MRT Jakarta berencana menghadirkan Jembatan Cincin Donat di kawasan Dukuh Atas, salah satu titik sentral mobilitas warga Jakarta. Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan keterpaduan transportasi publik dan mengembangkan kawasan berorientasi transit (Transit Oriented Development/TOD). Jembatan ini dirancang sebagai solusi inovatif untuk mengatasi kepadatan lalu lintas dan mendorong penggunaan transportasi umum.
Jembatan Cincin Donat nantinya akan menghubungkan empat moda transportasi umum utama, yaitu MRT Jakarta, LRT Jabodebek, KRL Commuter Line, dan kereta bandara. Proyek ambisius ini diharapkan rampung pada tahun 2027 mendatang, menandai langkah maju dalam integrasi sistem transportasi di ibu kota.
Gagasan pembangunan Jembatan Cincin Donat berawal dari keresahan Gubernur Daerah Khusus Jakarta mengenai belum optimalnya potensi kawasan Dukuh Atas sebagai simpul transportasi. Terinspirasi dari konektivitas di Kota Yokohama, Jepang, MRT Jakarta merancang jembatan ini sebagai ikon integrasi transportasi dan aktivitas warga di atas jalur transit.
Advertisement
Advertisement
Direktur MRT Jakarta, Tuhiyat, menjelaskan bahwa ide Jembatan Cincin Donat ditawarkan kepada Pemprov Jakarta setelah melakukan benchmarking ke Yokohama. Jembatan ini akan dibangun di Jalan Sudirman, kawasan Dukuh Atas, dengan lebar 12 meter, di mana tujuh meter dialokasikan untuk lalu lintas publik dan lima meter untuk kawasan bisnis. "Kami tawarkan ide ini kepada Pemprov Jakarta setelah melakukan benchmarking ke Yokohama. Nantinya akan dibangun di Jalan Sudirman, Dukuh Atas, dengan lebar 12 meter, tujuh meter untuk lalu lintas publik dan lima meternya untuk kawasan bisnis," ujar Tuhiyat.
Dukuh Atas merupakan simpul utama ekosistem mobilitas Jakarta, tempat bertemunya empat moda transportasi publik sekaligus kawasan perkantoran padat. Berdasarkan penelitian ResearchGate (2023), volume kendaraan di koridor Jalan Jenderal Sudirman mencapai sekitar 6.643 pcu/jam pada arah utara di jam sibuk pagi. Angka ini setara dengan lebih dari 6.000 mobil pribadi yang melintas setiap jam, menunjukkan tingginya beban lalu lintas di koridor Sudirman–Dukuh Atas.
Kondisi lalu lintas yang padat ini turut menjadi salah satu faktor yang melatarbelakangi pembangunan Jembatan Cincin Donat. Infrastruktur tersebut diharapkan dapat mengurai kepadatan dengan mempermudah konektivitas antarmoda melalui jalur pejalan kaki yang aman, nyaman, dan efisien. "Dukuh Atas ini nanti bisa mengurai kemacetan di Jl. Sudirman, jadi Dukuh Atas ini bukan hanya titik transit, tapi ruang publik baru yang nyaman bagi semua pengguna transportasi," tambah Tuhiyat.
Advertisement
Lebih dari sekadar penghubung fisik, jembatan ini juga menjadi bagian dari transformasi kebiasaan mobilitas warga Jakarta. Dengan akses yang terintegrasi dan ruang publik yang hidup, proyek ini diharapkan mampu mengurangi beban lalu lintas. Jembatan Cincin Donat juga akan mengubah wajah kawasan Sudirman - Dukuh Atas menjadi pusat kehidupan urban yang lebih manusiawi dan berkelanjutan.
Advertisement
Perubahan budaya mobilitas tidak terjadi dalam semalam, melainkan tumbuh perlahan seiring upaya pembangunan infrastruktur dan edukasi publik yang saling terhubung. Data Dinas Perhubungan DK Jakarta mencatat penggunaan transportasi umum pada tahun 2018 baru mencapai 18 persen dan naik menjadi 22,19 persen pada tahun 2025. Total pergerakan warga mencapai 20,2 juta orang per hari, menunjukkan peningkatan signifikan namun bertahap.
