Pasutri Korban Selamat Kecelakaan Bus ALS–Truk Tangki di Muratara Jalani Operasi Kedua
Keduanya baru saja menjalani tindakan operasi debridement kedua untuk menangani luka yang diderita akibat insiden tersebut.
Pasangan suami istri asal Pati, Jawa Tengah, Ngadiono (44) dan Jumiatun (35), yang merupakan korban selamat dalam kecelakaan maut antara bus ALS dan truk tangki di Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan, kini masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Keduanya baru saja menjalani tindakan operasi debridement kedua untuk menangani luka yang diderita akibat insiden tersebut. Sementara itu, kecelakaan tragis ini sebelumnya dilaporkan menewaskan 18 orang dan menyebabkan 3 orang lainnya mengalami luka-luka.
Tindakan operasi debridement kedua dilakukan dI RS Bhayangkara Mohammad Hasan Palembang, Senin (11/5). Keduanya sempat menjalani operasi pertama di RSUD Rupit Muratara sebelum akhirnya dirujuk ke Palembang untuk perawatan lebih lanjut.
"Kedua pasien ini akan kita operasi yang kedua hari ini," ungkap Kepala RS Bhayangkara Mohammad Hasan Palembang Kombes Pol Budi Susanto.
Mencegah Infeksi
Budi menjelaskan, operasi debridement kedua merupakan tindakan medis untuk mengangkat jaringan kulit mati, mengambil benda asing, rusak, terinfeksi dari luka guba mempercepat penyembuhan dan mencegah infeksi lebih lanjut. Dalam kasus-kasus luka bakar yang ditangani, kerap kali ada benda lain yang menempel di tubuh korban hingga menyebabkan infeksi.
"Operasi debridement akan kita lakukan beberapa kali," kata Budi.
Budi menjelaskan, kondisi pasien Ngadiono semakin menunjukkan perkembangan signifikan. Dia sudah bisa makan, diajak komunikasi, dan tanpa bantuan alat pernapasan.
"Pasien Ngadiono sudah bisa makan bubur," kata Budi.
Luka Bakar 90 Persen
Namun nasib kurang beruntung dialami istri Ngadiono, Jumiatun.
Wanita ini mengalami luka bakar 90 persen hingga luka bakarnya terjadi trauma du area saluran pernapasan dan saluran cerna.
Kondisi ini membuat Jumiatun tak bisa lepas dari ventilator untuk memastikan saluran pernapasannya berfungsi secara normal. Jumiatun juga belum sadar dengan alasan medis.
"Pasien kita tidurkan dengan obat tidur supaya tidak merasakan nyeri yang hebat atau komplikasi akibat syok," katanya.