
Sumber: AntaraNews