Kepala Dinas Perhubungan DK Jakarta, Syafrin Liputo, menjelaskan bahwa butuh tujuh tahun bagi Jakarta untuk menaikkan penggunaan transportasi publik sekitar empat persen. "Ini bukan pekerjaan mudah, karena yang kita coba ubah adalah kebiasaan orang," kata Syafrin. Peningkatan ini tak lepas dari upaya konsisten pemerintah yang memperkuat integrasi antarmoda dan meningkatkan kenyamanan publik melalui Standar Pelayanan Minimum (SPM) dalam Peraturan Gubernur (Pergub) No. 2 Tahun 2024.
Syafrin menambahkan, layanan diperluas dan menyeluruh, mulai dari infrastruktur, rute hingga Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek), tarif, dan sistem pembayaran. Semua moda memiliki standar yang sama, dengan headway lima menit di jam sibuk dan sepuluh menit di luar jam sibuk. Jembatan Cincin Donat diproyeksikan mampu menjadi salah satu strategi meningkatkan angka pengguna transportasi umum di Jakarta.
Advertisement
Pengamat Transportasi Institut Teknologi Bandung (ITB), Soni Sulaksono, menilai pembangunan Jembatan Cincin Donat bukan hanya soal infrastruktur. Ini merupakan bagian dari edukasi publik untuk membiasakan masyarakat berpindah moda dan menjangkau aktivitas harian dengan transportasi umum. "Ini (Jembatan Cincin Donat) menjadi edukasi penting buat masyarakat bahwa menuju titik-titik aktivitas menggunakan transit ternyata mudah dan tidak perlu menggunakan kendaraan pribadi," jelas Soni. Ia juga menekankan pentingnya desain kawasan yang tidak menyediakan lahan parkir kendaraan pribadi di sekitar jembatan. Menurutnya, ketiadaan lahan parkir dapat menjadi strategi efektif untuk mengubah kebiasaan masyarakat agar bergantung pada transportasi publik, bukan mobil pribadi.
Advertisement
Jepang bisa menjadi contoh bahwa mobilitas bukan sekadar perpindahan dari satu titik ke titik lain, melainkan bagian dari cara hidup yang tertata. Di Kota Yokohama, koneksi antara Minato Mirai Line dan jaringan jalur bawah tanahnya memungkinkan warga berpindah dari gedung perkantoran Queen's Tower menuju kawasan tepi laut Red Brick Warehouse hingga Stasiun Minatomirai tanpa harus keluar gedung atau menyeberang jalan raya. Jalur pedestrian yang lebar dan teduh membentang di atas dan bawah tanah, menghubungkan langsung ke stasiun, pusat perbelanjaan, hingga taman kota.
Menurut Japan Transport Planning Association (2023), sebanyak 68 persen pengguna transportasi umum di Yokohama mengakses stasiun dengan berjalan kaki. Hal serupa juga terjadi di Singapura yang memiliki akses pejalan kaki menuju stasiun-stasiun yang mencapai sekitar 90 persen. Citra serupa mulai tampak di Jakarta, seperti di Blok M, di mana penumpang MRT dapat berpindah ke TransJakarta atau berjalan kaki menuju area komersial dalam hitungan menit.
Di Dukuh Atas, jalur pedestrian yang terhubung antara MRT, LRT, dan KRL telah menjadi embrio bagi konsep kota yang mendorong warga bergerak tanpa kendaraan pribadi. Melalui Jembatan Cincin Donat, Jakarta mencoba melangkah lebih jauh, bukan hanya sekadar menghubungkan moda, tetapi juga menata ulang kebiasaan. Infrastruktur ini diharapkan tidak sekadar mengurai kemacetan, tetapi juga membentuk kesadaran baru bahwa berjalan kaki dan menggunakan transportasi publik adalah bagian dari kehidupan kota yang modern dan beradab.
Advertisement
Keberhasilan Jembatan Cincin Donat tidak hanya diukur dari kemegahan arsitekturnya, melainkan dari bagaimana infrastruktur ini mampu membangun kebiasaan baru warga kota. Pemerintah, kata Soni, perlu berani menetapkan radius pejalan kaki sejauh satu kilometer di sekitar kawasan tersebut dan memastikan koneksi antara MRT, LRT, dan KRL benar-benar nyaman. "Kalau Jakarta mau maju seperti kota-kota di Asia Timur, habit itu harus dipaksa. Dipaksa untuk naik transit, bukan mobil. Dan ini bisa dimulai dari Dukuh Atas," ujarnya.
Sumber: AntaraNews