Pemadaman Karhutla Parimo: BPBD Andalkan Alat Manual di Tengah Medan Berat
Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong (Pemkab Parimo) mengandalkan alat manual seperti tangki semprot dan mesin alkon untuk pemadaman Karhutla di wilayahnya, terutama di medan sulit.
Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong (Pemkab Parimo) terus berupaya keras mengendalikan situasi ini. Fokus utama penanganan adalah memaksimalkan penggunaan alat manual untuk memadamkan api.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Parigi Moutong, Moh Rivai, menjelaskan bahwa alat seperti tangki semprot dan mesin alkon sangat vital. Peralatan ini digunakan untuk memompa air, khususnya saat menangani titik api di area pegunungan yang sulit dijangkau. Strategi ini terbukti efektif dalam upaya Pemadaman Karhutla Parimo.
Meskipun membutuhkan tenaga ekstra dari tim di lapangan, metode pemadaman manual ini dinilai berhasil. Hingga Sabtu (7/2) sore, nyala api dilaporkan sudah tidak terlihat di banyak lokasi terdampak. Tim juga melakukan pembersihan menyeluruh untuk memastikan tidak ada bara api yang tersisa.
Strategi Pemadaman di Medan Sulit
Kendaraan pemadam kebakaran (damkar) memang dioperasikan di wilayah yang mudah diakses. Namun, untuk daerah yang medannya sulit dijangkau, mesin alkon dan tangki semprot menjadi tulang punggung operasi. Ini menunjukkan adaptasi Pemkab Parimo dalam menghadapi tantangan geografis.
Moh Rivai dari BPBD Parimo menekankan efektivitas pendekatan ini. Proses Pemadaman Karhutla Parimo tidak hanya berfokus pada pemadaman api, tetapi juga pada pendinginan area. Tujuannya adalah mencegah api kembali menyala dari sisa-sisa bara.
Kerja keras tim terpadu membuahkan hasil signifikan. Sebagian besar api berhasil dikendalikan berkat koordinasi yang baik. Meskipun demikian, beberapa titik api di pegunungan masih terus diatasi oleh tim gabungan.
Luas Lahan Terdampak dan Kekuatan Tim Terpadu
Data sementara hasil asesmen BPBD Parigi Moutong menunjukkan peningkatan luas lahan terdampak Karhutla. Hingga hari ketujuh, total lahan yang terbakar mencapai 147 hektare. Angka ini meningkat signifikan dari sebelumnya sekitar 90 hektare yang tercatat.
Beberapa lokasi yang terdampak parah meliputi Dusun IV Desa Toboli dan Dusun I Desa Avolua dengan 29 hektare. Kemudian, Dusun II dan III Desa Avolua mencatat 99 hektare lahan terbakar. Perbatasan Desa Avodan, Kecamatan Parigi Utara, dan Uevolo, Kecamatan Siniu, juga terdampak 19,66 hektare, serta Desa Towera, Kecamatan Siniu, seluas 2,2 hektare. Luasnya area ini menunjukkan skala tantangan Pemadaman Karhutla Parimo.
Upaya Pemadaman Karhutla Parimo didukung oleh tim terpadu yang sangat besar, melibatkan berbagai instansi. Total personel mencapai 334 orang, termasuk 70 orang dari pemadam kebakaran, 10 orang Manggala Agni KLHK, 10 orang TRC BPBD Sulteng, 17 orang TRC BPBD Parigi Moutong, 130 orang TNI, dan 40 orang Polri.
Selain itu, dukungan juga datang dari Dinsos/Tagana (12 orang), Badan Penataan Bangunan, Prasarana dan Kawasan (BPBPK) Sulteng, Dinas PU, Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) (masing-masing 2 orang), Dinas Kesehatan (8 orang), PMI (6 orang), serta relawan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) (10 orang) dan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) (15 orang). Tim ini juga dilengkapi 12 kendaraan operasional, termasuk tiga mobil damkar dan mobil tangki suplai air, serta 70 unit tangki semprot. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi kunci keberhasilan dalam mengendalikan bencana Karhutla.
Sumber: AntaraNews