Persagi Soroti Menu MBG di Jateng: Dimasak Malam, Disajikan Pagi Berisiko Basi
Pihaknya mengakui adanya keprihatinan dalam rentetan kasus-kasus keracunan yang dialami para siswa sekolah.
Persatuan Ahli Gizi (Persagi) Jawa Tengah mengungkap proses pengolahan masakan untuk MBG dengan porsi lebih dari 3.000 porsi tergolong rentan memunculkan kasus keracunan. Berdasarkan pengalaman para ahli gizi yang menyajikan menu bagi pasien di rumah sakit, durasi konsumsinya maksimal dua jam.
"Karena pengolahan dengan porsi (MBG) yang banyak sampai lebih 3.000 porsi sangat berat. Mulai proses pemesanan bahan makanan sampai masakan sudah matang dengan porsi besar sangat riskan. Kalau dimasak malam terus didistribusikan pagi itu resiko basinya cukup besar. Itu pasti terjadi," kata Wakil Ketua Persagi Jawa Tengah, Florentinus Nurtitus, Jumat (26/9).
Pihaknya mengakui adanya keprihatinan dalam rentetan kasus-kasus keracunan yang dialami para siswa sekolah.
Terlebih lagi dari penelusuran yang dilakukan pihaknya, banyak kepala dapur SPPG yang belum memiliki pengalaman yang mumpuni di bidangnya.
"Ini jadi keprihatinan buat kami. Sebab kepala SPPG belum tentu punya pengalaman di bidangnya. Namun yang pasti para tenaga ahli gizi yang tugasnya di SPPG orang baru yang minim pengalaman," ungkapnya.
Dengan banyaknya kasus keracunan siswa yang mengonsumsi masakan program makan bergizi gratis (MBG) karena pelaksanaan di lapangan terkesan dipaksakan. Akibatnya, proses pengawasan tidak dilakukan instansi terkait.
"Kegiatan MBG itu dipaksakan untuk segera dikerjakan. Sedangkan tempat pengolahan di setiap SPPG sampai saat ini pengawasan dari instansi terkait tidak nampak. Seperti Dinkes juga tidak ada pengawasan. Persagi tidak dilibatkan untuk pengawasan padahal anggota kami ada di situ," kata dia.
Maka dia menyarankan kepada masing-masing SPPG memperhatikan pola pemilihan bahan baku hingga waktu pendistribusian masakan MBG untuk mengevaluasi standar operasional prosedurnya.
Ia bilang memang banyak yang perlu diperbaiki dalam pelaksanaan MBG. Karena adanya kasus keracunan yang dialami para siswa cukup memprihatinkan mengingat banyak di antara mereka yang jatuh sakit.
"Jadi perlu banyak hal yang dievaluasi. Karena akhirnya banyak anak yang jatuh sakit. Imbuan kami, jangan lagi memberikan menu yang tidak sesuai dengan asupan gizi. Misalnya kalau siswa tidak biasa minum susu ya pasti intoleran pencernaan, maka harus dikaji agar jangan sampai terjadi lagi," katanya.