Perkuat Narasi Kebangsaan buat Lawan Propaganda Radikal Sasar Generasi Muda di Dunia Maya
Ancaman intoleransi meski tak selalu tampak di permukaan tetap harus diwaspadai
Delapan dekade merdeka Indonesia masih menghadapi tantangan serius dalam menjaga persatuan dan keamanan bangsa. Ancaman intoleransi meski tak selalu tampak di permukaan tetap harus diwaspadai.
Mantan narapidana terorisme Suryadi Mas'ud mengatakan, perayaan kemerdekaan seharusnya menjadi momen untuk mengingat pengorbanan para pahlawan merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Ia menyebut, banyak orang terjerumus ke paham radikal karena minim pengetahuan sejarah bangsa.
"Saya dulu hanya menerima narasi keagamaan dan sejarah dari satu sisi, tanpa pembanding. Saat SMA, saya mulai melihat Indonesia sebagai negara yang batil. Saya tidak memikirkan perjuangan para pahlawan," sesal Suryadi dalam keterangannya, Selasa (12/8).
Ia juga menyoroti masifnya penyebaran propaganda radikal di dunia maya. Generasi muda, khususnya Gen-Z, menjadi target empuk bukan hanya karena isi pesannya, tetapi juga kemasannya yang kreatif dan menarik.
"Anak-anak tidak bisa menerima narasi kebangsaan membosankan. Gaya penyampaiannya harus sesuai zaman. Kisah para pahlawan harus diangkat agar generasi muda mengerti pentingnya menjaga keutuhan bangsa," tegasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menyesuaikan pesan pencegahan radikalisme dengan kondisi budaya setempat.
"Jangan memaksakan narasi umum yang tidak sesuai dengan lingkungan sasaran. Sayang sekali jika sumber daya sudah keluar, tapi pesannya tidak mengena," tandasnya.
Diketahui, Suryadi pernah bergabung dengan Al Qaeda di Moro, Filipina, terlibat dalam Bom Bali I sebagai pengirim bahan baku, Bom McDonald Makassar, hingga serangan teroris di Sarinah, Thamrin.
Ia tiga kali keluar masuk penjara, hingga titik balik terjadi saat mendekam di Lapas Pasir Putih.